Membaca Jiwa Tor Pangolat

Oleh : Moechtar Nasution

Ada satu titik di punggungan Bukit Barisan tempat angin pegunungan berhembus lebih liris, membawa wangi tanah basah dan sisa-sisa ingatan masa lalu yang tersangkut di dahan pohon-pohon tua kekar yang berakar besar. Tempat itu adalah Tor Pangolat. Bagi mata modern, ia mungkin hanya terlihat sebagai kelokan aspal yang curam, sebuah jalur lintas provinsi yang membelah batas administratif antara Panyabungan Selatan dan Batang Natal di kabupaten Mandailing Natal. Namun, tempat ini sejatinya adalah sebuah ruang spiritual yang mahaluas—sebuah benteng memori tempat sejarah, kebudayaan, dan alam merajut bersama dalam harmoni yang teramat karib. Ia menolak untuk dibaca tergesa-gesa karena ia dipahat dan diukir bersama dengan kearifan, keluhuran dan kesederhanaan yang abadi sejak zaman kolonial Belanda hingga hari ini.

Batas Hutan

Secara filosofis, nama Pangolat menyimpan kearifan yang teramat mendalam tentang bagaimana manusia Mandailing memperlakukan ruang hidup mereka sejak berabad-abad lampau. Berakar dari kata mengolat, yang berarti menahan, membatasi, atau memagari dengan rasa hormat, kawasan ini sejak dahulu diposisikan sebagai “penjaga sakral” yang memegang mandat tak tertulis. Dalam tata ruang adat Mandailing purba, ia adalah batas suci yang digariskan secara luhur untuk memisahkan Huta—ruang kelola tempat manusia membangun peradaban, menanam padi, dan merajut kehidupan sehari-hari—dengan wilayah perawan hutan rimba larangan yang tabu untuk disentuh apalagi dirusak oleh tangan-tangan serakah.

Leluhur kita dahulu memahami dengan kepekaan nurani yang murni bahwa puncak perbukitan ini tidak boleh terluka sedikit pun. Tor Pangolat dipandang sebagai sebuah payung ekologis raksasa yang bertugas memeluk awan, menjinakkan badai, dan menahan luapan air demi keselamatan serta keberlangsungan hidup desa-desa yang berdiam tenang di hilir bawahnya. Batas di Tor Pangolat tidak diciptakan secara administrafit dan adat untuk menjauhkan manusia dari alam sekitarnya, melainkan sebuah garis kehormatan yang terus-menerus berbisik ke dalam sanubari manusia tentang di mana ambisi keduniawian harus tahu diri, merunduk, dan akhirnya berhenti demi menjaga kehidupan bersama.

Di ruang ini, garis olat berbicara tentang kerendahan hati. Ketika manusia purba Mandailing mendekati puncak ini, ada kepasrahan yang mereka bawa dalam setiap ayunan langkah. Mereka mengerti bahwa alam memiliki wilayah perlindungan sendiri yang tidak boleh dilanggar oleh ketamakan kapak atau nafsu perluasan ladang. Tor Pangolat mengajari kita tentang batas, sebuah konsep yang di zaman sekarang terasa asing ketika manusia modern menganggap segala ruang bisa ditaklukkan dan dibeli. Batas di sini adalah bentuk cinta paling murni dari masa lalu yakni sebuah pagar tidak terlihat yang didirikan agar generasi hari ini masih bisa menghirup udara segar yang sama, memandang pohon-pohon besar yang sama, dan berjalan di atas tanah yang tidak runtuh oleh erosi keserakahan.

Misteri Kabut Tebal

Di balik kesucian fungsi adat dan keselarasan ekologinya, Tor Pangolat sejak masa purba telah tersohor di seantero negeri sebagai kawasan yang diselimuti oleh aura magis dan mistis yang teramat kental. Keangkeran puncak ini bukanlah cerita baru yang dikarang-karang demi memicu ketakutan, melainkan sebuah kenyataan batin yang diakui oleh setiap generasi pelintas. Sejak manusia pertama menjejakkan kaki dan meretas jalan di perbukitan ini, Tor Pangolat diyakini memiliki “jiwa” tak kasat mata yang menguasai jalannya cuaca, memegang kendali atas ruang, dan menguji ketulusan hati siapa saja yang datang. Banyak kejadian aneh dialami oleh mereka yang melintasi jalur ini, kisah-kisah ganjil yang mengalir hangat dari mulut ke mulut, melintasi zaman, dan bertransformasi menjadi bagian dari memori kolektif yang dirawat masyarakat setempat dengan rasa hormat yang mendalam.

