MERAWAT SUMPAH PEMUDA DIERA DISRUPSI

Oleh: Moechtar Nasution
Direktur Forum Lingkar Studi Tulila

Setiap kali tanggal 28 Oktober tiba, ruang publik kita mendadak riuh oleh gema ikrar legendaris tahun 1928. Bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Kalimat-kalimat sakti itu kerap diteriakkan dengan kepalan tangan ke udara, membangkitkan romansa perjuangan fisik melawan kolonialisme. Namun, jika mesin waktu membawa para pemuda tahun 1928 ke hari ini, mereka mungkin akan tercengang. Penjajah tak lagi memakai seragam militer atau membawa senapan. Mereka datang dalam bentuk algoritma yang senyap, big data yang tak kasat mata, dan kecerdasan buatan (AI) yang mendikte isi kepala kita.

Hari ini, kita tidak lagi sekadar hidup di dunia fisik. Kita berada di gerbang Society 5.0—sebuah cetak biru peradaban di mana dunia siber dan dunia nyata melebur. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi bagian dari organ tubuh sosial kita. Pertanyaannya: di mana posisi jangkar kultural bernama Sumpah Pemuda dalam labirin digital ini?

Kedaulatan di Ruang Siber

Mari kita bedah pilar pertama: “Bertanah air satu”. Di masa lalu, tanah air adalah batas geopolitik yang dijaga dengan darah dan patok perbatasan. Di era disrupsi, tanah air telah meluas ke ruang digital. Sosiolog Manuel Castells menyebut fenomena ini sebagai space of flows, ruang tempat informasi, kapital, dan budaya mengalir tanpa paspor.

Namun, kita harus menatap realitas dengan jujur. Menatap Sumpah Pemuda hari ini artinya juga melihat ketimpangan digital (digital divide) yang masih menganga. Ketika pemuda di kota besar sudah sibuk mengoptimasi Generative AI, saudara-saudara kita di pelosok Nusantara masih harus memanjat pohon demi secuil sinyal internet.

Sumpah Pemuda kehilangan maknanya jika akses teknologi hanya menjadi hak istimewa (privilege) segelintir anak kota. Ketika data pribadi warga kita kerap bocor dan platform asing mengeruk keuntungan dari perhatian (attention economy) pemuda kita tanpa regulasi yang adil, di situ kedaulatan tanah air sedang digerogoti. Menghidupkan Sumpah Pemuda hari ini berarti mengobarkan jiwa patriotik modern, yaitu memperjuangkan kedaulatan digital melalui pemerataan infrastruktur dan teknologi demi keadilan sosial.

Baca juga:  Mengapa Latihan Pramuka Siaga Harus Menyenangkan, tetapi Tetap Terarah?

Solidaritas dan Kewarasan Digital

Pilar kedua, “Berbangsa satu”, kini menghadapi musuh baru yang bernama algoritma echo chamber (bilik gema). Media sosial didesain untuk menyuapi kita dengan konten yang hanya kita sukai. Efek sampingnya mengerikan secara ilmiah: polarisasi akut. Belakangan ini, jagat digital kita bahkan dijangkiti tren brain rot—banjir konten instan berkualitas rendah yang mengikis daya nalar kritis.

Dampaknya terlihat jelas pada riset global Digital Civility Index (DCI) oleh Microsoft, yang menempatkan keadaban digital netizen Indonesia di peringkat bawah (posisi 29 dari 32 negara) akibat tingginya paparan hoaks, ujaran kebencian, dan cyberbullying. Persatuan kita terancam runtuh bukan karena perbedaan suku, melainkan karena disintegrasi kognitif dan perilaku toksik di linimasa.

Tantangan persatuan hari ini juga bergeser ke ruang psikologis (digital well-being). Algoritma media sosial dirancang untuk memanen emosi, memicu kecemasan massal (FOMO), dan jebak pemuda dalam labirin perbandingan sosial yang semu. Di sinilah pentingnya karakter pemuda yang berempati. Sumpah Pemuda di era ini harus dimaknai sebagai gerakan solidaritas untuk saling menjaga waras, membangun etika, dan menyebarkan empati di ruang siber guna merawat kebersamaan kita sebagai satu bangsa.

Paradoks Pendidikan dan Episentrum Bahasa

Transformasi ini menuntut revolusi di bangku sekolah. Sistem pendidikan kita tidak bisa lagi memakai cara lama yang sekadar mendidik anak-anak untuk menghafal—tugas yang kini bisa diselesaikan AI dalam hitungan detik. Paradoks ini tergambar jelas dari rilis data PISA oleh OECD. Meskipun akses pendidikan meluas dengan indeks cakupan (coverage index) yang melonjak mencapai 90%, skor kompetensi dasar siswa Indonesia masih jalan di tempat. Sebanyak 73% siswa kita masih berada di bawah level minimum dalam kemampuan membaca, dan 83% di bawah kemampuan matematika.

