MENULISLAH SEPERTI ENGKAU MEMBACA

Oleh : Moechtar Nasution
Forum Lingkar Studi Tulila *

Pendahuluan

Kuping kita mungkin sudah kenyang disuapi oleh kalimat-kalimat yang terdengar luar biasa agung selama ini. Anda yang akrab dengan dunia literasi pasti pernah mendengar setidaknya satu dari sekian kredo populer ini: menulis adalah cara terbaik untuk mewariskan pengetahuan kepada generasi masa depan. Barangkali anda pernah membaca kata bijak dari Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” atau pendapat Imam Al-Ghazali:”Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”.

Lalu, sampai kapan seorang penulis berhenti mengayunkan penanya, jawabannya pasti  juga terdapat pada kalimat yang heroik: sampai ajal menjemput!

Ada semacam heroisme intelektual. Sebuah narasi romantis yang seolah-olah menetapkan hukum baku bahwa pena baru boleh diletakkan, atau papan ketik baru boleh ditinggalkan, ketika jemari tangan kita sudah benar-benar kaku dan tak lagi mampu menggenggam dunia. Kita dipaksa percaya bahwa menjadi penulis berarti menjadi martir bagi ilmu pengetahuan.

Slogan-slogan semacam itu tentu saja indah, sangat fotogenik untuk dikutip di media sosial, dan sukses memicu gemuruh tepuk tangan saat anda menjadi narasumber pada suatu acara. Namun, semakin lama saya merenungkannya di kesunyian kamar, semakin ada rasa janggal yang mengusik pikiran. Konsep “warisan” yang diagung-agungkan itu, jika dikuliti perlahan, sebenarnya masih sangat bergantung pada satu syarat mutlak: keberadaan ahli waris.

Artinya apa? Artinya, di balik jubah heroisme itu, seorang penulis secara diam-diam masih menaruh secercah harap yang besar. Ia masih sangat berharap ada sepasang mata yang sudi membaca baris demi baris kalimatnya, mengangguk-angguk tanda setuju, lalu memuji kejeniusannya. Warisan tidak akan pernah bermakna apa-apa jika kotak wasiatnya berakhir di gudang berdebu tanpa pernah ada yang sudi membukanya. Pada akhirnya, ego kita sebagai manusia tetap saja bersembunyi di balik kata-kata mulia itu.

Pesan yang jauh lebih jujur, membumi, dan tidak muluk-muluk justru datang dari salah seorang narasumber yang berasal dari TNI dengan pangkat Letnan Kolonel pada saat saya menjadi peserta Up Grading Nasioanl Pejabat Humas Pemerintah dan Swasta ditahun 2004. Namanya saya sudah lupa namun beliau bertugas sehari-hari saat itu sebagai Perwira Komunikasi dan Informasi yang diperbantukan pada Sekretariat Istana Wakil Presiden RI. Nasihatnya waktu itu sangat sederhana, diucapkan penuh ekspresi, tanpa ada nada menggurui layaknya seorang profesor di mimbar akademi. Beliau berkata: “Menulis itu jangan hanya ketika ada tugas. Mulailah menulislah sebagaimana engkau membaca.”

 

Kebiasaan Intelektual vs Tradisi Mengumpul Tugas

Kalimat pendek yang meluncur santai dari mulut perwira itu seketika mengubah total cara saya memandang aktivitas tulis-menulis. Kalimat itu menurunkan menulis dari langit idealisme yang abstrak menuju bumi kenyataan hidup sehari-hari. Menulis digeser dari yang awalnya sebuah kewajiban yang melelahkan menjadi sebuah kebiasaan intelektual yang organik.

Coba pikirkan pelan-pelan sambil menikmati secangkir kopi. Kita membaca sebuah buku, novel, atau esai kan bukan karena setiap halaman yang kita bolak-balik itu akan diujikan dalam sidang formal besok pagi? Kita juga berpikir setiap hari bukan karena setiap isi kepala kita akan mendapatkan piala atau gemuruh tepuk tangan dari orang-orang di sekitar kita. Kita membaca dan berpikir karena kita membutuhkannya untuk tetap hidup sebagai makhluk yang berkesadaran dan berperadaban.

 

Maka, menulis itu juga semestinya diletakkan dalam frekuensi yang sama. Menulis adalah cara bagaimana kesadaran kita bekerja mengecap realitas. Prosesnya mirip dengan sistem pernapasan spiritual yang konstan: aktivitas membaca bertugas memasukkan dunia, warna, rasa, dan sejuta informasi ke dalam labirin pikiran kita, sedangkan aktivitas menulis adalah momen di mana kita mengeluarkan kembali dunia tersebut ke permukaan setelah ia melewati proses perenungan, pengendapan, dan penyaringan yang jujur di dalam batin.