Kehadiran kekuatan gaib itu sering kali menyapa pelintas lewat kabut tebal yang turun seketika secara misterius tanpa tanda-menerus sebelumnya. Di bawah langit yang semula biru bersih dan matahari yang terik, kelokan terjal ini bisa mendadak tenggelam dalam kegelapan putih yang pekat dan dingin hanya dalam hitungan detik. Jarak pandang lenyap seketika secara mutlak, memutus orientasi arah dan memaksa setiap laju kendaraan terhenti di tepi ketidakpastian. Bagi ingatan lisan masyarakat setempat, kabut tebal yang melingkari bukit ini bukanlah fenomena cuaca buruk biasa, melainkan sebuah tirai pembatas rahasia yang sedang dibentangkan. Ia adalah cara alam untuk menutup diri, sebuah isyarat berwibawa yang memperingatkan manusia agar menundukkan kepala, membuang segala kesombongan pangkat, dan tidak melangkahi bumi ini dengan keangkuhan yang takabur.

Saat kepatuhan visual kita direnggut oleh kabut putih itu, di sanalah keangkuhan kita diuji. Manusia yang merasa memiliki segalanya mendadak menjadi mahluk paling rapuh di ujung tebing Tor Pangolat. Kabut itu tidak datang untuk mencelakai namun ia datang untuk menyembunyikan keindahan magis yang terlalu suci untuk dipandang oleh mata yang penuh dengan ambisi keduniawian. Keberadaannya memaksa kita beralih dari penglihatan lahiriah menuju penglihatan batin. Di dalam selubung dingin itulah, waktu seolah membeku, meninggalkan manusia sendirian bersama degup jantungnya sendiri, berselimut ketakutan yang suci, menyadari bahwa di atas kelokan ini bahwa alamlah yang memegang kedaulatan tertinggi.

Cerita Mistis para Pelintas

Kemistisan Tor Pangolat kian merayap pekat ke dalam sanubari ketika kita mulai memasuki pelukan kesunyiannya yang aneh dan tidak biasa. Berada di kelokan puncak ini berarti berada di sebuah ruang sunyi yang absolut, di mana suara-suara bising dari dunia luar seolah-olah mati seketika, terserap habis tak berbekas ke dalam rimbunnya dedaunan hutan purba dan tebalnya dinding tebing. Tradisi tutur lisan lama selalu menitipkan pesan yang ketat kepada para pengembara untuk senantiasa menjaga tutur kata bahkan menahan tingkah laku sebab rimba raya Tor Pangolat dipercaya hidup, mendengar, dan menimbang setiap isi batin manusia yang melintasinya.

Dalam keheningan malam yang mencekam, telinga para pelintas malam sering kali menangkap hal-hal ganjil yang menolak dicerna oleh logika sehat. Mulai dari deru desah angin yang tiba-tiba berubah menyerupai bisikan lembut atau senandung liris manusia tanpa rupa, suara derap langkah kaki massal yang berjalan beriringan di balik semak gelap yang sepi, hingga ketukan-ketukan misterius pada badan kendaraan tanpa pernah ada wujudnya. Tidak jarang, para sopir mengalami kejadian aneh di mana mesin kendaraan mereka yang prima mendadak menderu berat dan kehilangan tenaga, seolah-olah sedang memikul beban teramat berat yang tak kasat mata di tengah tanjakan. Sebagian lagi pernah terjebak dalam disorientasi ruang yang melelahkan jiwa, berkendara berjam-jam di tengah pekatnya kabut seolah diputar-putar di kelokan yang sama tanpa pernah menemui ujung jalan menurun.

Pengalaman mistis ini sesungguhnya adalah undangan purba dari alam Tor Pangolat, memaksa manusia modern yang terbiasa memegang kendali untuk pasrah, menepikan kendaraan, mematikan mesin, dan merapal doa keselamatan dengan ketulusan yang paling jujur di hadapan malam serta membunyikan klakson diberbagai tempat sebagai bentuk penghargaan terhadap sesame makhluk. Kesunyian di rahim bukit ini memiliki suaranya sendiri—sebuah frekuensi purba yang hanya bisa didengar ketika kita berhenti memikirkan diri sendiri. Suara tanpa wujud itu adalah nyanyian sunyi dari masa lalu, gema dari jiwa-jiwa terdahulu yang pernah berteduh di bawah pohon-pohon besar ini, mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian di tengah kegelapan rimba yang agung.

