Penulis : Dr. Zainal E. Hasibuan
Ketua Bidang Penelitian MUI Tapanuli Selatan
Pendahuluan: Meluruskan Sejarah dari Pinggiran
Jika sejarah kemerdekaan Indonesia hanya ditulis dari Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, maka sejarah itu akan timpang. Di selatan Sumatra Utara, di wilayah yang dulu bernama Afdeling Angkola dan Sipirok, terdapat pergerakan yang tidak kalah militan. Pergerakan tersebut tidak dipimpin oleh jenderal, melainkan oleh para ulama
Inilah yang saya sebut sebagai pendekatan historis partisipatif: rakyat Angkola berpartisipasi dalam kemerdekaan bukan karena disuruh, melainkan karena difatwakan dan dipimpin langsung oleh ulama mereka sendiri.
1. Syekh Syihabuddin Nasution: Penjaga Aek Libung dengan Karomah Tongkat
Nama pertama yang wajib ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Tapanuli Selatan adalah Syekh Syihabuddin Nasution dari Aek Libung, Sayur Matinggi. Lahir pada tahun 1892, beliau adalah murid dari Syekh Ibrahim Kumpulan, ulama besar yang sanad keilmuannya bersambung hingga Haramain. Karyanya, Fath al-Qalb dan Adab al-Muridin, hingga kini masih diajarkan di surau-surau Sayur Matinggi.
Perannya dalam kemerdekaan tidak bisa dijelaskan dengan logika militer, melainkan dengan logika iman. Ini adalah kisah karomah yang masih hidup dalam ingatan masyarakat Aek Libung.
Pada tahun 1948, saat Agresi Militer Belanda II pecah, Belanda ingin menguasai kembali Tapanuli Selatan. Truk-truk tentara bergerak dari Padangsidimpuan menuju Sayur Matinggi untuk memburu para pejuang dan membubarkan suluk Tarekat Naqsyabandiyah yang dianggap sebagai sarang pemberontak.
Masyarakat Aek Libung panik. Di tengah kepanikan itu, Syekh Syihabuddin yang sedang bersuluk keluar hanya dengan membawa tongkatnya. Di perbatasan desa, ia berhenti dan menggoreskan tongkatnya ke tanah, membuat garis panjang melintang jalan.
Ia berkata dalam bahasa Angkola halus:
” Inda tolap halak Balando masuk tu huta on, asal ma tong rap hita martuhan .”(Tidak akan bisa orang Belanda masuk ke kampung ini, asal kita tetap bersama Tuhan).
Apa yang terjadi setelahnya adalah bagian dari sejarah lisan Angkola yang sahih. Truk Belanda yang datang beriringan berhenti tepat di depan garis tersebut. Sopir-sopir turun dengan kebingungan. Jalan yang tadi terlihat jelas, di mata mereka tiba-tiba hilang. Yang mereka lihat hanyalah hutan lebat dan jurang terjal. Mereka berputar-putar berjam-jam tanpa menemukan pintu masuk Desa Aek Libung, hingga akhirnya pergi.
Itulah partisipasi ulama secara fisik-metafisik. Belanda tidak bisa masuk ke Aek Libung, suluk tetap hidup, dan dari suluk itulah lahir pejuang-pejuang yang kemudian memberikan ijazah perjuangan kepada murid-muridnya hingga ke Malaysia. Syekh Kadirun Yahya, ulama besar nasional, mengenal tarekat pertama kali melalui khalifah Syekh Syihabuddin ini pada tahun 1943–1946
2. Syekh Muhammad Yunus Harahap: Penjaga Tanah Wakaf di Batang Toru
Bergerak ke Batang Toru, kita bertemu dengan Syekh Muhammad Yunus Harahap. Marga Harahap adalah marga dominan di Angkola.
Jika Syekh Syihabuddin berjuang dengan karomah tongkat, Syekh Muhammad Yunus berjuang di medan wakaf. Belanda di Batang Toru sangat serakah. Mereka melihat tanah surau yang subur dan ingin mengambilnya untuk dijadikan gudang kopi hasil tanam paksa.
