SumutNews.Co, RIYADH — Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menggelar komunikasi langsung pada Minggu, 11 Oktober 2026. Kontak diplomatik tingkat tinggi ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan secara terbuka sejak gelombang serangan udara baru menghantam sejumlah infrastruktur vital di Arab Saudi.
Dalam percakapan tersebut, kedua menteri membahas eskalasi keamanan terbaru serta upaya bersama untuk meredam ketegangan. Menurut laporan kantor berita resmi Arab Saudi, SPA, Menlu Iran Abbas Araqchi menyatakan kesiapan Teheran untuk memberikan bantuan guna memfasilitasi dialog antara Riyadh dan pihak-pihak di Yaman.
Eskalasi mendadak ini dipicu oleh serangan rudal dan proyektil mematikan yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta Bandara King Fahd di Dammam.
Serangan yang disebut dilakukan oleh kelompok milisi Houthi yang dukungan Iran tersebut menewaskan setidaknya 13 orang, termasuk warga asing dan melukai ratusan lainnya.
Peristiwa ini tercatat sebagai serangan paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari 10 tahun terakhir, sekaligus mencemaskan dunia tentang keselamatan penerbangan sipil dan kedamaian kawasan.
Ujian Berat di Balik Rekonsiliasi Beijing
Ketegangan terbaru ini menjadi ujian paling nyata bagi stabilitas hubungan diplomatik antara Riyadh dan Teheran. Sebelumnya, kedua kekuatan regional tersebut sempat mencairkan hubungan setelah menyepakati pemulihan diplomatik penuh di Beijing pada Maret 2023, dimediasi oleh Cina, setelah terputus selama tujuh tahun.
Kendati kedutaan besar kedua negara telah dibuka kembali dan komunikasi tingkat tinggi berjalan intensif, rivalitas strategis dan ketidakpercayaan mendasar terkait dinamika politik di Yaman dan jalur perdagangan Laut Merah belum sepenuhnya terselesaikan.
Ketegangan kembali meruncing ketika friksi di Yaman mendidih kembali, memicu serangkaian tindakan balasan yang menyeret kedua negara ke dalam pusaran krisis keamanan.
Jaringan Diplomasi Darurat dan Reaksi Internasional
Di tengah situasi yang meruncing, Riyadh langsung mengaktifkan jalur diplomasi multilateral guna menggalang solidaritas internasional.
Pangeran Faisal bin Farhan tercatat menerima serangkaian panggilan telepon dari para petinggi diplomatik dunia.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, dengan tegas mengecam serangan tersebut sebagai tindakan teroris yang tidak dapat dibenarkan terhadap infrastruktur sipil.
Kallas juga menekankan pentingnya kerja sama regional dalam menjaga keamanan maritim.
Dukungan serupa datang dari Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband, yang mengutuk serangan Houthi terhadap fasilitas sipil Arab Saudi sekaligus menegaskan solidaritas London terhadap Kerajaan dan pemerintah Yaman yang sah.
Pesan senada juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al-Zayani dan Menlu Yordania Ayman Safadi, yang memuji respons cepat otoritas Saudi dalam memberikan penanganan medis bagi warga asing maupun domestik yang menjadi korban luka.
Hingga kini, komunitas internasional mendesak adanya de-eskalasi yang komprehensif guna mencegah meluasnya konflik terbuka di Timur Tengah. (SN17)