Pemandangan dari Atas Bukit

Di tengah aura gaib yang berwibawa dan penuh misteri itulah, orang-orang Belanda tertegun tanpa mampu berkata-kata saat pertama kali menjejakkan kaki di puncaknya pada pertengahan abad ke-19. Mereka yang datang dari benua jauh, menembus belantara Sumatra dengan segala rasionalitasnya, mendadak luruh oleh rasa takjub yang luar biasa dan mengecap tempat ini dengan sebutan yang megah dengan nama Hemelspoort atau pintu surga. Nama itu lahir bukan dari kesombongan penakluk, melainkan dari sebuah pengakuan jujur yang lahir spontan dari batin manusia ketika menyaksikan tirai kabut mistis pegunungan perlahan-lain tersingkap oleh sentuhan angin pagi.

Berdiri di titik tertinggi Tor Pangolat adalah tentang berdiri di ambang dua kemegahan dunia yang disajikan sekaligus di depan mata. Jika kamu membalikkan badan ke sebelah kanan menghadap arah utara, matamu akan dimanjakan oleh lekuk anggun Lembah Mandailing yang terhampar mahaluas. Sebuah permadani hijau subur tempat detak kehidupan huta berdenyut tenang, tempat padi-padi menguning dengan damai di bawah dekapan langit yang lapang. Namun, ketika pandanganmu dialihkan lurus menuju ufuk barat, melintasi jajaran perbukitan hijau yang bergelombang, kamu akan menangkap garis tipis berkilau dari samudra luas yang memeluk Pelabuhan Natal di ujung cakrawala. Di pintu surga inilah, ketegasan gunung, kelembutan lembah, dan luasnya lautan melebur menjadi satu kanvas kehidupan yang menakjubkan, meruntuhkan segala batasan ego manusia dalam satu pandangan mata yang khidmat.

Penamaan Hemelspoort adalah momen di mana batas-batas perbedaan bahasa dan bangsa mencair di hadapan karya seni Sang Pencipta. Orang Belanda yang membawa misi  kolonialisme mendadak terhenti langkahnya di sini, terpesona oleh panorama yang seolah membelah langit. Dari singgasana perbukitan ini, bumi terasa begitu dekat dengan keabadian. Di sebelah kanan, ketenangan hidup agraris yang bersahaja menawarkan rasa pulang, sementara di sebelah barat, batas cakrawala lautan yang tak berujung menawarkan misteri masa depan dan keberanian untuk melangkah pergi. Tor Pangolat berdiri tegak di tengah-tengahnya, menyeimbangkan dua hasrat terbesar manusia untuk menetap dalam pelukan akar sejarah, dan dorongan untuk berkelana mengarungi luasnya dunia luar.

Sejarah Persahabatan Masa Lalu

Jalan yang membelah keheningan Tor Pangolat ini dirajut melalui sebuah cerita yang sepenuhnya berbeda yakni jalan kemitraan dan persahabatan sejati. Jalan dicelah bukit yang tinggi dan sering berselimut kabut gaib ini merupakan hasil jalinan sebuah ikatan emosional yang erat, tulus, dan saling menghormati antara Asisten Residen A.P. Godon dan sang penguasa berwibawa tanah Mandailing, Sutan Kumala (Yang Dipertuan Huta Siantar).

Tor Pangolat menjadi saksi resmi bagaimana deretan pedati yang membawa wangi biji kopi Mandailing terbaik melintas di punggungannya bukan di bawah ancaman cambuk, kekerasan, atau rasa takut, melainkan lewat jalur kompromi, jabat tangan yang karib, dan kewibawaan para pemimpin yang berjalan setara saling menghargai. Hubungan antar-manusia yang intim dan penuh kedamaian di atas puncak yang sunyi ini bahkan menjadi hulu dari lahirnya masa depan bagi anak-anak bumi putra. Dari kedekatan emosional di perbatasan kabut inilah lahir ruang-ruang diskusi hangat yang kelak mengantarkan langkah Willem Iskander menuntut ilmu melintasi tanah seberang menuju Eropa. Tor Pangolat membisikkan pesan bahwa di bawah naungan pohon-pohon tuanya, martabat manusia tetap bisa berdiri tegak dan berdaulat di tengah pusaran arus zaman yang paling bergolak sekalipun.

