Medan, Sumutnews.co — Penggiat Konservasi Alam dan Pertanian Berkelanjutan selama 25 tahun di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), Rasyid Assaf Dongoran, mengajak masyarakat mengubah pola pikir agar lebih produktif menggarap lahan tidur, aktif turun ke kebun, serta menerapkan teknik bertani yang ramah lingkungan.
Menurutnya, ketahanan sektor pertanian tidak boleh hanya bergantung pada uluran tangan pemerintah. Fondasi utamanya harus ditegakkan melalui kerja keras, keringat, pengorbanan, serta komitmen menjaga ekosistem lewat penerapan prinsip green agriculture.
Ia menilai, pengembangan komoditas unggulan di masa depan menuntut aksi nyata petani yang selaras dengan upaya pelestarian lingkungan hidup.
“Pembangunan pertanian berbasis komoditi utama pada masa depan harus dibangun oleh kerja keras dan pengorbanan masyarakat, jangan menunggu dan menutup diri pada potensi mandiri, serta jangan hanya menuntut pemerintah saja,” tegas Rasyid.
Ia menambahkan, hukum alam berlaku penuh di sektor pertanian; ikhtiar dan kebaikan yang ditanam hari ini dalam mengelola tanah serta alam akan menentukan hasil yang dituai di kemudian hari.
Sebaliknya, sikap pasif, berpangku tangan, atau mengeksploitasi alam demi keuntungan sesaat hanya akan berujung pada kerugian.
“Apa yang kita pikirkan dan perbuat hari ini sebagai kebaikan, gilirannya itu yang akan kita dapatkan. Jika kita berpikir menunggu dan berharap pada orang lain, maka waktu tunggulah yang kita dapatkan,” ujarnya.
Menerapkan Green Agriculture untuk Menjaga Masa Depan Tabagsel Wilayah Tabagsel yang dikelilingi ekosistem hutan dan pegunungan—seperti Batangtoru, Angkola, Siondop, hingga Barumun—membutuhkan model pertanian yang selaras dengan kelestarian alam.
Penerapan green agriculture menjadi kunci utama untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Langkah ini mencakup penggunaan pupuk organik, pemanfaatan pestisida nabati, penerapan agroforestri, serta pengelolaan limbah pertanian yang bijak.
Rasyid mendorong warga di lima wilayah Tabagsel (Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, dan Kota Padangsidimpuan) untuk fokus mengembangkan lima komoditas unggulan secara berkelanjutan:
Kopi (Arabika dan Robusta): Dibudidayakan menggunakan sistem naungan (shade-grown coffee) di bawah kanopi pohon hutan untuk merawat keanekaragaman hayati sekaligus menghasilkan biji kopi mutu tinggi.
Vanili: Ditanam secara organik di pekarangan dan lahan dengan naungan alami, menjadikannya komoditas bernilai ekonomi tinggi tanpa merusak struktur tanah.
Kakao: Dikelola lewat praktik agroforestri yang menyatu dengan tanaman pelindung serta didukung kelembagaan koperasi petani yang peduli lingkungan.
Durian (Varietas Unggul seperti Musang King dan Duri Hitam, Durian Lokal – tetapi unggul ): Menjadi investasi jangka panjang yang mengandalkan pemupukan organik dan humic acid guna memulihkan kesehatan tanah secara alami.
Tanaman Hortikultura (Cabai, Tomat, dan Sayuran Dataran Tinggi): Memanfaatkan pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT) yang ramah lingkungan demi menjamin keamanan pangan serta kesehatan lahan pertanian semusim
Melalui perpaduan etos kerja yang mandiri dan penerapan prinsip green agriculture, masyarakat Tabagsel diharapkan mampu merawat tanah warisan leluhur, melindungi kelestarian ekosistem, serta menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan utama kemandirian dan kesejahteraan yang langgeng.






Komentar