Sanggar Salam Budaya: Dari Sebilah Golok, Merawat Ingatan dan Jati Diri Nusantara

Penulis: Ade Azmil Azhari Nasution
Sekretaris Sanggar Salam Budaya

Warisan budaya bukan sekadar benda peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, nilai, filosofi, identitas, bahkan cara masyarakat memahami kehidupan. Ketika sebuah warisan budaya mulai dilupakan, hal yang terancam hilang bukan hanya sebuah benda atau tradisi, melainkan juga sebagian dari ingatan kolektif suatu bangsa.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, upaya mengenalkan kembali kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda menjadi pekerjaan yang sangat penting. Salah satu komunitas yang mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut adalah Sanggar Salam Budaya. Sanggar ini memberikan perhatian khusus pada pelestarian budaya Nusantara, terutama dalam mengenalkan golok sebagai senjata dan warisan tradisional Indonesia.

Sanggar Salam Budaya saat ini dipimpin oleh Abangda Yusman Andrio Sofli Ratta sebagai Pembina dan Abangda Laderri Nur Syafrizal sebagai Ketua.

Kehadiran sanggar ini menarik karena pelestarian budaya tidak ditempatkan semata-mata sebagai kegiatan seremonial. Golok dijadikan sebagai pintu masuk untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal lebih jauh sejarah, filosofi, keterampilan, seni, tradisi, dan nilai-nilai yang tumbuh di tengah masyarakat Nusantara.

Golok Bukan Sekadar Senjata

Menyebut golok sering kali membuat orang langsung berpikir tentang senjata tajam. Padahal, dalam perjalanan kebudayaan Nusantara, golok memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Golok hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai perkakas, alat pertanian, perlengkapan harian, pusaka, simbol identitas, bagian dari tradisi bela diri, hingga karya seni yang memiliki nilai estetika dan filosofi.

Oleh karena itu, memperkenalkan golok kepada generasi muda tidak berarti mengajarkan penggunaan senjata untuk kekerasan. Sebaliknya, hal yang jauh lebih penting adalah memperkenalkan sejarah dan nilai budaya yang melekat padanya.

Berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi golok dengan karakteristik masing-masing. Pemerintah bahkan telah menetapkan sejumlah tradisi golok sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Golok Ciomas dan Golok Sulangkar dari Banten, misalnya, tercatat sebagai warisan budaya dalam domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Demikian pula Golok Betawi, yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2021.

Hal ini membuktikan bahwa keberadaan golok memiliki posisi yang lebih dalam daripada sekadar benda tajam; ia menjadi bagian dari identitas dan perjalanan kebudayaan masyarakat.

Dari Tangan Empu ke Generasi Muda

Salah satu persoalan terbesar dalam pelestarian budaya adalah regenerasi. Sebuah tradisi bisa saja sangat kaya dan memiliki sejarah panjang. Namun, jika tidak ada generasi yang mau mempelajari dan meneruskannya, tradisi tersebut pada akhirnya dapat punah.

Kekhawatiran ini nyata terjadi. Kajian mengenai Golok Walahir di Sindangkerta, Tasikmalaya, menunjukkan bahwa tradisi tersebut pernah kehilangan penerus pembuatnya. Empu pandai besi terakhir, Puh Bihot, meninggal pada 1955. Karena tidak ada lagi penerus, diperlukan langkah pelestarian melalui penuturan lisan, tulisan, platform digital, dan pengembangan prototipe agar pengetahuan tentang golok tersebut tetap diwariskan.

Pelajaran penting dari kasus tersebut adalah pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan benda. Pengetahuannya harus diwariskan, cara membuatnya harus dipelajari, sejarahnya harus ditulis, filosofinya harus dijelaskan, dan ceritanya harus didokumentasikan. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengenal serta mengapresiasinya. Di sinilah keberadaan sanggar budaya seperti Sanggar Salam Budaya memiliki arti strategis.

Sanggar Salam Budaya dan Gerakan Melestarikan Golok

Aktivitas Sanggar Salam Budaya dalam mengangkat golok sebagai bagian dari budaya Nusantara bukanlah gerakan tunggal. Gerakan serupa juga berkembang di berbagai daerah melalui komunitas budaya, perguruan silat, perajin, budayawan, akademisi, dan pemerintah daerah.

