Kekuasaan Jabatan Formal, Rezeki atau Ujian: Meminta atau Ditunjuk, Apa bedanya? Peringatan Untuk Diri

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran

Pemandangan paska-pelantikan pejabat publik di negeri ini hampir selalu berulang dengan irama yang sama: karangan bunga mengular di trotoar kantor dinas, deretan ucapan selamat memadati media sosial, dan senyum sumringah sang pejabat baru yang tampak begitu jumawa. Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang merangkak di tangga eselon, perwira TNI/Polri dalam kalkulasi mutasi pos strategis, politisi yang merogoh kocek miliaran demi kursi parlemen, hingga profesional swasta yang bergerilya memburu jatah komisaris BUMN, kekuasaan adalah puncak capaian karier. Ia dianggap sebagai “rezeki besar”, piala kehormatan, sekaligus kran sumber uang yang menjamin fasilitas tanpa batas.

Berjabatan atau menjadi penguasa adalah bukan Haram dan bukan sesuatu yang buruk, bahkan bagus jika mampu dimaksimalkan bagi kemaslahatan.

Namun, di balik yang riuh berjabatan itu, tersimpan sebuah tantangan moral yang mengkhawatirkan.Karya dan dedikasi tak lagi lahir dari niat beribadah atau kesiapan pasrah (tawakal) saat dipanggil tugas.

Sebaliknya, kerja-kerja birokrasi dan politik telah terdegradasi menjadi sekadar skenario transaksional demi memperebutkan dan meminta jabatan.

Secara etis dan teologis, Islam memotret fenomena perburuan kekuasaan ini bukan dengan kacamata ketakjuban, melainkan dengan nada cemas yang amat pekat.

Keinginan Berjabatan Sebagai Penguasa

Dalam tradisi etika Islam, ada garis demarkasi yang sangat tegas antara dua motif manusia dalam memangku kekuasaan:

“antara mereka yang memperebutkan dan mereka yang terpilih karena dipercaya”

Kelompok pertama adalah para pemburu kursi Jabatan.

Mereka merancang manuver, melobi atasan, menyusun kompromi politik, dan mengkalkulasi setiap karya hanya demi menarik perhatian pimpinan atau pemilih.

Jabatan bagi kelompok ini adalah barang dagangan. Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah memberikan vonis yang sangat menohok bagi mereka yang mengejar kekuasaan dengan cara ini:

Mengutip HR. Bukhari no. 7146, Muslim no. 1652,
Rasulullah SAW bersabda:

> يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Yā ‘Abdar-Raḥmāni bna Samurah, lā tas’alil-imārah, fa-innaka in u‘ṭītahā ‘an mas’alatin wukilta ilaihā, wa in u‘ṭītahā ‘an ghairi mas’alatin u‘inta ‘alaihā.

Artinya: “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena jika jabatan itu diberikan kepadamu karena kamu memintanya, maka kamu akan dibebankan kepada dirimu sendiri (tanpa pertolongan Allah). Namun jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan karena kamu memintanya, maka kamu akan ditolong (oleh Allah) dalam melaksanakannya.”

Pesan hadis ini teramat terang: siapa pun yang berburu kekuasaan akan dilepas oleh Tuhan untuk menanggung sendiri beban berat itu tanpa pertolongan-Nya. Tanpa pertolongan ilahi, kekuasaan hanyalah jembatan lurus menuju penyalahgunaan wewenang dan penyesalan.

Baca juga:  Aek Batu Bontar; Membasuh Jiwa di Rahim Tor Sihite

Kelompok kedua adalah mereka yang menempatkan karya

Mereka ini sebagai bentuk penghambaan dan profesionalisme murni. Mereka tidak mengejar jabatan, tetapi ketika amanah itu diserahkan karena kapasitas (kafa’ah) dan integritas mereka, mereka menerimanya dengan gentar dan tawakal.

Inilah esensi dari niat yang digariskan Al-Quran dalam QS. Al-An’am ayat 162

> قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn.

Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Pesan Rasulullah : “Dua Serigala Lapar”

Ketakutan terbesar dari fetishisme jabatan adalah lahirnya kerakusan ganda: dahaga akan materi (sumber uang) dan dahaga akan status sosial (kehormatan). Ketika dua hal ini menjadi panglima, moralitas publik akan hancur lebur.

Pada HR. Tirmidzi no. 2376 , Nabi Muhammad SAW memberikan lukisan daya rusak dari ambisi kekuasaan dan harta tersebut:

> مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Mā dhi’bāni jā’i‘āni ursilā fī ghanamin bi-afsada lahā min ḥirṣil-mar’i ‘alal-māli wash-sharafi li-dīnih.

Artinya: “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar yang dilepaskan di tengah-tengah kawanan domba itu lebih merusak daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan (jabatan) bagi agamanya.”

Serigala lapar yang dilepas di kandang domba hanya akan memangsa beberapa ekor untuk mengenyangkan perutnya. Namun, kerakusan seorang pejabat, aparat, atau politisi terhadap kehormatan dan uang akan merusak tatanan hukum, mengorbankan hajat hidup orang banyak, dan meruntuhkan etika bernegara.

Allah Azza Wa Jalla juga mengatakan dalam Al-Quran dalam
QS. Al-Hadid ayat 20 mengenai potret perlombaan menumpuk harta dan kebanggaan kedudukan adalah bentuk ilusi yang melengahkan manusia:

> اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

I‘lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la‘ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-awlād.

Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta…”

Diperkuat Pernyataan Allah dalam QS. Al-Qasas: 83, secara eksplisit menutup pintu akhirat bagi mereka yang menjadikan kedudukan sebagai panggung kesombongan:

> تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Baca juga:  Riuh Diluar, Sunyi Didalam

Tilkad-dārul-ākhiratu naj‘aluhā lilladhīna lā yurīdūna ‘uluwwan fil-arḍi wa lā fasādā, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn.

Artinya: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Jabatan Pemerintahan : Rezeki yang Berkah atau Ujian yang Mengkhawatirkan?

Pertanyaan mendasarnya: kapan jabatan berfungsi sebagai rezeki, dan kapan ia beruba menjadi ujian (fitnah) yang menghancurkan?

Secara ontologis, semua jabatan kekuasaan bermula sebagai Ujian. Al-Quran tidak pernah menyebut kekuasaan sebagai indikator kemuliaan seseorang.

Kekuasaan hanyalah mekanisme pergiliran peran di bumi untuk menguji siapa yang paling berintegritas dan ini ditegaskan dalam QS. Al-An’am: 165 :

> وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ

Wa huwal-ladhī ja‘alakum khalā’ifal-arḍi wa rafa‘a ba‘ḍakum fauqa ba‘ḍin darajātil liyabluwakum fī mā ātākum.

Artinya: “Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kamu terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…”

Jabatan baru bertransformasi menjadi Rezeki Spiritual jika ia jatuh ke tangan orang yang tidak memburunya, lalu dikelola untuk menegakkan keadilan dan membela yang lemah.

Sebaliknya, ia menjadi Ujian yang Menipu (Istidraj) apabila diraih lewat manipulasi dan dipakai untuk memperkaya diri atau kelompok.

Pada HR. Bukhari no. 7149, Muslim no. 1733, Sikap tegas Islam terhadap peminta jabatan terlihat ketika Rasulullah SAW menolak memberikan posisi kepada siapapun yang mengajukan diri:
> إِنَّا وَاللَّهِ لاَ نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ، وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

Innā wallāhi lā nuwallī ‘alā hādhāl-‘amali aḥadan sa’alah, wa lā aḥadan ḥaraṣa ‘alaih.

Artinya: “Sesungguhnya kami demi Allah tidak akan menyerahkan jabatan ini kepada orang yang memintanya atau orang yang sangat menginginkannya.”