Kisah di celah berkabut ini adalah sebuah anomali sejarah yang menghangatkan hati. Di saat belahan bumi lain di nusantara bersimbah darah dan air mata oleh penindasan, Tor Pangolat justru menjadi latar bagi bertemunya dua pasang mata pemimpin yang memilih jalan dialog. Pertemuan A.P. Godon dan Sutan Kumala Sang untuk membangun jalan panjang ini membuktikan bahwa kehormatan sebuah bangsa tidak selalu dipertahankan dengan senjata, melainkan dengan keteguhan prinsip dan ketulusan hati untuk saling mendengarkan. Setiap karung kopi yang dibawa melintasi tanjakan curam ini mengemas rasa hormat yang timbal balik. Puncak ini tidak merekam jejak langkah para budak yang tertunduk kalah, melainkan langkah-langkah tegap dari para pekerja yang berjalan dengan kepala tegak, membawa hasil bumi mereka menuju pelabuhan dunia dengan harga diri yang utuh sebagai pemilik sah tanah pusaka.

Pertemuan Orang Gunung dan Orang Laut

Jauh di balik selubung misteri alamiah yang mengitarinya, Tor Pangolat sesungguhnya menyimpan fungsi sosiologis sebagai sebuah ruang rekonsiliasi budaya yang sangat sunyi namun mendalam. Puncak bukit ini berdiri kokoh sebagai titik temu psikologis yang menjembatani dua dunia, dua budaya, dua karakter dan dua cara hidup manusia yang berbeda. Di sebelah utara, membentang kehidupan masyarakat Mandailing pedalaman—mereka yang hidup intim melekat dengan tanah, menggantungkan napas pada persawahan yang subur, dan bersandar dengan teguh pada kerapatan hukum adat  yang terstruktur. Sementara di sebelah barat, sayup-sayup terdengar deru kehidupan masyarakat pesisir Natal—sebuah dunia maritim yang kosmopolitan, berdenyut dinamis lewat perdagangan samudera, dan bernapas longgar dalam kebebasan budaya pesisir yang bercampur budaya Melayu-Minang.

Di sinilah, di ketinggian Hemelspoort yang sepi ini, kedua identitas yang berbeda itu meluruhkan segala jarak spasial mereka. Puncak Tor Pangolat menjelma menjadi sebidang tanah netral, sebuah beranda bersama yang damai tempat orang gunung yang bersahaja dan orang laut yang penjelajah bisa duduk berdampingan di batas perjalanan. Mereka menurunkan beban bawaan, menyalakan kehangatan, dan saling bertukar cerita kehidupan tanpa ada sekat siapa yang lebih tinggi atau siapa yang merasa lebih dominan.

Tor Pangolat dengan keheningannya bertugas menyaring segala prasangka kultural yang mungkin tumbuh di dataran bawah. Dari ketinggian tempat ini, manusia diajak untuk menyadari sebuah filosofi sederhana namun agung bahwa ketegasan bukit yang menjulang tinggi dan keluasan laut yang membentang tanpa batas tidak pernah diciptakan untuk saling bertolak belakang, melainkan untuk saling berjabat tangan, menggenapi, dan melengkapi dalam satu bentang alam kemanusiaan yang utuh.

Jabat tangan kultural di atas bukit ini memiliki getaran melankolis yang indah. Orang gunung membawa keheningan tanah bungkulan, keteguhan prinsip yang diwarisi dari gemerisik rumpun bambu dan kokohnya tebing batu sementara orang laut membawa deru-desah ombak yang gelisah, keterbukaan pikiran dari mereka yang terbiasa menyambut kapal-kapal dari negeri asing. Ketika mereka bertemu di Tor Pangolat, dua energi yang kontras ini tidak saling berbenturan melainkan saling mereda.

Di atas puncak ini, mereka menyadari bahwa rasa lapar, rasa lelah dan rasa cinta terhadap keluarga adalah bahasa universal yang menyatukan mereka semua. Angin gunung yang bertiup di sela-sela obrolan mereka melarutkan segala perbedaan logat dan adat, menyisakan sebuah kesadaran bahwa mereka adalah anak-anak dari ibu bumi yang sama, yang hanya dipisahkan oleh pilihan tempat mencari penghidupan.

