SUMUTNEWS.CO, New York – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah berlutut atau menyerah menghadapi ancaman militer maupun sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Hal ini ditegaskan Masoud dalam pidatonya di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (24/9/2026).
Pidato Pezeshkian di New York tersebut disampaikan menyusul gertakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sehari sebelumnya, yang mengancam akan meratakan Republik Islam Iran jika kesepakatan damai gagal dicapai.
“Presiden Amerika Serikat menggambarkan kami sebagai teroris. Padahal kamilah yang menjadi korban terorisme. Kami hanya membela diri, kami bukan teroris,” ujar Pezeshkian dari mimbar utama PBB.
Sambil berdiri di hadapan Majelis Umum, Pezeshkian menunjukkan foto-foto korban serangan, termasuk mendiang Pemimpin Agung Ali Khamenei serta anak-anak sekolah yang tewas dalam pengeboman sekolah dasar di Minab.
Ia mengutuk keras insiden tersebut dan menuding persenjataan yang digunakan disuplai oleh Amerika Serikat dan Israel.
Kekuatan Militer Bersifat Defensif
Terkait peningkatan kapasitas militer Teheran, Pezeshkian menegaskan bahwa doktrin pertahanan Iran murni bersifat defensif untuk melindungi kedaulatan tanah air.
Ia mengingatkan agar pihak luar tidak salah mengkalkulasi ketahanan nasional Iran.
“Mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran, dan mereka harus paham bahwa Iran tidak bisa dipaksa untuk menyerah. Kami tidak takut bertahan demi tanah air kami,” katanya menegaskan.
Poin Utama Pidato Presiden Iran di PBB
- Tolak Label Teroris: Menegaskan Iran sebagai korban terorisme atas serangan AS dan Israel, bukan pelaku.
- Bukti Visual: Memperlihatkan foto korban sipil dan anak sekolah korban bom persenjataan Barat.
- Kritik Nuklir: Menyoroti standar ganda Barat, Israel memiliki hulu ledak nuklir tanpa inspeksi, sedangkan Iran dijatuhi sanksi.
- Kedaulatan Selat Hormuz: Menegaskan tidak akan membiarkan jalur laut regional dipakai untuk mengancam Iran.
- Opsi Diplomasi: Terbuka untuk negosiasi dengan AS selama dilakukan tanpa ancaman dan intimidasi.
Menyoroti Standar Ganda Barat
Mengenai isu program nuklir, Pezeshkian mengulangi posisi resmi pemerintahannya bahwa program nuklir Iran sepenuhnya ditujukan untuk kebutuhan energi sipil dan perdamaian, bukan pengembangan senjata pemusnah massal.
Dalam kesempatan itu, ia mengecam keras apa yang dinilainya sebagai bentuk standar ganda negara-negara Barat dalam isu nuklir dan hak asasi manusia.
“Senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur PBB dikirim ke Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dijatuhi sanksi,” tuturnya mendiskreditkan kebijakan Barat.
Terkait stabilitas di Teluk Persia, Pezeshkian menggarisbawahi pentingnya Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan minyak global.
Ia menegaskan Iran tidak akan mengizinkan kekuatan militer asing memanfaatkan perairan regional untuk mendukung aksi agresi terhadap wilayahnya.
Buka Pintu Diplomasi Tanpa Tekanan
Kendati menyampaikan pesan-pesan keras, Pezeshkian menandaskan bahwa pintu diplomasi tidak sepenuhnya tertutup.
Ia menyampaikan pesan langsung kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Iran tetap membuka diri terhadap jalur dialog, dengan syarat negosiasi dilakukan secara setara dan menghormati kedaulatan.
“Mr. Trump dan pihak-pihak yang ingin mengintimidasi kami harus memahami: kami siap untuk dialog, diplomasi, dan negosiasi, namun tanpa menerima bahasa kekerasan,” kata Pezeshkian.
Aksi walkout mewarnai awal pidato Pezeshkian, ketika para diplomat dari delegasi Amerika Serikat memutuskan keluar dari ruang sidang Majelis Umum PBB.
Langkah ini menyusul aksi serupa yang sebelumnya dilakukan oleh delegasi Iran saat Presiden AS berpidato sehari sebelumnya. (SN08)