Syekh Muhammad Yunus menolak. Ia tidak punya senjata. Senjatanya adalah sajadah. Semalam suntuk ia shalat di atas tanah wakaf itu, membentangkan sajadahnya, dan bermunajat:
“Ya Allah, jangan biarkan tanah yang diwakafkan untuk-Mu ini diambil penjajah.”
Pagi harinya, karomah itu datang. Tanah yang akan diambil Belanda tiba-tiba dipenuhi air. Air keluar dari dalam tanah, menggenang, dan tidak mau surut. Belanda mencoba menyedotnya dengan pompa, namun air terus keluar dan alat-alat berat mereka terperosok. Akhirnya mereka menyerah.
Tanah wakaf selamat. Hingga hari ini, surau di Batang Toru tersebut masih berdiri kokoh. Itulah partisipasi ulama Angkola dalam mengamankan tanah umat dari kolonialisme.
3. Syekh Abdul Manan Sipirok: Arsitek Perlawanan dari Masjid Raya Sipirok
Sipirok adalah pusat peradaban Angkola. Sejak 1865, Sipirok telah menjadi pusat pendidikan Islam. Di sinilah peran Syekh Abdul Manan sangat besar. Beliau adalah pendiri Masjid Raya Sri Alam Dunia Sipirok. Awalnya, masjid itu hanya sebuah surau kayu kecil peninggalan Raja Ahmad Baun Siregar. Di tangan Syekh Abdul Manan, surau tersebut diperbesar menjadi masjid raya
Di tengah gencarannya Belanda membangun gereja dan sekolah zending di Sipirok, Syekh Abdul Manan melawan dengan membangun masjid. Masjid Raya Sri Alam Dunia Sipirok berfungsi sebagai tiga markas sekaligus:
– Markas Syiar: Dari mimbar masjid inilah fatwa fardhu ‘ain melawan Belanda disebarkan ke seluruh Sipirok, Arse, dan Saipar Dolok Hole.
– Markas Pendidikan: Di samping masjid, ia membuka madrasah tempat anak-anak Sipirok belajar membaca Al-Qur’an di saat Belanda melarang pendidikan Islam.
– Markas Fisik: Masjid tersebut menjadi tempat persembunyian pejuang. Di loteng masjid, disimpan beras dan obat-obatan untuk para pejuang yang bergerilya di hutan Tor Sihite.
4. Jaringan Akar Beringin: Ulama-Ulama Penggerak di Pelosok Huta
Pergerakan tidak berhenti pada tiga nama itu. Pergerakan tersebut menyebar seperti akar beringin. Sebagaimana tercatat dalam buku H. Marasad Pendiri Masjid Nuruddin Tanggal karya Dr. Zainal:
– Di Pargarutan Julu, terdapat Syekh Soman Siregar—makamnya terletak di simpang tiga Pargarutan Julu, sebagai jalur akses menuju Sijungkang dan Kantor Bupati Tapsel—yang memimpin rakyat membuka sawah baru agar tidak menjadi kuli kopi Belanda. Ia juga melakukan Islamisasi terhadap masyarakat Sipirok dan Pargarutan yang masih berpegang pada kepercayaan Sipele Begu, serta mencerdaskan masyarakat dengan ajaran Islam yang diterimanya dari Syekh Abdul Fattah Natal.
– Ia bergerak bersama ulama sezamannya, yaitu Syekh Muhammad Din Harahap di Pasar Pargarutan (makamnya tepat di belakang gedung lama MDA Pasar Pargarutan) dan Syekh Zainal di Pargarutan Sosopan (makamnya di simpang Pargarutan Julu, tepatnya di seberang jalan Yayasan Baitul Hikmah al-Zain). Ketiga ulama ini bisa dikatakan sebagai ulama tertua di Tapanuli Selatan dan penggerak awal Islamisasi. Bermaqam di Pargarutan, Angkola Timur, ketiganya wafat di bawah tahun 1938.
