SUMUTNEWS.CO, Medan — Menembus labirin kawasan pesisir Medan bukan perkara mudah bagi aparat penegak hukum. Selama bertahun-tahun, stigma “zona merah” melekat kuat, menyembunyikan peredaran gelap narkotika yang mengakar di balik permukiman padat dan mengundang keresahan akibat tingginya angka kriminalitas penyerta.
Namun, angin perubahan perlahan berhembus dari sudut utara kota ini. Polrestabes Medan bersama para pegiat lingkungan merintis strategi baru, yakni mengganti rantai pasok barang haram dengan deretan pohon mangrove dan denyut ekonomi warga.
Upaya transformatif tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif “Aspirasi Sumut” di Programa 1 LPP RRI Medan pada Rabu (4/11/2026).
Hadir dalam ruang gelar wicara tersebut, Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Jean Calvijn Simanjuntak dan aktivis lingkungan Rumah Mangrove Indonesia Sumut, Wibi Nugraha, membedah pendekatan di balik perubahan wajah kawasan rawan tersebut.
Bagi Jean Calvijn, penegakan hukum yang bersifat represif semata terbukti tidak pernah cukup untuk memutus rantai peredaran narkotika hingga ke akar-akarnya.
Karena itu, pihaknya mengombinasikan tindakan tegas dengan pembersihan kawasan secara total, pendampingan masyarakat, serta pencegahan sejak dini.
Wilayah-wilayah seperti Bagan Deli dan Kampung Nelayan Seberang , yang dulunya diidentifikasi sebagai basis peredaran narkoba yang sulit disentuh, kini disulap melalui penanaman pohon, penataan lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Menurut Jean Calvijn, keberhasilan ini tidak lepas dari keberanian masyarakat setempat yang mulai bangkit, berani melapor, dan bahu-membahu menjaga keamanan lingkungan mereka.
Dari sudut pandang ekologis, Wibi Nugraha mencatat bahwa kerusakan lingkungan dan tingginya angka kriminalitas sering kali lahir dari rahim kawasan yang kumuh dan terabaikan.
Melalui gerakan penanaman mangrove, pembersihan sungai, serta edukasi ekologis yang melibatkan anak-anak muda, pesisir Medan perlahan dipulihkan.
Lingkungan yang hijau dan terawat, menurut Wibi, secara psikologis mampu mendorong pergeseran perilaku warga ke arah yang lebih positif dan produktif.
Kendati demikian, para narasumber sepakat bahwa ujian terberat dari transformasi ini terletak pada aspek keberlanjutan.
Mengubah zona merah menjadi hijau menuntut konsistensi jangka panjang serta kolaborasi lintas sektor yang erat, melibatkan kepolisian, aktivis, pemerintah daerah, dan ketahanan komunitas lokal, agar warga tidak kembali terjerumus ke dalam lingkaran hitam penyalahgunaan narkotika. (SN06/RRI)