Sanggar Salam Budaya sendiri telah menunjukkan kepedulian terhadap golok melalui kegiatan yang menggabungkan budaya, silat, edukasi, dan apresiasi terhadap pusaka Nusantara.

Pada peringatan HUT ke-2 Sanggar Salam Budaya di Saribudolok, Kabupaten Simalungun, pada 28 Juni 2024, misalnya, digelar peragaan jurus golok oleh pendekar Perguruan Silat Walet Puti. Sebanyak 67 jurus golok diperagakan hingga mendapatkan pencatatan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk pagelaran jurus golok dengan langkah terbanyak, yaitu 2.000 langkah. Kegiatan itu juga diisi dengan seminar tentang golok sebagai budaya bangsa yang menghadirkan penggiat seni pencak silat dan senjata golok.

Rangkaian acara tersebut memperlihatkan bahwa golok dapat diperkenalkan melalui pendekatan yang positif: seni, olahraga tradisional, sejarah, diskusi, pendidikan, dan kebudayaan. Tema kegiatan saat itu, “Lestari Tradisi, Lestari Budaya, Jayalah Indonesia”, memiliki pesan yang sangat kuat: mencintai budaya bukan berarti hidup di masa lalu. Justru dengan memahami masa lalu, kita memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menatap masa depan.

Mengapa Generasi Muda Harus Mengenal Warisan Nusantara?

Pertanyaan ini menjadi sangat penting. Generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup berdampingan dengan internet, media sosial, kecerdasan buatan, budaya populer global, dan berbagai informasi tanpa batas.

Kondisi tersebut tentu bukan sesuatu yang harus ditolak. Namun, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan identitas. Jangan sampai anak muda Indonesia sangat mengenal budaya populer dari berbagai belahan dunia, tetapi tidak mengetahui sejarah budaya yang tumbuh di daerahnya sendiri. Jangan sampai mereka mengenal berbagai jenis senjata tradisional dari film atau gim digital, tetapi asing dengan golok, keris, kujang, mandau, parang, badik, atau berbagai pusaka Nusantara yang memiliki sejarah panjang.

Oleh karena itu, pendekatan pelestarian budaya harus adaptif. Budaya harus didekatkan dengan generasi muda melalui berbagai cara:
– Jika generasi muda menyukai teknologi, budaya harus hadir dalam media teknologi.

– Jika mereka aktif di media sosial, cerita tentang budaya harus hadir di media sosial.

– Jika mereka menyukai konten visual, dokumentasi budaya harus dibuat menarik secara visual.

– Jika mereka menyukai olahraga dan seni bela diri, sejarah golok dapat diperkenalkan melalui seni pencak silat dengan tetap menekankan nilai disiplin, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap budaya.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak lagi berkesan kuno.

Belajar dari Para Penggiat Golok

Gerakan pelestarian golok di Indonesia menunjukkan bahwa perhatian terhadap pusaka tradisional semakin berkembang. Berbagai komunitas mengadakan pameran, sarasehan, lokakarya, kajian sejarah, dokumentasi, dan kegiatan yang mempertemukan para perajin, kolektor, pendekar, budayawan, serta masyarakat.

Golok Ciomas merupakan salah satu contoh bagaimana benda tradisional dapat menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah. Tradisi pembuatannya diwariskan secara turun-temurun dan melibatkan keterampilan pandai besi masyarakat setempat. Sementara itu, Golok Betawi menjadi contoh bagaimana benda budaya dapat hidup berdampingan dengan tradisi masyarakat hingga mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Berbagai contoh tersebut memberikan pelajaran bahwa pelestarian budaya membutuhkan ekosistem. Tidak cukup hanya mengandalkan perajin; dibutuhkan pula peneliti, budayawan, komunitas, pemerintah, dunia pendidikan, media, dan generasi muda. Hal yang tidak kalah penting adalah tersedianya ruang bagi masyarakat untuk mengenal budaya tersebut secara terbuka dan positif.