 

Belajar Mengatur Kecepatan

Di era modern yang serba bising saat ini, kelokan-kelokan tajam dan tanjakan ekstrem di Tor Pangolat membawa pesan tersirat yang menantang laju jalannya peradaban manusia. Manusia hari ini sering kali melintasi bumi dengan terburu-buru, dipacu oleh kecanggihan mesin, tuntutan akselerasi, dan ambisi buta untuk segera sampai ke tujuan tanpa memedulikan apa yang mereka lewati. Namun, begitu roda kendaraan menyentuh kaki tanjakan terjal di bukit ini, aspal yang meliuk ekstrem mengikuti pola kontur Bukit Barisan serta jurang dalam yang menganga di sisinya seketika memaksa manusia untuk bertindak nyata untuk menginjak rem dalam-dalam, menurunkan gigi kendaraan, dan memperlambat laju ego  sekecil mungkin.

Tor Pangolat menjelma menjadi sesosok guru spiritual yang teramat sunyi di pinggir jalan raya. Ia menghentikan secara paksa ketergesa-gesaan manusia modern yang melelahkan batin, memaksa kita untuk kembali terjaga, waspada, bersabar, serta menaruh rasa hormat pada jalan yang sedang kita lalui. Di sepanjang kelokannya, kecepatan teknologi dan kesombongan mesin moderen dipaksa untuk berlutut, takluk, dan tunduk pada hukum tua sang alam yang bersahaja namun tak terbantahkan. Tempat ini mengajarkan bahwa untuk melihat keindahan sejati, manusia terkadang harus dipaksa untuk melambatkan langkah mereka.

Kelokan terjal ini adalah antitesis dari dunia modern yang memuja kecepatan. Ketika jalan tol dibangun lurus tanpa hambatan agar manusia bisa melesat dengan kecepatan, Tor Pangolat sengaja membelokkan arah, menanjak ekstrim, menghadirkan tikungan patah yang menguji kewaspadaan jiwa. Di sini, kita diingatkan bahwa hidup bukanlah sekadar perlombaan untuk cepat sampai ke garis akhir. Setiap jengkal aspal yang berbatasan langsung dengan jurang menuntut kehadiran kita secara utuh. Sepasang tangan yang menggenggam kemudi dengan hormat, mata yang terjaga menatap kabut, dan batin yang dipaksa melambat untuk mendengarkan raungan mesin yang bekerja keras. Kelokan ini adalah bentuk interupsi suci dari alamckarena ia menjadi pengingat fisik bahwa ada hal-hal bernilai di dunia ini yang hanya bisa dipahami ketika kita bersedia menurunkan kecepatan dan berjalan dengan penuh ketundukan.

Pesan Akhir dari Bukit Penjaga

Kini, dua abad lebih telah berlalu sejak persahabatan Godon dengan Yang dipertuan Huta siantar terukir. Zaman telah berganti rupa, jalan setapak yang licin telah dilapisi aspal, dan jejak roda pedati masa lalu telah digantikan oleh raung mesin kendaraan modern yang melambat di setiap tikungannya. Namun, setiap kali kabut tipis mulai turun dari langit, membungkus kelokan Tor Pangolat dengan kelembutan misteriusnya, dan hawa dinginnya yang khas merayap perlahan menyentuh pori-pori wajah kita, kita tersadar bahwa tempat ini belum pernah kehilangan jiwanya sedikit pun. Keangkerannya yang berwibawa, kesucian adatnya, dan pesonanya yang magis tetap tegak berdiri menembus waktu.

Ia tetap menjadi sebuah pintu rahasia yang senantiasa terbuka, mengajak siapa saja yang melintas untuk sejenak menepi, menghela napas panjang, dan merenungkan perjalanan hidup mereka di tengah riuh rendah dunia modern.

Dari ketinggiannya yang berselimut misteri dan sunyi, Tor Pangolat membisikkan sebuah pesan abadi yang menggetarkan batin sanubari  bahwa sejauh apa pun manusia melangkah mengejar keluasan hidup di dunia luar dan setinggi apa pun mereka mendaki puncak ambisi keduniawian, akan selalu ada sebuah batas suci tempat mereka harus bersedia merunduk kembali, mengheningkan cipta, pulang ke akar jati diri, dan merawat keharmonisan tanah mistis yang diberkati ini dengan penuh rasa cinta.