Dari Pargarutan, sejarah penyebaran ajaran Islam bergerak ke Sayur Matinggi, Batang Angkola, Batang Toru, Parsariran, SDH, dan kecamatan lainnya.
– Di Parsariran, terdapat Syekh Ahmad Basyir Parsariran yang di masa mudanya belajar kepada Syekh Yakin Ritonga di Simanosor. Ia berkeliling dari huta ke huta untuk membentengi akidah umat dari pengaruh kristenisasi.
– Di Saipar Dolok Hole, terdapat Syekh Muhammad Yakin Ritonga, sang petualang. Ia membuka persulukan dan pengajian di kampung halamannya, Simanosor dan Sidapdap. Beliau berpetualang sampai ke Huraba, Hapesong Baru, dan Parsariran, bekerja sama dengan Syekh Ahmad Basyir dalam memantapkan ajaran Islam di tengah masyarakat Tapanuli Selatan.
Ulama-ulama Tapanuli Selatan ini berpetualang berjalan kaki berhari-hari hanya untuk mengajarkan agama kepada anak-anak, remaja, dan orang dewasa di tengah tekanan kolonialisme Belanda.
5. Dari Didikan Ulama Lahir Patriot: Makam Pahlawan Sipirok dan Benteng Huraba
Semua nama dan huta tersebut terhubung dalam satu napas: mengajarkan rakyat Angkola untuk berpartisipasi dalam kemerdekaan melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Karena ulama mereka berada di tengah-tengah mereka—di masjid, di sawah, di pasar, dan dalam pergaulan sehari-hari—mereka menggoreskan tinta kalam Ilahi dan memercikkan api perjuangan.
Tidak berlebihan jika semangat jihad dan kesatria rakyat Tapanuli Selatan tidak lepas dari didikan para ulama. Dari didikan itulah lahir para patriot pejuang.
Di Tapanuli Selatan, makam pahlawan dan benteng bukanlah dua cerita terpisah, melainkan satu akar:
a. Makam Pahlawan Panji Sibura-bura Sipirok
Makam ini menjadi tempat peristirahatan kusuma bangsa yang gugur pada Agresi Militer Belanda II (1948–1949) di wilayah Sipirok dan Padangsidimpuan. Nama yang paling diabadikan adalah Letnan Sahala Muda Pakpahan, yang dijuluki Jenderal Nagabonar dari Sipirok, seorang pejuang militan Pasar Sipirok yang gugur pada 23 Mei 1949 di Jembatan Aek Horsik, Simagomago.
Stadion di Sipirok dan jalan di Padangsidimpuan memakai namanya. Bersama beliau, dimakamkan pula para anggota TNI Brigade-B, Laskar Hizbullah/Sabilillah Tapsel, serta pejuang rakyat Angkola-Sipirok yang gugur di front Batang Toru, Marancar, dan Aek Horsik.
b. Monumen Benteng Huraba, Batang Angkola – Sayur Matinggi
Monumen di Desa Huraba, Kecamatan Batang Angkola, ini merupakan benteng pertahanan terakhir setelah Padangsidimpuan jatuh pada 1 Januari 1949. Berdasarkan data resmi Bupati Tapsel dan penelitian sejarah, di bawah kepemimpinan Mayor Mas Kadiran pada 5 Mei 1949, sebanyak 27 pejuang rela berkorban nyawa dan gugur sebagai Melati Kusuma Bangsa.
Rincian berdasarkan prasasti dan penelitian UNRI/UNIMED: 16 orang dari Angkatan Darat (TNI Brigade-B) dan 11 orang dari Polri/Mobrig (sekarang Brimob).
