SumutNews, Aden, Yaman — Dua rudal yang dilesakkan kelompok milisi Houthi menghantam kawasan Bandara Internasional Aden, Yaman, pada Jumat malam, 16 Oktober 2026. Serangan terjadi saat sebuah pesawat komersial berpenumpang tengah bersiap melakukan lepas landas.
Menteri Informasi Yaman, Moammar Al-Eryani, mengonfirmasi insiden tersebut dan memastikan tidak ada korban jiwa dalam serangan ini.
“Rudal jatuh sekitar 500 meter dari pesawat dan 100 meter dari titik tengah landasan pacu,” kata Al-Eryani melalui unggahan di platform sosial media X, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pesawat yang menjadi sasaran berada di area bahaya tersebut adalah milik maskapai Yemenia Airways dengan nomor penerbangan IY612 tujuan Kairo, Mesir. Al-Eryani memastikan seluruh penumpang dan awak pesawat selamat dari maut.
Ia mengecam keras aksi tersebut dan menilai penyerangan terhadap fasilitas penerbangan sipil sebagai bentuk kejahatan berat.
Menurutnya, serangan ke bandara komersial bukanlah sebuah pencapaian militer.
“Menargetkan bandara sipil yang melayani puluhan penerbangan harian bukanlah prestasi militer atau kemenangan yang patut dibanggakan. Ini adalah ancaman langsung terhadap keselamatan penerbangan sipil dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional,” ujar Al-Eryani.
Al-Eryani menambahkan, keberadaan bandara tersebut amat krusial bagi rakyat Yaman, terutama untuk akses pengobatan warga yang sakit, mahasiswa yang hendak menuntut ilmu, serta sarana mobilitas masyarakat di tengah konflik.
Serangan ke Bandara Aden ini terjadi hanya berselang satu hari setelah milisi yang didukung Iran tersebut menggempur kompleks Istana Kepresidenan di Aden. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Yaman, serangan di istana kepresidenan sehari sebelumnya menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 16 orang lainnya.
Kota pelabuhan Aden sendiri telah menjadi pusat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015, menyusul pecahnya perang saudara yang melumpuhkan negara tersebut.
Pemerintah Yaman menegaskan bakal terus bekerja sama dengan Koalisi Arab pimpinan Arab Saudi untuk melindungi fasilitas vital negara serta menghadapi ancaman kelompok Houthi. (SN17)