Hadapi Karhutla Kalteng: Operasi Darat, Udara, dan Pemindahan Armada

SumutNews.Co​JAKARTA — Pemerintah menerapkan sejumlah langkah taktis dan penyesuaian armada untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Kalimantan Tengah. Strategi gabungan ini mencakup penyisiran jalur darat hingga pemadaman udara.

​Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memfokuskan pemadaman water bombing dan penyisiran darat ke titik-titik krusial, seperti kawasan Sungai Perlu dan Sungai Tanjung Rengas. Untuk mendukung efektivitas penanganan, armada pengebom air dari kawasan yang situasi karhutlanya sudah mulai terkendali, seperti Provinsi Riau, turut dievaluasi untuk digeser ke lokasi terdampak.

Baca juga:  8 Tersangka Kasus Jalan Sumut Masih Misteri, Belum Ada Nama dari Tabagsel

​ Pemindahan Pangkalan Helikopter Water Bombing

​Meskipun terdapat enam unit helikopter water bombing yang telah disiagakan di Kalimantan Tengah (termasuk di Palangka Raya dan Pangkalan Bun), operasi pemadaman udara sempat terhambat akibat kendala navigasi penerbangan.

​”Visibility minimum untuk penerbangan itu 5.000 meter. Kondisi saat ini tidak memungkinkan helikopter untuk terbang,” jelas Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/10/2026).

​Sebagai solusinya, pemerintah merencanakan pemindahan basis helikopter ke Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, karena menawarkan jarak pandang yang jauh lebih baik.

Baca juga:  Gibran Terbukti Tidak Punya Ijazah oleh Putusan Mahkamah Konstitusi: Curang & Bohong?

“Daripada bertahan di Syamsudin Noor, mungkin lebih efektif jika kita tarik ke Kuala Pembuang,” tambah Raja Juli.

​ Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

Dialihkan ke Banjarmasin
​Selain penanganan udara langsung, pemerintah memfokuskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 15–16 Oktober 2026.

Namun, terbatasnya jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut (Palangka Raya) dan Bandara Iskandar (Pangkalan Bun) memaksa penerbangan pesawat penyemai awan tersebut dialihkan keberangkatannya dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Baca juga:  Polemik Ijazah Gibran: Anggota Fraksi Golkar Terima AKSI di Gedung DPR RI, Ahmad Doli Kurnia Ingatkan Pentingnya Demokrasi Terbuka

​Menhut menegaskan bahwa efektivitas penyemaian awan hujan ini sangat bergantung pada faktor cuaca lokal.

Ia berharap kondisi meteorologi mendukung ketersediaan bibit awan hujan agar hujan buatan dapat tercipta secara maksimal. (SN08)

Berita Terbaru

Kondisi Kejiwaan Menggerogoti Organ: Refleksi 1001 Tahun Buku Al-Qanun fī at-Tibb Karangan Ibnu Sina

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran Kita hitung dari pada tahun 2026...

Singapura Bidik Korporasi Penyebab Karhutla di Indonesia

SumutNews.co Singapura — Langit Singapura mendadak kelam dengan Pekatnya...

Belum Ada Perubahan, 3 Bulan Pimpin Desa Parsalakan, Kondisi Kantor Masih Tak Terawat

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan — Tiga bulan berlalu sejak pergantian...

Di Balik Masuknya Sumut ke Nominasi Jamsostek Award 2026: Pertaruhan Fiskal dan Jaring Pengaman Pekerja Rentan

SumutNews.co, JAKARTA — Di atas kertas, pencapaian ini menjadi...

Desak Israel Hentikan Permukiman di Tepi Barat, Tiongkok: Masalah Palestina Ketidakadilan Sejarah Terbesar

SumutNews.co, Beijing — Pemerintah Tiongkok mempertegas posisinya dalam menyuarakan...

Berita Terkait