Medan, SUMUTNEWS.CO – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal, terutama kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, kurs rupiah pada Senin (21/9/2026) berada di level Rp17.813 per dolar AS. Angka tersebut naik dibandingkan posisi Rp17.745 per dolar AS pada perdagangan Jumat (18/9/2026).
Dengan demikian, rupiah melemah sekitar 0,38 persen secara harian. Dalam sepekan terakhir, rupiah juga tercatat mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Rupiah Tertekan Harga Minyak Dunia
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent sempat berada di atas US$100 per barel seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi akibat konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan memengaruhi prospek fiskal sejumlah negara.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap rupiah antara lain berasal dari sentimen geopolitik, kebutuhan valuta asing (valas) importir, serta arus keluar dana dari aset portofolio domestik.
“Sentimen ini meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal. Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis.
BI Siapkan Intervensi Pasar
Bank Indonesia menyatakan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi.
Langkah stabilisasi dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dan penguatan strategi operasi moneter.
BI juga akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar serta menjaga kecukupan likuiditas melalui transaksi yang mendukung kebutuhan swap lindung nilai.
Erwin mengatakan intervensi akan dilakukan secara konsisten melalui sejumlah instrumen di pasar valuta asing, baik offshore maupun domestik.
“Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” ujar Erwin.
Cadangan Devisa Indonesia Naik
Di tengah tekanan terhadap rupiah, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai.
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
BI menilai posisi cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
BI Dorong Arus Modal Asing
Selain intervensi di pasar valuta asing, BI juga terus berkoordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong masuknya modal asing ke Indonesia.
Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan mengoptimalkan berbagai insentif serta melakukan diversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Bank sentral juga akan terus memantau perkembangan pasar global dan domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Dengan demikian, pergerakan kurs rupiah dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi perkembangan sentimen global, terutama kondisi geopolitik dan pergerakan harga komoditas energi.