Kondisi Kejiwaan Menggerogoti Organ: Refleksi 1001 Tahun Buku Al-Qanun fī at-Tibb Karangan Ibnu Sina

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran

Kita hitung dari pada tahun 2026 ini, maka kitab Al-Qanun fi at-Tibb yang selesai disempurnakan pada tahun 1025 M, maka telah berusia tepat 1.001 tahun.

Saat ini ritme hidup modern yang bising, dikejar tenggat waktu pekerjaan, kemacetan, hingga tekanan ekonomi, rahasia kesalahan dan dosa perbuatan yang tersimpan, dendam dan sedih, dll.

Asam lambung tiba-tiba melonjak saat stres, dada terasa sesak saat diterpa kabar duka, atau jantung berdebar kencang saat cemas berlebihan.

Dalam istilah medis, kondisi ini sering disebut sebagai gangguan psikosomatik (penyakit fisik akibat faktor emosi), sebuah kondisi saat masalah mental atau emosional memicu gejala fisik yang nyata pada tubuh. Namun, jauh sebelum ilmu medis modern merumuskan hubungan ini, seorang pakar kedokteran Muslim abad ke-11 telah mengupas tuntas keterkaitannya, sehingga Keluhan fisik kerap muncul.

Dialah Abu Ali al-Husayn ibn Abd Allah ibn Sina, atau yang kondang di Barat dengan nama Avicenna.
Dalam karyanya, Al-Qānūn fī aṭ-Ṭibb (The Canon of Medicine), sebuah kitab yang menjadi buku induk kedokteran di Eropa selama ratusan tahun, Ibnu Sina menegaskan bahwa tubuh manusia bukanlah mesin yang terpisah dari jiwanya.

Organ-organ vital seperti hati, paru-paru, jantung, lambung, dan ginjal bekerja merespons emosi yang dirasakan manusia sehari-hari.

Emosi Kejiwaan dan Organ

Dalam Bagian Pertama Al-Qanun fi at-Tibb, Ibnu Sina menguraikan konsep Al-A‘rad an-Nafsaniyyah (gejala-gejala psikis atau gejolak emosi). Beliau menjelaskan bahwa emosi dapat mengubah al-hararah al-ghariziyyah (suhu/panas alami tubuh) serta mengacaukan aliran energi vital (ar-ruh).
Berikut adalah salah satu kutipan asli Ibnu Sina dalam kitab tersebut mengenai bagaimana emosi memengaruhi tubuh:

> التَّغَيُّرَاتُ النَّفْسَانِيَّةُ تُوجِبُ تَغَيُّرَاتٍ فِي الْمِزَاجِ، فَالْغَضَبُ يُثِيرُ الْحَرَارَةَ وَيُحَرِّكُ الرُّوحَ إلَى الخَارِجِ، وَالْخَوْفُ وَالْخُزْنُ يَكْبِتَانِ الْحَرَارَةَ وَيُحَرِّكَانِ الرُّوحَ إلَى الدَّاخِلِ.
” _At-taghayyurātu an-nafsāniyyatu tūjibu taghayyurātin fī al-mizāj, fal-ghadhabu yuthīru al-harārata wa yuharriku ar-rūha ilā al-khārij, wal-khawfu wal-huznu yakbitāni al-harārata wa yuharrikāni ar-rūha ilā ad-dākhil._ ”

“Perubahan-perubahan psikologis (emosi) meniscayakan perubahan pada temperamen tubuh. Amarah memantik panas alami dan menggerakkan energi vital (ruh) ke arah luar, sedangkan rasa takut dan duka cita memadamkan/menekan panas alami dan menarik energi vital ke dalam.”

Kondisi Ragam Emosi dan Kerusakan Organ

Pandangan medis Ibnu Sina mengenai kaitan erat antara kondisi kejiwaan dan kesehatan organ tubuh sejatinya selaras dengan pijakan wahyu dalam Al-Qur’an. Islam sejak awal menegaskan bahwa pusat dari segala muara kesehatan manusia ada pada kondisi hatinya (al-qalb atau as-sadr).

Dalam Surah Yunus Ayat 57, Allah SWT berfirman tentang bagaimana petunjuk keagamaan berfungsi sebagai penyembuh bagi penyakit yang bersemayam dalam dada:

> يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ۠ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
” Yā ayyuhan-nāsu qad jā’atkum mau‘izhatum mir rabbikum wa syifā’ul limā fis-shudūri wa hudaw wa rahmatul lil-mu’minīn.”