Bagi para pemangku kekuasaan yang adil, Allah memberi panduan sebagaimana perintah-Nya kepada Nabi Daud AS dalam QS. Sad: 26:
> يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

Yā Dāwūdu innā ja‘alnāka khalīfatan fil-arḍi faḥkum bainan-nāsi bil-ḥaqqi wa lā tattabi‘il-hawā fayuḍillaka ‘an sabīlillāh.

Artinya: “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu…”

Baca juga:  SYEKH H. MAHMUD FAUZI AN-NAQSYABANDI (1947-2017): Pelanjut Thariqah Syekh Abdul Manan di Padangsidimpuan

Potensi Bencana di Ujung Jalan

Di tengah gegempitan perburuan posisi publik saat ini, nasehat Nabi kepada sahabat Abu Dharr Al-Ghifari RA sepatutnya ditempel di setiap ruang kerja pejabat publik, mulai dari kantor kementerian, Markas Besar TNI/Polri, hingga gedung parlemen.

Dalam HR. Muslim no. 1825, Ketika Abu Dharr meminta sebuah jabatan pemerintahan, Rasulullah menepuk bahunya dan bersabda:
> يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Yā Abā Dharr, innaka ḍa‘īf, wa innahā amānah, wa innahā yaumal-qiyāmati khizyuw wa nadāmah, illā man akhadhahā bi-ḥaqqihā wa addāl-ladhī ‘alaihi fīhā.

Artinya: “Wahai Abu Dharr, engkau ini lemah, sedangkan jabatan itu adalah amanah. Dan pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajiban di dalamnya.”

Atas dasar itu, akuntabilitas kekuasaan berbanding lurus dengan besarnya wewenang yang dipegang. Tidak ada celah bagi pejabat untuk menghindar dari pertanggungjawaban:

> كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Kullukum rā‘in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra‘iyyatih, fal-amīrul-ladhī ‘alan-nāsi rā‘in wa huwa mas’ūlun ‘an ra‘iyyatih.

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya…”

Pada akhirnya, perebutan kursi kekuasaan di negeri ini adalah cermin dari krisis nilai yang mendasar. Ketika ASN, TNI/Polri, politisi, dan profesional memandang jabatan sebagai “rezeki” dalam arti komoditas untuk mengeruk harta dan status, mereka sesungguhnya sedang mengundang bencana ke dalam hidup mereka sendiri.

Penutup
Jabatan formal yang diperebutkan lewat skenario politik pragmatis hanyalah sebuah penipuan diri, sebuah istidraj yang merenggut pertolongan Tuhan dan menyisakan kehinaan di akhir cerita.

Jabatan yang diberikan atau ditunjuk oleh Atasan adalah Kekuasaan yang menemukan kesuciannya ketika ia dijauhi oleh syahwat pribadi, namun dipikul dengan gemetar, serta tiada kecewa dan sedih jika dicabut jabatan itu. Karena menilai jabatan sebagai amanah pelayanan publik dan ditolong Allah Azza Wa Jalla.

Wallahu a’lam bishawab
“Dan Allah lebih mengetahui apa yang benar”

Berita Terbaru

15 WPR Usulan Pemkab Madina Tinggal Melengkapi Persyaratan

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal - Sebanyak 15 rencana Wilayah Pertambangan Rakyat...

Target Bebas Rabies 2030, Pemprov Sumut Jamin Stok Vaksin dan Gelar Vaksinasi Massal

SUMUTNEWS.CO, Deliserdang — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut)...

ENAM DEKADE PT.ALS DAN MERAWAT MEMORI PAHLAWAN ASPAL

Oleh : Moechtar Nasution Forum Lingkar Studi Tulila * Berbicara mengenai...

Golkar Sumut Siapkan Pelantikan dan Rakerda, Ketua Panitia: Momentum Konsolidasi hingga Akar Rumput

SumutNews.co, Medan — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar...

Berita Terkait