Dari logika sederhana ini, bisa menarik satu kesimpulan yang agak menyentil bahwa jika seseorang hanya mau mengetik atau mengayunkan pena ketika ditugaskan oleh dosen di kampus, diperintah oleh atasan di kantor, atau demi memenuhi tenggat kompetisi berhadiah, ia sebenarnya belum memiliki tradisi menulis. Jangan salah kaprah. Orang tersebut baru memiliki tradisi mengumpulkan tugas. Pikirannya belum merdeka; ia masih menjadi pekerja paruh waktu di bawah kendali instruksi orang lain.

Namun, lepas dari seluruh rangkaian obrolan  itu, bagian terpenting dari pesan Perwira  yang paling dalam mengendap dan terus berdengung di kepala saya justru adalah kalimat berikutnya: “Menulislah sampai orang tidak lagi membaca tulisanmu.”

Di sinilah letak titik balik di mana ketekunan menulis tidak lagi sekadar menjadi urusan teknis merangkai huruf, melainkan melompat jauh memperoleh makna filosofisnya yang paling murni dan suci. Menulis ketika tulisan kita dibaca oleh ribuan orang, dibagikan ke mana-mana, dan menuai pujian adalah urusan yang teramat mudah. Siapa pun bisa melakukannya dengan penuh semangat.

Sebab pada kondisi ramai seperti itu, menulis dengan cepat berubah wujud menjadi sebuah transaksi simbolik yang sangat memabukkan ego manusia. Tulisan tidak lagi murni menjadi buah pikiran, melainkan mata uang yang ditukar dengan perhatian publik, kolom komentar yang penuh sesak, tanda suka (like) yang berhamburan, angka sitasi akademik, hingga grafik statistik di dasbor analitik yang bergerak naik secara eksponensial. Kita merasa hidup, merasa penting, dan merasa menjadi pusat dunia karena keramaian tersebut.

Kutukan Sunyi dan Candu Dopamine Digital

Ujian mental dan spiritual yang sesungguhnya baru benar-benar dimulai justru ketika badai keramaian itu mereda dan para pembaca mulai pergi meninggalkan kita satu per satu. Pertanyaannya menjadi sangat personal dan menampar: apakah jemari tangan kita masih mau dengan setia mengetik di atas papan ketik yang dingin ketika tanda suka di pojok bawah layar hanya tersisa dua angka?

Apakah kita juga masih sudi meluangkan waktu berjam-jam untuk merenung ketika kolom komentar hanya diisi oleh satu atau dua teman dekat yang sebenarnya merasa kasihan? Lebih ekstrem lagi, apakah kita tetap masih memiliki gairah untuk melahirkan gagasan ketika algoritma media sosial tampaknya sudah benar-benar malas melirik akun kita dan melemparkannya ke sudut tergelap internet?

Pada titik sunyi yang gelap itulah sebuah tirai kepalsuan akan tersingkap lebar. Di sanalah akan terlihat dengan sangat benderang: apakah selama ini kita benar-benar mencintai ilmu pengetahuan dan proses berpikir itu sendiri, atau kita sebenarnya hanya jatuh cinta pada keriuhan, tepuk tangan, dan sorak-sorai yang ditimbulkan oleh pengetahuan tersebut? Apakah kita seorang pemikir yang rindu akan kebenaran, atau sekadar seorang pesolek yang rindu akan panggung pertunjukan?

Sialnya, lanskap kehidupan modern kita hari ini—khususnya di era digital yang serba cepat ini—terasa jauh lebih berat dan menantang bagi kewarasan seorang penulis. Secara psikologis, manusia abad ke-21 telah dikondisikan untuk menjadi budak dari candu dopamine instan. Layar ponsel pintar kita telah bertransformasi menjadi sebuah mesin judi slot emosional.

Kita mengunggah sebuah tulisan, lalu setiap beberapa menit sekali kita akan menyapu layar ke bawah, melakukan refresh, hanya untuk melihat apakah ada angka statistik yang bertambah.