Baca juga:  Tamsil Politik Pembakaran Hutan dan Kerusuhan Massa Jelang 2029

Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Selain itu, Al-Qur’an menekankan pentingnya menjaga kestabilan jiwa dari cemas dan gejolak emosi sebagai kunci ketenangan fisik, sebagaimana termaktub dalam Surah Ar-Ra’d Ayat 28:

> الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

” Alladhīna āmanū wa tathma’innu qulūbuhum bidzikrillāh, alā bidzikrillāhi tathma’innul-qulūb.”

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Berangkat dari prinsip Firman Allah Azza Wa Jalla ini, maka Ibnu Sina menerjemahkan konsep keselarasan jiwa tersebut ke dalam skema fisiologis kedokteran pada zamannya.

Jika diterjemahkan ke dalam fenomena sehari-hari, Ibnu Sina memetakan bagaimana jenis emosi tertentu yang tidak dikelola dengan baik dapat “menyerang” organ tubuh tertentu:

Amarah Berakibat Penyakit Organ Hati (Sakit Liver)

Ibnu Sina mencatat bahwa amarah yang mendadak meledak akan mendorong energi dan cairan tubuh naik secara agresif.

Akibatnya, produksi empedu kuning meluap dan membebankan kerja hati. Seseorang yang sering memelihara amarah kronis sedang merusak fungsi penyaringan dan metabolisme pada livernya secara perlahan.

Jiwa Duka Tersimpan Sebabkan Sakit Paru-Paru

Rasa duka dan kesedihan mendalam bekerja secara menyerap atau “mengerutkan”. Duka menekan energi vital ke dalam dan memadamkan suhu alami tubuh. Efeknya, paru-paru kehilangan kemampuan untuk mengembang dengan rileks.

Penumpukan cairan atau lendir dingin terjadi, yang dalam bahasa modern mewujud sebagai sesak napas, asma, atau radang paru akibat depresi emosional.

Menyimpan Rasa Cemas Mengakibatkan Lemah Jantung

Jantung adalah pusat dari seluruh aliran energi vital tubuh. Ibnu Sina mengamati bahwa kecemasan yang berkepanjangan ( _al-hamm wa al-qalaq_ ) mengganggu ritme alami jantung. Energi tubuh terkuras, memicu detak jantung tidak teratur ( _palpitasi_ ), dan dalam jangka panjang menyumbat aliran darah.

Kesedihan Merusak Lambung

Proses pencernaan membutuhkan kondisi tubuh yang seimbang. Ketika seseorang mengalami ganjalan emosi atau kesedihan yang dipendam, daya cerna lambung melambat drastis. Penumpukan zat asam di dinding lambung meningkat, memicu mual, hilang nafsu makan, hingga luka/maag.

Rasa Takut Melumpuhkan Ginjal

Rasa takut berlebihan ( _al-khauf_ ) menarik energi vital secara tiba-tiba ke bagian bawah tubuh. Ini menjelaskan fenomena biologis mengapa ketakutan yang sangat hebat bisa membuat seseorang mendadak lemas, gemetar, hingga kehilangan kontrol atas fungsi pembuangan (sulit menahan kencing).

Penyebab Lemahnya Jiwa Beragam Emosi & Panduan Al-Qur’an

Lemahnya Pengendalian Amarah

Ketidakmampuan menahan amarah merusak koordinasi organ tubuh. Allah SWT memuji hamba-Nya yang mampu mengendalikan emosi ini dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 134:

> الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Baca juga:  Pramuka Jangan Hanya Pandai Mengumpulkan Piala: Saatnya Pelatih Membenahi Mutu Pembina

” Alladhīna yunfiqūna fis-sarrā’i wad-dharrā’i wal-kāzhimīnal-ghaizha wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuhibbul-muhsinīn.”

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Menyimpan Beban Pikiran Berlebihan & Rasa Cemas

Sering kali manusia terjebak dalam kecemasan akan masa lalu atau ketakutan akan masa depan. Al-Qur’an mengajarkan manusia agar tidak berputus asa dan senantiasa bersandar pada kepasrahan kepada Allah:

Surah Az-Zumar Ayat 53 (Penawar Keputusasaan & Beban Dosa):

> قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Qul yā ‘ibādiyalladhīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnatū mir-rahmatillāh, innallāha yaghfirudh-dhunūba jamī‘ā, innahū huwal-ghafūrur-rahīm.”

Artinya: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Surah At-Talaq Ayat 3 (Ketentraman Melalui Tawakal):

> وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
” Wa yarzuqhu min haithu lā yahtasib, wa mai yatawakkal ‘alallāhi fahuwa hasbuh, innallāha bālighu amrih, qad ja‘alallāhu likulli syai’in qadrā.”

Artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Surah Al-Baqarah Ayat 216 (Menerima Ketetapan Tanpa Prasangka Buruk) :

> وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

” Wa ‘asā an takrahū syai’aw wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuhibbū syai’aw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn.”

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia sangat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Mental Takut yang Melumpuhkan Pertahanan Tubuh

Rasa takut berlebihan pada kemiskinan, kegagalan, atau masa depan menjadi akar melemahnya imunitas tubuh.

Al-Qur’an menegaskan bahwa rasa takut adalah bentuk ujian hidup, sementara setan sering memanfaatkan rasa takut untuk merusak kedamaian jiwa:

Surah Al-Baqarah Ayat 155:

> وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

” Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqsim minal-amwāli wal-anfusi wath-thamarāt, wa basysyiris-shābirīn.”

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Baca juga:  Bukan Sekadar Sandiwara, Ketika 'Benteng Huraba' Mengajarkan Kita Tentang Makna Kemerdekaan

Surah Al-Baqarah Ayat 268:

> اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

” Asy-syaitānu ya‘idukumul-faqra wa ya’murukum bil-fahsyā’, wallāhu ya‘idukum maghfiratam minhu wa fadlā, wallāhu wāsi‘un ‘alīm.”

Artinya: “Setan menjanjikan (menakut-nakutimu dengan) kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir); sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Refleksi untuk Manusia Masa Kini

Apa yang dirumuskan Ibnu Sina seribu tahun silam dari Hamadan dan Isfahan bukan sekadar dongeng sains masa lalu.

Kedokteran modern ( _psycho-neuro-immunology_ ) telah membuktikan bahwa pikiran dan emosi berdampak langsung pada sistem kekebalan serta fungsi organ fisik manusia.

Di era sekarang, ketika penyakit tidak lagi hanya datang dari kuman atau virus melainkan berakar dari tumpukan beban pikiran, gagasan Ibnu Sina menjadi pengingat yang sangat relevan.

Merawat tubuh tidak cukup hanya dengan pola makan atau olahraga; merawat organ tubuh harus dimulai dari kemampuan mengelola emosi dan kedamaian jiwa. Sebab, jiwa yang rapuh tidak akan pernah membiarkan tubuhnya tetap utuh.

Penutup
Perbaiki organ tubuh kita dengan menata kondisi emosi berdasarkan tuntunan Al-Qur’an:

Zikir & Mengingat Allah: Untuk menentramkan gejolak hati (QS. Ar-Ra’d: 28)

> الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

” Alladhīna āmanū wa tathma’innu qulūbuhum bidzikrillāh, alā bidzikrillāhi tathma’innul-qulūb.”

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Menjaga Salat & Istiqamah: Menghilangkan sifat gampang keluh kesah dan panik (QS. Al-Ma’arij: 22–23)

> اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ

” Illal-mushallīn, alladhīna hum ‘alā shalātihim dā’imūn.”

Artinya: “Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, yang mereka itu tetap setia melaksanakan salatnya.”

Tawakal: Menyandarkan hasil akhir hanya kepada Allah agar terbebas dari cemas akan masa depan (QS. At-Talaq: 3)

> وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
” Wa yarzuqhu min haithu lā yahtasib, wa mai yatawakkal ‘alallāhi fahuwa hasbuh, innallāha bālighu amrih, qad ja‘alallāhu likulli syai’in qadrā.”

Artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Wallahualam bissawab

Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya

Berita Terbaru

Hadapi Karhutla Kalteng: Operasi Darat, Udara, dan Pemindahan Armada

SumutNews.Co​JAKARTA — Pemerintah menerapkan sejumlah langkah taktis dan penyesuaian...

Singapura Bidik Korporasi Penyebab Karhutla di Indonesia

SumutNews.co Singapura — Langit Singapura mendadak kelam dengan Pekatnya...

Belum Ada Perubahan, 3 Bulan Pimpin Desa Parsalakan, Kondisi Kantor Masih Tak Terawat

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan — Tiga bulan berlalu sejak pergantian...

Di Balik Masuknya Sumut ke Nominasi Jamsostek Award 2026: Pertaruhan Fiskal dan Jaring Pengaman Pekerja Rentan

SumutNews.co, JAKARTA — Di atas kertas, pencapaian ini menjadi...

Desak Israel Hentikan Permukiman di Tepi Barat, Tiongkok: Masalah Palestina Ketidakadilan Sejarah Terbesar

SumutNews.co, Beijing — Pemerintah Tiongkok mempertegas posisinya dalam menyuarakan...

Berita Terkait