SumutNews.co — Serangan udara brutal menghantam kawasan perumahan di kota Zaporizhzhia, Ukraina, pada Sabtu (10/10/2026). Gempuran yang menggunakan bom luncur (glide bombs) itu menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk tiga anak-anak.
Tragedi ini terjadi hanya berselang sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pencabutan sanksi ekspor solar (diesel) terhadap Moskow.
Keputusan Washington tersebut langsung memicu gelombang kemarahan di Kyiv, dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy melontarkan kritik paling tajamnya terhadap Gedung Putih sejak perang berkecamuk.
”Hari ini, Rusia mengucapkan terima kasih atas pencabutan sanksi ekspor solar oleh Amerika dengan menjatuhkan lima bom luncur ke gedung-gedung perumahan di Zaporizhzhia,” ujar Zelenskyy dengan nada telak.
Pertaruhan Energi dan Kekecewaan Kyiv
Kebijakan kontroversial Donald Trump untuk melonggarkan sanksi minyak solar Rusia diambil di tengah upaya pemerintahannya meredam lonjakan harga bahan bakar di AS, yang terdampak oleh konflik dengan Iran.
Di sisi lain, Trump kerap melontarkan kritik terhadap serangan drone Ukraina yang menyasar kilang-kilang minyak Rusia karena dinilai ikut mendongkrak harga energi global.
Namun, langkah sepihak Washington ini membuat delegasi Ukraina terkejut. Keputusan tersebut diambil tepat ketika pejabat Ukraina dan Eropa tengah merundingkan proposal perdamaian bersama para negosiator AS di Miami, Florida.
Bagi Kyiv, pelonggaran tekanan ekonomi ini justru dibaca Moskow sebagai lampu hijau untuk meningkatkan eskalasi militer.
“Malam tadi kembali memberikan konfirmasi bahwa Rusia menganggap pelonggaran tekanan sebagai sinyal untuk terus menjatuhkan bom ke kota-kota. Sinyal yang berbeda sangat dibutuhkan,” tegas Zelenskyy.
Gelombang Serangan Terbesar dan Krisis Listrik
Serangan di Zaporizhzhia merupakan bagian dari rentetan tiga serangan massal berkorban jiwa besar yang dilancarkan Rusia dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, hampir 80 warga sipil tewas akibat hantaman bom di Kramatorsk dan Pryluky.
Selain Zaporizhzhia, ibu kota Kyiv juga diguncang gelombang serangan drone terbesar sejak awal invasi. Hantaman rudal dan drone Rusia menghancurkan pusat data serta infrastruktur vital, membuat sebagian wilayah Kyiv dan sekitarnya mengalami pemadaman total.
Jaringan kereta bawah tanah (metro) di kota tersebut bahkan terpaksa dihentikan untuk kedua kalinya dalam sepekan akibat krisis pasokan listrik.
Di tengah situasi yang kian memanas, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa perundingan damai secara langsung masih sulit segera terwujud, menyusul rangkaian serangan drone Ukraina yang terus diarahkan ke wilayah Moskow.
Duka di Garis Depan Industri
Zaporizhzhia adalah kota industri dengan populasi pra-perang mencapai 700.000 jiwa yang letaknya kurang dari 30 kilometer dari garis depan, telah lama menjadi target pengeboman intensif. Namun, serangan kali ini menyisakan trauma mendalam.
Salah satu korban tewas adalah anak perempuan berusia 6 tahun. Kakek korban, Anatoliy Chumniy, tak kuasa menahan tangis di samping jasad cucunya yang terbungkus kantong putih setelah dievakuasi dari reruntuhan blok apartemen yang hancur lebur.
”Ulang tahunnya seharusnya akhir bulan ini,” ucapnya terbata-bata di tengah puing bangunan. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 18 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran yang terjadi di waktu subuh tersebut. (SN17)