Ketika angka views melonjak tinggi, otak kita dibanjiri hormon kesenangan; kita merasa menjadi manusia paling jenius sejagat raya. Namun sebaliknya, ketika tulisan kita sepi, kita langsung didera kecemasan eksistensial. Kita merasa tidak berharga, menganggap diri kita bodoh, dan buru-buru menyimpulkan bahwa karya kita sama sekali tidak bermutu. Kita telah menyerahkan kendali kebahagiaan dan validasi berpikir kita kepada angka-angka abstrak di dunia maya. Sepinya pembaca diartikan secara keliru sebagai bentuk penolakan terhadap eksistensi diri kita sebagai manusia.

Akibat dari candu ini adalah lahirnya fenomena yang sangat ironis di zaman kita sekarang: lahirnya rombongan orang yang ngebet ingin disebut sebagai “penulis” bahkan sebelum mereka selesai belajar menjadi seorang “pembaca” yang baik. Banyak orang yang tergesa-gesa ingin videonya atau tulisannya menjadi viral di internet bahkan sebelum mereka selesai merumuskan apa sebenarnya isi pikiran mereka. Energi mereka habis terkuras untuk memantau pergerakan grafik traffic harian, jauh lebih rajin dan militan ketimbang memeriksa apakah argumen yang mereka bangun di dalam tulisan sudah memiliki fondasi yang kuat atau justru keropos di sana-sini.

Pena mereka tidak lagi memiliki kemerdekaan yang hakiki. Sebelum ujung pena menyentuh kertas atau sebelum huruf pertama diketik di layar komputer, pena itu sudah gemetar ketakutan sambil membisikkan pertanyaan penuh kecemasan: “Kira-kira berapa orang ya yang bakal membaca tulisan ini nanti? Apakah topik ini sedang tren dan disukai pasar digital?”

Padahal, sebuah pena yang waras, merdeka, dan memiliki harga diri tinggi tidak akan pernah sudi menanyakan hal serendah itu. Ia hanya akan mengajukan satu pertanyaan tunggal yang tajam kepada nurani pemiliknya: “Apakah apa yang sedang saya tulis ini memang memiliki nilai kebenaran dan keilmiahan dan layak untuk dituliskan?”

Ketika Algoritma Diangkat Menjadi Profesor

Kelucuan yang agak menyedihkan dari realitas digital hari ini adalah banyak orang yang memutuskan untuk berhenti menulis bukan karena kepala mereka sudah kehabisan gagasan atau isi dada mereka sudah kering dari keresahan. Sama sekali bukan. Mereka berhenti menulis murni karena mereka merasa telah kehabisan penonton.

Tulisan yang sepi pembaca langsung buru-buru dicap sebagai sebuah kegagalan sistemik. Jumlah apresiasi yang minim dinilai sebagai bukti otentik bahwa tulisan tersebut tidak layak konsumsi. Tanpa kita sadari dan tanpa pernah ada upacara peresmiannya, kita semua seakan telah bersepakat untuk mengangkat algoritma media sosial—sebuah baris kode matematika mati yang dirancang demi keuntungan korporasi teknologi—menjadi sosok Profesor Agung yang menguji dan menentukan kualitas dari sebuah pemikiran manusia.

Dampaknya sangat merusak ekosistem berpikir kita. Hari ini, para penulis dan pembuat konten tidak lagi menghabiskan waktu malam mereka untuk menenggelamkan diri dalam buku-buku tebal demi mencari kedalaman argumen yang memancing pikir. Tidak sama sekali, waktu mereka habis digunakan untuk memutar otak mencari formula judul yang bisa memancing klik pembaca secara instan (clickbait), mendesain gambar sampul yang mencolok mata, dan mencari celah bagaimana cara mengakali sistem algoritma agar tulisan mereka bisa masuk ke dalam lini masa utama. Kita tidak lagi memproduksi ilmu pengetahuan; kita sedang memproduksi umpan digital.

Jika seluruh sirkulasi tulisan hanya bisa menyala dan hidup karena terus-menerus disuapi oleh bensin berupa tepuk tangan penonton, tanda suka dari netizen, atau validasi dari tren digital yang berubah setiap minggu, maka kita harus berani jujur pada diri sendiri. Mungkin, selama ini yang sedang kita rawat dengan penuh peluh dan air mata bukanlah idealisme kepenulisan yang luhur. Kita sebenarnya hanya sedang sibuk menjadi penjaga malam yang merawat sebuah panggung pertunjukan hiburan. Kita bukan sedang mendidik pikiran bangsa; kita hanya sedang mengemis perhatian publik.