Komandan pertahanan tersebut adalah Mayor Mas Kadiran (mantan Tokubetsu Kaisatsu Tai zaman Jepang dan Komandan Brigade Mobil Tapsel) serta Mayor Bejo (Komandan Sektor I Sub Teritorium VII Tapanuli Selatan/Sumatera Timur/Asahan/Labuhan Batu) yang menunjuk Huraba sebagai benteng. Selain itu, turut berjuang di sana Mayor Daulat Hasibuan dan Donggor Harahap. Sayangnya, daftar lengkap 27 nama tidak dipublikasikan secara digital secara utuh oleh Pemkab; nama-nama mereka dipahat di monumen itu sendiri di Huraba.
6. Kunci yang Hilang: Fatwa Jihad dan Jaringan Pesantren
Mengapa mereka disebut hasil didikan militan ulama Tapanuli Selatan?
Inilah kunci yang sering hilang dari buku pelajaran nasional. Tapanuli Selatan sejak Perang Paderi (1825–1838) adalah basis ulama mujahid. Tradisi itu tidak putus karena ditopang oleh tiga jaringan:
– Jaringan Pesantren Musthafawiyah Purba Baru yang melahirkan ulama-ulama Tapanuli Selatan.
– Jaringan Ulama Sufi Parsulukan Tapanuli Selatan yang membentuk jamaah militan.
– Jaringan Ulama Murid-Murid Syekh Ibrahim Kumpulan dan Syekh Abdul Wahab Rokan yang menyebar di Tapanuli Selatan.
Saat Agresi Belanda II, ulama Tapsel tidak hanya berdoa, tetapi juga mengeluarkan fatwa wajib. Fatwa fardhu ‘ain bagi setiap Muslim mukalaf untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda pernah dikeluarkan oleh:
– Syekh Musthafa Husein Nasution al-Mandili (Tuan Guru Na Tobang).
– Syekh Ja’far Abdul Wahab / Abdul Qadir al-Mandili.
– H. Fakhruddin Arif.
– Serta jaringan ulama surau seperti Syekh Abdul Hamid Lubis Huta Pungkut, guru dari generasi awal.
Bentuk Didikan Militan:
Pertama, Lillahi fi Sabilillah : Di surau-surau Angkola-Mandailing, kitab jihad diajarkan bukan sekadar sebagai teori. Santri wajib menjaga huta dari penjajah.
Kedua, Hizbullah & Sabilillah : Laskar resmi bentukan Jepang di Tapsel hampir seluruh anggotanya adalah santri. Mereka yang kemudian menjadi cikal bakal TNI Brigade-B dan Mobrig. Sahala Muda Pakpahan, Mas Kadiran, dan Bejo adalah produk didikan gabungan pesantren dan latihan militer Jepang.
Ketiga, Taktik Bumi Hangus : Taktik di Padangsidimpuan tahun 1949—seperti membakar kota, merobohkan jembatan Batang Toru, dan menebang pohon ke jalan—adalah taktik yang sama yang diajarkan oleh ulama Paderi: jangan beri sejengkal tanah pun untuk musuh menetap.
Penutup
Ketika kita berziarah ke Makam Pahlawan Sipirok dan Benteng Huraba di Batang Angkola – Sayur Matinggi, yang kita lihat bukan sekadar 27 nama tentara. Mereka adalah para santri Angkola, Mandailing, Sipirok, dan Padang Bolak yang oleh ulama-ulama Tapsel dididik dengan prinsip: pekerjaan paling mulia adalah mengajar, bertani, dan berdagang, tetapi jika penjajah datang, hukumnya fardhu ‘ain untuk angkat senjata.
Itulah mengapa setiap Bupati Tapsel saat berziarah sering menyebut Benteng Huraba sebagai simbol perjuangan dan bukti sejarah para pahlawan dalam melawan penjajah untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Monumen tersebut adalah bukti bahwa ulama Tapsel berhasil mencetak ulama sekaligus kader bangsa—ulama yang militan, dan pejuang yang ulama.
Allahu Akbar! Merdeka!
Wallahu A’lam Bishawab.






Komentar