Oleh: Tantawi Panggabean
SUMUTNEWS.CO – Sejarah tidak selamanya harus dibaca dari halaman buku yang membosankan. Sejarah juga bisa dihidupkan di atas panggung, berbicara lewat dialog, terasa lewat gerak, dan terpatri di hati lewat emosi yang ditampilkan para pemeran.
Itulah yang dilakukan oleh seniman Tantawi Panggabean saat menyutradarai drama kolosal “Benteng Huraba” pada peringatan HUT ke-57 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2002 di Padangsidimpuan.
Di masa kepemimpinan Wali Kota Zulkarnaen Nasution, pementasan ini digelar di depan Pasar Baru, kini kawasan ATC, tepat di hadapan para pejabat kehormatan dan ribuan warga yang memadati lokasi.
Tidak sekadar pertunjukan, drama kolosal ini mengangkat kembali salah satu babak heroik yang nyaris terlupakan, yakni pertempuran di Benteng Huraba pada 5 Mei 1949.
Di sana, pasukan pejuang di bawah komando Mas Kadiran bersatu dengan unsur TNI dan rakyat berdiri tegak menahan gempuran pasukan Belanda.
Tantawi Panggabean, seniman teater, musik, dan sastra, jebolan TIM Jakarta serta pensiunan Guru SMKN 2 Padangsidimpuan menyadari bahwa nilai sejarah akan semakin berarti jika dialami, bukan sekadar dihafalkan.
Ia menyadarkan kita, bahwa patriotisme tidak cukup hanya diucapkan, ia perlu dirasakan.
Pementasan ini bukan pertunjukan biasa. Melibatkan personel Batalyon 123 Rajawali, Sabhara Polres, Brimob, serta para pemeran teater lokal, drama berdurasi dua jam itu menghidupkan kembali suasana pertempuran.
Salah satu tokoh pejuang yang diperankan oleh Khatib Lubis menjadi penanda bahwa semangat yang diwariskan para leluhur masih hidup di antara kita.
Benteng Huraba bukan sekadar nama tempat. Ia adalah saksi bagaimana rakyat Tapanuli Bagian Selatan mengorbankan jiwa dan raga demi sebuah kemerdekaan yang kita nikmati hari ini.
Lewat seni pertunjukan, kisah itu tidak lagi menjadi catatan kaki sejarah, melainkan menjadi pelajaran hidup yang menyentuh hati setiap penonton, terutama generasi muda.
Kini, di tengah arus zaman yang terus berubah, upaya yang dilakukan Tantawi Panggabean menjadi pengingat penting, yaitu melestarikan sejarah adalah salah satu cara terbaik mencintai bangsa.
Sejarah yang hidup di panggung akan selalu lebih dekat daripada sejarah yang hanya tersimpan di rak perpustakaan.
Semangat yang dibentangkan di Benteng Huraba harus terus berkobar, dan panggung kesenian akan selalu menjadi salah satu tempat terbaik agar api itu tidak pernah padam.