Belajar Sunyi dari Ruang Para Maestro

Kita sering kali melupakan sebuah fakta sejarah yang sangat benderang: bahwa mahakarya-mahakarya terbesar yang mengubah arah jalannya peradaban manusia justru hampir seluruhnya lahir dari ruang-ruang yang teramat sunyi, dingin, pengap, dan jauh dari hingar-bingar tepuk tangan publik pada zamannya.

Tengoklah sejenak lembaran sejarah bangsa ini untuk menyegarkan kembali ingatan kita yang mulai rabun oleh silau layar gawai. Mari kita lihat sosok Pramoedya Ananta Toer. Ketika beliau dilempar ke pengasingan yang brutal di Pulau Buru sebagai tahanan politik, beliau tidak diberikan kemewahan berupa meja tulis yang nyaman, tumpukan kertas putih yang bersih, apalagi koneksi internet untuk memeriksa berapa orang yang menyukai pemikirannya. Beliau hidup di bawah bayang-bayang laras senapan dan kerja paksa yang menguras fisik.

Namun, di tengah keterbatasan yang luar biasa runtuh itu, di tengah kesunyian malam sebuah pulau terpencil, Pramoedya justru berhasil merajut untaian kata demi kata yang kemudian hari kita kenal sebagai Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Pada saat jemarinya menuliskan kisah tentang Minke dan Nyai Ontosoroh, Pramoedya sama sekali tidak tahu apakah coretan tangannya di atas kertas-kertas loak itu akan pernah lolos dari penjagaan ketat sipir, apakah tulisan itu akan pernah diterbitkan oleh sebuah percetakan, atau apakah akan ada orang di luar sana yang sudi membacanya. Beliau menulis tanpa penonton. Beliau menulis murni untuk menyelamatkan ingatan sejarah bangsanya dan mempertahankan sisa-kewarasan dirinya sendiri sebagai seorang manusia merdeka.

Lalu, arahkan pandangan kepada sosok Buya Hamka. Ketika rezim berkuasa saat itu menjebloskannya ke balik jeruji besi penjara karena perbedaan pandangan politik, hak-hak sipilnya dicabut, tubuhnya diisolasi dari dunia luar, dan suaranya dibungkam dari mimbar-mimbar khotbah yang biasa beliau isi. Secara kalkulasi duniawi, Hamka telah dihabisi dan disepikan dari pengikutnya. Namun, apa yang terjadi kemudian? Di dalam kamar tahanan yang sempit dan sunyi itulah, Hamka justru berhasil melahirkan sebuah karya monumental yang menjadi rujukan umat Islam di seluruh Asia Tenggara hingga hari ini: Tafsir Al-Azhar. Penjara yang dirancang untuk mematikan langkahnya justru berubah menjadi laboratorium spiritual tempat beliau menuliskan kedalaman makna ayat-ayat suci tanpa ada gangguan dari riuhnya urusan politik harian.

Jangan pula  lupakan kisah heroik dari sang kapten fajar, Tan Malaka. Sepanjang hidupnya, ia adalah seorang pelarian politik sejati yang wajahnya terpampang di daftar buronan polisi rahasia berbagai negara kolonial. Beliau berpindah-pindah kota di seluruh penjuru dunia dengan menggunakan belasan nama samaran yang berbeda, sering kali tidur di emperan toko, dan kelaparan dalam persembunyian. Ketika beliau memutuskan untuk menulis adikaryanya yang berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) di sebuah pondok kecil yang sunyi di pinggiran Jakarta, Tan Malaka berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Beliau menulis bermodalkan sisa-sisa ingatan yang tersimpan di dalam kepalanya, tanpa ditemani oleh satu pun buku referensi atau ensiklopedia di atas mejanya. Beliau mengetik dengan mesin tik tua sambil telinganya selalu waspada mendengarkan derap langkah sepatu bot polisi yang sewaktu-waktu bisa datang untuk meringkusnya.

Bahkan sosok Mohammad Hatta, sang proklamator kita, rela membawa serta 16 peti yang penuh berisi buku-buku beratnya ke dalam pengasingan yang sunyi dan mematikan di Boven Digoel. Mengapa beliau melakukan hal senekat itu? Karena bagi Hatta, selama beliau masih bisa membaca buku dan kemudian menuangkan pikirannya ke dalam tulisan, maka tembok pengasingan di tengah hutan Papua itu tidak akan pernah bisa memenjarakan kemerdekaan berpikirnya. Tubuhnya boleh saja disekap di ujung dunia, tetapi pikirannya tetap menembus batas melampaui benua.

