SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Gus Irawan Pasaribu bersama Kapolres Tapsel AKBP Anton Santoso, Sekretaris Daerah H. Sofyan Adil Siregar, serta jajaran pimpinan OPD dan unsur Forkopimcam, kembali turun langsung ke masyarakat dalam rangkaian kunjungan kerja di Kecamatan Angkola Selatan dan Angkola Sangkunur, Minggu (27/9/2026).
Kunjungan rutin yang dilakukan setiap dua minggu ini bertujuan memastikan program pembangunan tepat sasaran, menyerap aspirasi warga, dan menentukan skala prioritas di tengah keterbatasan anggaran serta proses pemulihan pascabencana.
Di Desa Sibongbong, Bupati menebar 15.500 ekor bibit ikan, terdiri dari ikan jurung, mas, tawes, baung, dan gurami, ke kawasan sungai sepanjang 1,2–1,5 kilometer yang dikelola masyarakat melalui Pokmaswas Naposo Nauli Bulung.
Kelompok lain, Pokmaswas Rap-Rim Sibongbong, juga menerima 14.500 ekor bibit untuk kawasan sungai 1,8 kilometer.
Bupati menegaskan program Lubuk Larangan bukan sekadar menambah populasi ikan, melainkan menjaga ekosistem sungai sekaligus memberi manfaat ekonomi berkelanjutan.
“Bukan hanya ikannya yang dijaga, tetapi hulunya juga. Jangan buang sampah, jangan tangkap ikan dengan cara merusak. Kalau ekosistem terjaga, ikan berkembang, dan manfaatnya kembali ke masyarakat,” ujar Gus Irawan.
Di Kelurahan Pardomuan, Bupati juga membuka Lubuk Larangan Nurul Falah yang telah berdiri sejak 2006. Tradisi ini bahkan menjadi salah satu inovasi yang diapresiasi dalam ajang I-SIM 2025 (Indonesia SDGs Action Award), karena menyatukan nilai ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Di Kecamatan Angkola Sangkunur pula, tiga kelompok usaha bersama di Kelurahan Rianiate masing-masing menerima 11.500 ekor bibit ikan untuk mengelola sungai sepanjang 1,5 kilometer.
Di Desa Aek Natas, Bupati menyerahkan 500 kilogram benih padi varietas Gamagora untuk areal sekitar 20 hektare. Varietas ini unggul di lahan dengan keterbatasan air dan diproyeksikan menghasilkan hingga 9,2 ton per hektare.
Bupati mendorong petani menerapkan sistem rotasi tanaman, padi saat air cukup, beralih ke jagung saat kemarau, terutama di lebih dari 3.000 hektare sawah yang terdampak puso akibat bencana banjir bandang November lalu.
“Jangan biarkan lahan menganggur. Kalau belum bisa padi karena irigasi rusak, tanam jagung. Lahan tetap produktif, petani tetap berpenghasilan,” jelasnya.
Pemerintah juga membuka akses dukungan melalui KUR Bank Sumut dan zakat produktif Baznas untuk mendukung usaha masyarakat yang beralih dari aktivitas penambangan tanpa izin ke usaha yang legal dan berkelanjutan.
Rangkaian kunjungan juga mencakup peninjauan perbaikan jembatan gantung di Desa Sibongbong, serta Hunian Tetap (Huntap) bagi warga korban bencana di Desa Tandihat.
Semua langkah ini disatukan dalam satu visi: pembangunan yang tumbuh dari desa, berkelanjutan, dan merata dirasakan masyarakat.
“Yang paling penting, program pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya. Kita lihat langsung, dengar langsung, baru tentukan prioritas,” pungkas Bupati Gus Irawan. (SN11)