Jangan Sampai Budaya Hanya Tinggal Nama

Sebuah bangsa dapat kehilangan budaya bukan karena budayanya dihancurkan, melainkan karena generasinya tidak lagi mengenalnya. Ketika seorang empu meninggal dan tidak ada yang meneruskan keahliannya, satu mata rantai pengetahuan terputus. Ketika sebuah tradisi tidak lagi diceritakan, ingatan mulai memudar. Ketika generasi muda tidak lagi mengetahui filosofi sebuah pusaka, benda tersebut perlahan berubah menjadi sekadar barang tua.

Oleh karena itu, tugas komunitas budaya seperti Sanggar Salam Budaya menjadi sangat penting. Sanggar bukan hanya tempat berkumpul, melainkan dapat menjadi ruang pendidikan kebudayaan berbasis masyarakat.

Di dalamnya, generasi tua dapat berbagi pengalaman kepada generasi muda, para penggiat dapat mentransfer pengetahuan, pendekar memperkenalkan nilai disiplin, budayawan menjelaskan sejarah, dan perajin memperlihatkan keterampilan. Dengan demikian, generasi muda dapat menjadi penerus yang membawa seluruh pengetahuan tersebut ke masa depan.

Dari Sebilah Golok untuk Indonesia

Pada akhirnya, golok bukan sekadar sebilah logam yang ditempa. Di balik bilah tersebut, terdapat cerita tentang seorang empu, sebuah keluarga, kampung, masyarakat, hingga sebuah peradaban. Ada pengetahuan tentang api dan besi, keterampilan tangan, seni membuat gagang dan sarung, sejarah, filosofi, identitas, serta ingatan tentang bagaimana manusia Nusantara menjalani kehidupannya.

Oleh karena itu, mengenalkan golok kepada generasi muda pada hakikatnya adalah bagian dari mengenalkan Indonesia kepada anak-anak Indonesia sendiri. Apa yang dilakukan Sanggar Salam Budaya patut ditempatkan dalam perspektif tersebut.

Di bawah pembinaan Abangda Yusman Andrio Sofli Ratta dan kepemimpinan Abangda Laderri Nur Syafrizal, Sanggar Salam Budaya dapat terus dikembangkan menjadi ruang edukasi, apresiasi, dan regenerasi budaya yang menghubungkan warisan leluhur dengan generasi masa kini.

Tantangannya tentu tidak ringan. Namun, pelestarian budaya memang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan regenerasi. Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat generasi muda mampu mengenali bentuk sebuah golok, melainkan memahami nilai, sejarah, dan jati diri yang ada di baliknya.

Kita boleh hidup pada zaman digital, menggunakan teknologi paling modern, dan menjadi bagian dari masyarakat global. Namun, jangan sampai kemajuan membuat kita kehilangan akar. Bangsa yang memahami akar budayanya akan lebih percaya diri berdiri di tengah perubahan zaman. Dari sebilah golok, Sanggar Salam Budaya sedang ikut merawat satu bagian kecil dari ingatan besar bernama Nusantara.

Lestari Tradisi. Lestari Budaya. Jayalah Indonesia.

Populer Minggu ini

Membaca Jiwa Tor Pangolat

Oleh : Moechtar Nasution Ada satu titik di punggungan Bukit...

Memaknai Amanah Kepemimpinan: Antara Keikhlasan Niat, Akuntabilitas Publik, dan Kehendak Allah

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran Aksi pejabat publik yang turun ke...

Periode Ketiga, Dra. Hj. Maisyaroh Dalimunthe Kembali Mengemban Amanah Pimpin Muslimat NU Tapsel

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan – Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan...

Meminta Perpres Berbasis Data Panen: Hentikan Subjektivitas Prioritas Jalan Desa yang Selama ini Perlambat Pertanian & Perikanan

Penulis : Rasyid Assaf Dongoran Pemerhati Pertanian Berkelanjutan & Konservasi...

Mentan Amran Sulaiman Copot Manajer Pupuk di Sulteng: Anda Digaji untuk Melayani Rakyat, Bukan untuk Bergaya!

SumutNews.co, Medan— Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencopot seorang...

Berita Terkait