SUMUTNEWS.CO, MEDAN – Fraksi Partai Demokrat (FPD) sayangkan besarnya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SiLPA) gaji pegawai pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan Tahun Anggaran (TA) 2025.
Fraksi Partai Demokrat (FPD) sayangkan besarnya SiLPA gaji pegawai dalam pemandangan umum fraksi terhadap Penjelasan Wali Kota Medan atas Laporan Pertanggungjawaban (LPj) Penggunaan APBD 2025 disampaikan, Muslim, dalam rapat paripurna DPRD Kota Medan, Senin (15/6/2026).
Rapat paripurna di pimpin Ketua DPRD Kota Medan Wong Cun Sen bersama Wakil Ketua Zulkarnaen. Hadir saat itu Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, Sekda Wiriya Alrahman, para anggota DPRD serta sejumlah pimpinan OPD Pemkot Medan.
Jika gaji dan tunjangan sampai SiLPA mencapai Rp350 miliar, menurut Muslim, sudah berapa banyak dapat memperbaiki jalan, gang-gang serta drainase di wilayah Kota Medan. “Kalau SiLPA di proyek dan perjalanan dinas masih bisa kita maklumi. Kalau gaji dan tunjangan sampai SiLPA, terlalu “bodoh” kita memperhitungkan gaji dan tunjangan pegawai. Ini harus menjadi perhatian serius pada anggaran 2027 nanti,” kataya.
Saat ini, kata Muslim, Kota Medan mendapat proyek Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sayangnya, kata Muslim, proyek tersebut harus mengorbankan hampir 3.000 batang pohon yang sudah ditanam hampir 20 tahun lamanya oleh Pemkot Medan.
“Sebenarnya, sedih kita melihat pohon-pohon itu ditebang. Harusnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan melakukan antisipasi demi proyek nasional ini,” katanya.
Menurut Sekretaris Fraksi Partai Demkrat itu, ada alat yang bisa dibeli untuk memindahkan pohon yang telah ditanam di badan jalan tanpa harus menebang atau mematikan pohon tersebut, seperti yang dilakukan di kota-kota besar lain di Indonesia.
Muslim bercerita, dirinya pernah bertugas di Dinas Pertamanan pada tahun 1984. Saat itu melihat DLH menanam pohon di Medan Labuhan tidak lebih dari 0,5 meter. “Kalau seperti ini, ditanam 1.000 pohon paling yang hidup cuma 100 pohonn saja. Kalau hanya 0,5 meter ditanam, berapa puluh tahun kita menunggu untuk mengganti 3.000 pohon yang ditebang itu. Jadi, DLH harus belajar ke kota-kota besar bagaimana mencari pohon-pohon yang besar,” pintanya.
Muslim juga bercerita, sudah dikritik ahli lingkungan saat menaman pohon-pohon tersebut di pulau jalan. Sebab, di dalam atau di bawah pulau jalan itu aspal. “Kita tanam 0,5 meter, tidak mungkin masu ke dalam tanah karena tidak bisa menembus aspal. Makanya akar pohon-pohon itu keluar semua dan tumbang saat diterpa angin kencang,” katanya.
Baru-baru ini, sebut Muslim, ada sekitar 80 pohon tumbang di Kota Medan. “Itu bukan karena keropos, tapi akar pohon itu tidak masuk kedalam tanah. Ini pelajaran bagi kita semua, terutama DLH. Tolong dicari cara agar akar pohon itu masuk kedalam tanah dan tidak mengambang di atas aspal. Ini menjadi atensi kami, dimana DLH mau menanam pengganti 3.000 pohon yang ditumbangkan itu,” tanya Muslim. (SN01)






Komentar