SumutNews.Co, Jakarta- Di balik kaca-kaca pameran dan suasana sunyi ruang museum di Indonesia, ada persoalan pelik yang mengintai. Di sebuah ruang laboratorium, petugas berselimut jas putih sibuk menguji cairan kimia pada fragmen logam tua. Di sudut lain, seorang pekerja perlahan menyapu debu di sela-sela lipatan patung gajah perunggu dan merawat diorama sejarah yang mulai kusam.
Pemandangan pemeliharaan artefak di Museum Nasional Indonesia ini memperlihatkan betapa rumit dan presisinya kerja-kerja perawatan warisan budaya, sebuah proses vital yang sayangnya tak selalu berjalan di ratusan museum lain di Tanah Air.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyoroti dua penyakit utama yang membayangi tata kelola museum nasional: keterbengkalai fisik dan krisis Sumber Daya Manusia (SDM) profesional. Pernyataan ini diungkapkannya saat diwawancarai dalam program TVRI Nasional pada Senin, 5 Oktober 2026. Menurut Fadli, sebagian besar bangunan museum di berbagai daerah sudah terlampau lama luput dari sentuhan perbaikan berkala.
“Yang fisiknya itu museumnya sendiri, ya. Memang sudah lama misalnya tidak pernah ada revitalisasi, renovasi, atau pemeliharaan,” ujar Fadli Zon saat diwawancarai TVRI pada Senin, 5 Oktober 2026.
Namun, persoalan museum di Indonesia tak sekadar urusan dinding yang mengelupas atau tata cahaya yang redup. Di luar urusan fisik, terdapat lubang besar pada ekosistem permuseuman, yakni minimnya tenaga ahli yang mengabdi di dalamnya. Fadli menuturkan, museum-museum di Tanah Air saat ini mengalami kelangkaan serius pada tiga pilar utama SDM: kurator yang bertugas meriset dan merancang narasi pameran, edukator yang menjembatani kisah artefak kepada pengunjung, serta konservator yang lihai merawat fisik benda cagar budaya.
Tanpa keahlian para konservator, artefak kuno dan diorama bersejarah terancam rusak digerus waktu.
“Museum itu juga harus dikonservasi. Lama tidak dilakukan konservasi terhadap misalnya patung-patung atau koleksi yang ada di dalam diorama,” tutur Fadli.
Bagi Fadli Zon, membenahi museum tak cukup hanya dengan mempercat ulang fasad bangunan atau memoles tampilan luar. Pembenahan sejati menuntut perhatian komprehensif yang menyeimbangkan antara pemugaran fasilitas fisik dan investasi jangka panjang pada manusia-manusia di baliknya, mereka yang bekerja dalam senyap demi memastikan jejak peradaban bangsa tidak lapuk ditelan zaman. (SN08)