Menulis untuk Masa Depan

Para pemikir, pejuang, dan maestro masa lalu itu menulis sama sekali bukan untuk mengejar grafik pembaca yang harus naik besok pagi di platform digital. Mereka tidak butuh algoritma agar nama mereka masuk ke dalam topik yang sedang tren (trending topic). Mereka menulis dengan kesadaran penuh untuk menyelamatkan jiwa mereka sendiri dari kehancuran, mendokumentasikan kebenaran yang sedang ditindas, dan berdialog secara intim dengan calon pembaca di masa depan—yaitu kita semua—yang bahkan belum lahir ke muka bumi ketika mereka sedang bertaruh nyawa menuliskan kata demi kata tersebut.

Bagi mereka, menulis di tengah sepi bukanlah sebuah bentuk kekalahan atau tanda bahwa karya mereka tidak bermutu. Sama sekali bukan! Menulis di tengah sepi justru adalah sebuah ruang meditasi yang teramat suci. Di dalam kesunyian itulah kita bisa memisahkan dengan sangat jernih: mana suara pikiran yang benar-benar murni lahir dari kedalaman jiwa kita, dan mana suara-suara bising yang sekadar ikut-ikutan tren demi menyenangkan selera pasar yang fana.

Pada akhir essai ini harus disadari satu hal krusial ini bahwa di era disrupsi sekarang, aspek otentisitas—yaitu kejujuran rasa, ketulusan niat, dan kedalaman proses berpikir manusia—adalah benteng pertahanan terakhir yang sama sekali tidak akan pernah bisa ditiru atau direbut oleh mesin algoritma atau kecerdasan buatan mana pun di dunia ini. AI mungkin bisa memproduksi jutaan artikel dengan tata bahasa yang sempurna dan selesai dalam hitungan detik, tetapi mereka tidak akan pernah memiliki jiwa yang gelisah, tidak memiliki air mata perenungan, dan tidak memiliki ketulusan seperti manusia.

Di dunia yang sudah serba otomatis dan serba instan ini, keputusan untuk tetap menulis dengan jujur dan setia di tengah sepinya pembaca adalah cara paling otentik bagi kita untuk membuktikan kepada semesta bahwa kita adalah manusia yang utuh dan merdeka. Kita adalah manusia yang berpikir karena kita memilih untuk berpikir, bukan robot mekanis yang bergerak hanya karena dorongan umpan balik berupa angka statistik.

Penutup

Maka dari itu, mari  camkan nasihat dari kesunyian ini. Jika sebuah tulisan  hanya bisa bernapas dan hidup karena terus disuapi oleh gemuruh tepuk tangan dan pujian dari pembaca, maka bersiap-siaplah untuk kecewa. Sebab, panggung pertunjukan itu suatu saat pasti akan bubar, lampunya akan dimatikan, dan penontonnya akan pulang ke rumah masing-masing.

Seorang penulis sejati tidak akan pernah peduli dengan semua kemeriahan semu itu. Ia akan tetap memilih untuk duduk di kursinya, menggenggam penanya, dan tetap menyalakan lampu di atas panggung kepenulisannya dengan penuh kesetiaan—bahkan ketika ia tahu dengan sangat pasti bahwa seluruh kursi penonton di hadapannya telah kosong melompong tak bersisa. Sebab bagi dirinya, menulis adalah cara ia bernapas dan merawat kewarasannya sendiri sebagai seorang manusia.

Wallohu Aqlam Bisshawab…

  • Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

Populer Minggu ini

Diduga Korsleting Listrik, Rumah di Aek Pining Tapsel Hangus Total

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan - Satu unit rumah panggung berbahan...

Peringati HUT ke-4, SD-SMP Plus IT Padangsidimpuan Resmi Terima Sertifikat Tanah Wakaf dan Gedung Baru

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4...

Lubuk Larangan Warisan Budaya Terancam, Bupati Saipullah: Kita Harus Selamatkan Kekayaan Ini

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal - Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina)...

Pasti Setiap Negeri Punya Penjahat Menjadi Penguasa: Adakah Ciri Kerja dan Pembedanya Mereka Merujuk Al Quran ?

Penulis : Rasyid Assaf Dongoran Dalam panggung sejarah politik, terdapat...

Atlet ESI Padangsidimpuan Berangkat ke Medan, Siap Ukir Prestasi di Kejurprov Esports Sumut 2026

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Kontingen Elektronic Sports Indonesia (ESI) Kota...

Berita Terkait