SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan – Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu hadir langsung meresmikan Bendungan Batu Tunggal di Kelurahan Batangtura Sirumambe, Kecamatan Angkola Timur, Jumat (25/9/2026).
Bendungan yang dibangun dengan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp1,2 miliar itu kini kembali mengalirkan air untuk mengairi sawah masyarakat.
Peresmian tersebut berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan rasa syukur. Rangkaian acara ditandai dengan tepung tawar (menyantan) adat Tapsel, yang menjadi simbol doa dan harapan agar bendungan yang telah dibangun dapat memberikan manfaat besar dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Hadirnya kembali Bendungan Batu Tunggal menjadi bagian dari langkah Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dalam memulihkan infrastruktur pertanian yang mengalami kerusakan pada Tahun 2024 yang lalu.
Sebelumnya, kerusakan bendungan menyebabkan distribusi air ke areal persawahan warga terganggu sehingga turut memengaruhi aktivitas dan produktivitas pertanian masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Gus Irawan mengatakan bahwa di tengah keterbatasan anggaran, pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara selektif dengan mengutamakan kebutuhan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kalaupun kita membangun infrastruktur, prioritasnya adalah infrastruktur yang mendukung sektor pertanian,” ujar Gus Irawan.
Menurutnya, pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi perhatian penting Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, terutama dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.
Karena itu, kata Bupati, pemerintah daerah harus terus turun ke lapangan untuk melihat secara langsung kondisi, kebutuhan dan potensi masyarakat di desa maupun kelurahan. Dengan demikian, pembangunan yang dilaksanakan dapat benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Jangan sampai pembangunan yang kita lakukan tidak menyentuh kebutuhan masyarakat. Kita harus melihat langsung apa yang dibutuhkan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan pertanian dan penguatan ekonomi,” ujarnya.
Bupati menegaskan, pembangunan kembali Bendungan Batu Tunggal bukan semata-mata membangun infrastruktur fisik, tetapi merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tapsel Fahri Ananda melalui Kepala Bidang terkait, Arlan Pasaribu, menjelaskan bahwa pembangunan kembali Bendungan Batu Tunggal mulai dikerjakan pada awal Agustus 2026 dan selesai pada 14 September 2026.
Pembangunan tersebut menghabiskan anggaran sekitar Rp1,2 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun Anggaran 2026.
Setelah kembali berfungsi, Bendungan Batu Tunggal diharapkan mampu mendukung pengairan areal persawahan masyarakat seluas lebih dari 200 hektare di kawasan Batangtura Sirumambe dan sekitarnya.
Bagi masyarakat, berfungsinya kembali bendungan tersebut menjadi kabar baik. Pasalnya, selama bendungan mengalami kerusakan, pasokan air ke lahan persawahan warga mengalami gangguan yang berdampak terhadap aktivitas pertanian.
Salah seorang warga Kelurahan Batangtura Sirumambe, Paringgonan Siregar, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, khususnya Bupati Gus Irawan, atas pembangunan kembali bendungan tersebut.
“Terima kasih kepada Bupati Tapanuli Selatan. Dengan dibangunnya kembali bendungan ini, sawah kami sekarang sudah bisa dialiri air,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Tapanuli Selatan Armen Sanusi Harahap yang mewakili masyarakat Batangtura Sirumambe. Ia menyampaikan rasa syukur atas kembali berfungsinya infrastruktur pengairan yang sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya para petani.
Ia juga mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan serta jajaran organisasi perangkat daerah terkait yang telah mendukung percepatan pembangunan kembali Bendungan Batu Tunggal.
Selain peresmian bendungan, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pelepasan benih ikan untuk program lubuk larangan. Sebanyak 1.500 ekor ikan dilepas ke perairan, terdiri atas 200 ekor ikan jurung, 500 ekor ikan tawes dan 800 ekor ikan nila.
Bupati Gus Irawan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga bendungan dan ekosistem perairan di sekitarnya. Menurutnya, pembangunan yang telah menggunakan anggaran daerah harus dirawat bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Jangan hanya dibangun, tetapi harus dirawat dengan baik sehingga manfaatnya bisa maksimal untuk masyarakat dan sektor pertanian,” pesannya.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga kelestarian sumber daya perairan melalui pengelolaan lubuk larangan secara bersama-sama. Penebaran benih ikan diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan ekosistem perairan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pada masa mendatang.
Tokoh masyarakat Adam Siregar mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum syukuran sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat setelah Bendungan Batu Tunggal kembali berfungsi.
“Kita bersyukur karena bendungan ini kembali berfungsi. Sekaligus hari ini kita menyaksikan pengisian ikan untuk lubuk larangan,” ujarnya.
Sebagai wujud rasa syukur atas selesainya pembangunan bendungan, masyarakat juga menggelar acara syukuran dengan memotong seekor lembu.
Dengan kembali berfungsinya Bendungan Batu Tunggal, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan berharap aktivitas pertanian masyarakat dapat kembali berjalan optimal, produktivitas lahan meningkat, serta ketersediaan air untuk persawahan lebih terjamin.
Pembangunan bendungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pemkab Tapsel dalam mengarahkan pembangunan infrastruktur kepada kebutuhan yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat, khususnya dalam memperkuat sektor pertanian, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Kehadiran langsung Bupati Gus Irawan dalam peresmian tersebut juga menegaskan perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan infrastruktur dasar yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat di tingkat kelurahan dan desa. (SN11)