Baca juga:  Desain Kebun Kopi Agroforestri Yang Adaptif Iklim

Kita tidak kekurangan anak yang bisa membaca teks, tetapi kita krisis anak yang mampu memahami esensi dan kebenaran dari apa yang mereka baca. Menghadapi ujian berat ini, pemuda dituntut untuk gigih belajar dan melampaui keterbatasan. Yang kita butuhkan saat ini adalah kurikulum yang mengasah kemampuan adaptasi, etika digital, dan penalaran tingkat tinggi—kualitas-kualitas manusiawi yang tak bisa ditiru oleh baris kode komputer manapun.

Di sinilah pilar ketiga, “Berbahasa satu, bahasa Indonesia”, menemukan urgensi barunya. Di era kecerdasan buatan, bahasa adalah Natural Language Processing (NLP). Siapa yang menguasai bahasa dalam sistem AI, dialah yang menguasai narasi masa depan. Bahasa Indonesia harus melompat dari sekadar alat komunikasi pasar menjadi bahasa sains, teknologi, dan prompt engineering (seni perintah AI). Menjaga bahasa Indonesia berarti memastikan identitas dan logika berpikir kultural kita tetap terekam dalam otak kecerdasan buatan masa depan.

Tiga Kompas Konkret Menuju Masa Depan

Nilai-nilai kepemudaan tahun ini diibaratkan oleh filosofi logo Kemenpora bak “Besi yang Menjadi Cahaya”—sebuah proses penempaan keras yang akhirnya melahirkan sinar manfaat. Untuk menjadi cahaya itu, kita memerlukan tiga peta jalan taktis.

Pertama, di level struktural, pemerintah harus mempercepat regulasi kedaulatan data nasional yang melindungi hak-hak digital warganya dari hegemoni korporasi teknologi global. Kita butuh aturan main yang tegas agar bonus demografi kita tidak sekadar berakhir menjadi target komodifikasi data oleh platform luar negeri.

Kedua, institusi pendidikan wajib secara radikal menggeser orientasi kurikulum dari sekadar literasi membaca mekanis menjadi literasi data, digital, dan manusiawi (human literacy). Sekolah harus melatih murid cara memverifikasi informasi dan berpikir kritis menghadapi serbuan kecerdasan buatan, bukan menyuruh mereka menghafal teori yang usang.

Baca juga:  Menggugat Kompas yang Patah: Panggilan Sumpah Pemuda 2026 untuk Merebut Kembali Arah Bangsa

Ketiga, di level akar rumput, generasi muda harus berani menyumpah ulang dirinya untuk bertransformasi dari sekadar konsumen algoritma pasif menjadi produsen solusi. Wujud konkretnya adalah dengan melahirkan inovasi siber lokal dan startup digital sosial yang berfokus pada penyelesaian masalah ketimpangan di daerah kelahirannya masing-masing.

Penutup

Pada akhirnya, merawat Indonesia di sela-sela kepungan kecerdasan buatan bukanlah tentang seberapa canggih gawai di genggaman, melainkan tentang ke mana arah detak jantung kita bermuara. Jika sembilan dekade silam para pemuda sanggup merajut Nusantara yang terfragmentasi lautan hanya dengan modal sebait ikrar dan keberanian, hari ini giliran jemari kita yang memegang kendali. Mari kita ubah riuhnya linimasa dan dinginnya algoritma menjadi ruang baru untuk jatuh cinta lagi pada Indonesia. Lewat untaian kode yang kita susun dengan nurani, serta komitmen untuk saling memeluk kewarasan di balik layar kaca, kita sedang membisikkan sebuah janji zaman: bahwa sejauh apa pun peradaban 5.0 melompat, kehangatan rasa sebagai satu bangsa tak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun.Wallohu Aqlam Bisshawab…

Selamat Hari Sumpah Pemuda..

“Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”

  • Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

Berita Terbaru

Peringati Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Tapsel Perkuat Persatuan dan Komitmen Perangi Narkoba

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Pemkab...

Penemuan Jenazah di Pantai Damar Mini Hebohkan Warga Padangsidimpuan Tenggara

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Pagi ini, warga di kawasan Huta...

Jubir Iran Tuding Amerika Serikat Lecehkan Diplomasi Soal MoU Islamabad

SumutNews.co, Jakarta - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran,...

Komunikasi Kunci Akurasi Berita, Kajari Tapsel Sambut Baik Kunjungan Panitia PWI Tabagsel IX

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan — Panitia Konferensi PWI Tapanuli Bagian...

Menggugat Kompas yang Patah: Panggilan Sumpah Pemuda 2026 untuk Merebut Kembali Arah Bangsa

Oleh: S. Purwadi Mangunsastro Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Sembilan puluh...

Berita Terkait