Bisikan itu mengalir pelan bersama desir angin malam yang menembus sela-sela pepohonan purba. Ia bertindak sebagai pengingat abadi bagi jiwa-jiwa yang kesepian di tengah gemerlapnya modernitas. Ketika dunia luar menuntut kita untuk menjadi tanpa batas, tanpa akar, dan selalu bergerak maju tanpa menengok ke belakang.

Tor Pangolat tetap berdiri dalam diam yang abadi. Dari puncaknya yang sunyi, ia seolah berkata bahwa kemuliaan sejati seorang manusia tidak diukur dari seberapa banyak tanah yang telah ia taklukkan, melainkan dari seberapa besar rasa hormat yang ia sisakan untuk kesucian alam yang menghidupinya. Puncak yang menjaga ini akan terus abadi di sana, memeluk kabut setianya, merawat rahasia-rahasia purbanya, menjadi penanda abadi bahwa di tanah Mandailing, keindahan, misteri, dan martabat kemanusiaan akan selalu menemukan tempat tersendiri yang tak pernah lekang oleh hujan atau terik mentari.

Wallahu Aqlam Bisshawab…

 

DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, L. (2018). Sejarah Pantai Barat Sumatra: Dinamika Pelabuhan Natal dan Hubungan Dagang Pedalaman Mandailing Abad ke-19. Medan: Sumatra Heritage Press.

Godon, A. P. (1855). Memorie van Overgave van den Assistent-Resident van Mandheling en Ankola (Naskah Serah Jabatan Kolonial Belanda). Batavia: Landsdrukkerij.

Harahap, Basyral Hamidy. (1997). Willem Iskander (1840-1876) sebagai Pejuang Pendidikan dan Pendidik Pejuang Daerah Sumatera Utara. Medan: Tanpa Penerbit.

Harahap, Basyral Hamidy. (2001). Horja. Jakarta: Parsadaan Marga Harahap.

Harahap, Basyral Hamidy. (2004). Madina Yang Madani. Panyabungan: Pemerintah Daerah Kabupaten Madina.

Harahap, Basyral Hamidy, & Siahaan, Hotman M. (1987). Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola-Mandailing. Jakarta: Sanggar Willem Iskandar.

Iskander, Willem. (1872). Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk: Sada Buku Basaon. Batavia: Landsdrukkerij. (Edisi dwibahasa disertai pengantar dan terjemahan oleh Basyral Hamidy Harahap, 1987, Jakarta: Penerbit Puisi Indonesia).

Lubis, Abdur-Razzaq. (2015). Mandailing dan Natal: Menelusuri Batas Adat, Hutan Tabu, dan Sejarah Politik Kuria. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Nasution, Pandapotan. (2012). Kosmologi Adat Mandailing: Makna Banua Parginjang dan Filosofi Ruang Tradisional. Panyabungan: Lembaga Warisan Budaya Madina.

Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal. (2016). Peraturan Daerah Kabupaten Mandailing Natal Nomor 2 Tahun 2016 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016-2036. Panyabungan: Sekretariat Daerah.

Siregar, M. H., & Sakdiah. (2023). Analisis Ekolinguistik Kajian Teks Sastra Klasik Mandailing terhadap Perlindungan Kawasan Hutan Lindung Tradisional. Jurnal Excellence Budaya Nusantara, 12(2), 114–125.

Populer Minggu ini

Sanggar Salam Budaya: Dari Sebilah Golok, Merawat Ingatan dan Jati Diri Nusantara

Penulis: Ade Azmil Azhari Nasution Sekretaris Sanggar Salam Budaya Warisan budaya...

Memaknai Amanah Kepemimpinan: Antara Keikhlasan Niat, Akuntabilitas Publik, dan Kehendak Allah

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran Aksi pejabat publik yang turun ke...

Periode Ketiga, Dra. Hj. Maisyaroh Dalimunthe Kembali Mengemban Amanah Pimpin Muslimat NU Tapsel

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan – Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan...

Meminta Perpres Berbasis Data Panen: Hentikan Subjektivitas Prioritas Jalan Desa yang Selama ini Perlambat Pertanian & Perikanan

Penulis : Rasyid Assaf Dongoran Pemerhati Pertanian Berkelanjutan & Konservasi...

Mentan Amran Sulaiman Copot Manajer Pupuk di Sulteng: Anda Digaji untuk Melayani Rakyat, Bukan untuk Bergaya!

SumutNews.co, Medan— Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencopot seorang...

Berita Terkait