Oleh: Rajidt Malley
Anatomi Segitiga Api dan Kejahatan Pembakaran Lahan
Ratusan titik api menyala di hutan-hutan Kalimantan di tahun 2026 ini. Dilaporkan oleh BNPB bahwa sudah lebih dari 57.000 hektare hutan dan lahan di Kalimantan terbakar sampai akhir Agustus tahun ini. Diperkirakan, peristiwa ini masih akan terus berlangsung dan terjadi pula di daerah-daerah lain.
Peristiwa kebakaran apa pun, termasuk pada hutan dan lahan, sesungguhnya terjadi karena reaksi kimia cepat atau reaksi oksidasi tiga faktor penyebab sebagai komponen penting, yaitu bahan rawan bakar (materi organik guguran daun, ranting, dan cabang pohon yang menjadi serasah), gas oksigen (keberadaan dan gerak udara atau angin kering-panas), serta sumber api (percikan pemantik nyala api yang muncul saat itu). Dua faktor terdahulu merupakan syarat cukup sebagai keniscayaan, sedangkan satu faktor terakhir adalah syarat perlu sebagai jaminan. Arsiran tiga faktor penting inilah yang disebut dengan peristiwa kebakaran atau menyalanya api. Pada perkembangan lanjut, api membesar, merambat, dan meluas dengan cepat karena faktor-faktor penting itu sudah merata tersedia di tempat asal mula serta ada pula di tempat-tempat lainnya.
Kebakaran hutan dan lahan selalu terjadi setiap tahun sehingga pencegahan atau penanggulangan semestinya relatif mudah dilakukan. Tetapi, mengapa kebakaran ini selalu terjadi dan sulit dicegah atau dipadamkan? Mustahil pasukan bomba tidak meningkat kapasitas dan peralatan teknisnya untuk menyikapi peristiwa berulang. Jawaban paling masuk akal adalah karena hutan dan lahan memang perlu atau sengaja dibakar untuk pembersihan kawasan secara mudah dan berbiaya murah guna perluasan ladang, kebun, hutan tanaman industri, permukiman, penggembalaan ternak, dan sebagainya. Semuanya itu dilakukan atau dibiarkan dengan mengatasnamakan pembangunan demi kesejahteraan rakyat serta untuk kemajuan bangsa dan negara. Alasan-alasan ideologis ini pula yang selalu mengakhiri polemik panjang terkait isu pembakaran hutan dan lahan.
Padahal, apabila mengikuti teori ini, maka pembakaran hutan setiap tahun patut diduga dilakukan, dibiarkan, atau melibatkan pihak-pihak yang punya ide atau berkepentingan meraup untung sebesar-besarnya dengan cara memperluas lahan ladang, kebun, HTI, permukiman, penggembalaan, dan sebagainya itu. Jika itu mewujud, pasti pula terkait atau punya relasi kuasa dengan otoritas relevan yang mengelola hutan dan lahan pada level terendah sampai tertinggi. Singkatnya, pembakaran hutan dan lahan yang luas juga terhubung dengan rencana dan persiapan pihak-pihak agar punya otoritas kuasa yang bisa pula mengondisikan bertemunya tiga komponen penting yang sudah disebutkan, yaitu bahan-bahan rawan bakar dan lingkungan pendukung (syarat cukup) serta sumber api pemantiknya (syarat perlu).
Menamsilkan Kebakaran Hutan pada Dinamika Politik dan Kerusuhan Massa
Pemahaman tentang pembakaran hutan dan lahan ini agaknya dapat pula dijadikan dalil hipotetis tentang proses terjadinya kerusuhan yang berujung pada amuk massa saat demonstrasi isu apa pun. Kerusuhan dan amuk massa yang meluas patut diduga terkait dengan otoritas kuasa yang mau dibangun atau dijatuhkan oleh pihak yang berhasrat. Karena itu, menamsilkan bahan-bahan rawan bakar sebagai pihak-pihak berkekuatan besar serta hubungannya dengan tampilan dan ucapan sosok atau gerak organisasi yang dipimpinnya itu sebelum, sesaat, dan sesudah kerusuhan, tentu menarik untuk dianalisis.
Media massa, baik yang konvensional maupun medsos beragam platform, pernah memberitakan tentang perjumpaan bekas presiden Jokowi dengan Hercules pimpinan ormas GRIB Jaya yang memperingatkan kelompok mana pun untuk tidak mengusik bekas presiden Jokowi. Artinya, ada arsiran kepentingan atau hubungan istimewa antara Jokowi dan Hercules berikut ormas yang dipimpinnya. Makna yang sama dapat pula dilekatkan pada pertemuan Jokowi dengan relawan-relawannya di mana Budi Arie ketua Projo membuat pernyataan menghebohkan.
Meminjam teori pembakaran hutan, maka gerakan Projo dan GRIB Jaya dapat dianggap sebagai dinamika sebagian bahan-bahan rawan bakar peristiwa politik yang siaga untuk bergesekan atau berbenturan secara frontal dengan pihak lainnya. Pihak-pihak lain bisa saja muncul karena dirugikan oleh peristiwa siswa-siswa yang keracunan MBG dan korupsi yang dikomandoi Dadan Hindayana ketua BGN. Peristiwa-peristiwa itu semua tentu pula telah membuahkan kejengkelan massa dan mudah berubah menjadi amuk kalau ada momentumnya. Setali tiga uang dengan itu adalah peristiwa politik berupa kreativitas curi start Jokowi kampanye keliling buat popularitas PSI lalu didaulat sebagai raja-rajaan di saat dugaan ijazah palsunya dan ketiadaan ijazah SLTA Gibran serta legalitas dan legitimasinya sebagai wapres dipersoalkan banyak pihak.
Pada kesempatan lain, publik dihebohkan lagi dengan berita tentang ulah Hercules preman asal Timor Timur yang berucap penaka calo neraka yang seolah menantang komunitas ojek online pascademo 27 Agustus 2026. Diikuti lagi dengan berita ulah Jokowi seolah masih presiden dengan mengundang Xanana Gusmao Perdana Menteri Timor Leste ke Solo saat Prabowo tiba dari kunjungan singkat ke Rusia. Para tokoh ini sengaja diberitakan untuk menciptakan suasana publik meranggas panas dan rawan konflik agar gampang disulut titik nyala atau amarah pihak yang berseberangan. Semua berita kiwari di atas agaknya sinkron dengan pernyataan Budi Arie dalam pertemuan relawan-relawan Jokowi: insting patahan sejarah berupa celetukan isyarat agar para pendukung Jokowi senantiasa bersiaga kalau momentum ganti presiden dimungkinkan sebelum 2029.
Akumulasi Bahan Bakar Menuju Amuk Massa dan Ujian Kekuasaan
Tamsilan atau analogi bahan rawan bakar berupa pihak-pihak dengan gerombolan besar fanatik totok pada tokohnya serta suasana lingkungan kering-panas karena isu-isu yang disorot media itu selalu menjadi pemberitaan ramai yang membentuk opini, sikap, dan tindakan tendensius tertentu. Bahan-bahan rawan bakar itu siap menyala hebat di tengah suasana yang semakin panas. Selain ulah laku Hercules bersama GRIB Jaya dan Budi Arie bersama relawan-relawan Jokowi, muncul pula aksi Botot cs dari Pati, reaksi komunitas ojek online yang dulu lahir sebagai bidang usaha yang diinisiasi oleh Nadiem Makarim, serta respons masyarakat dunia pendidikan dasar-menengah, termasuk tanggapan geram Bahar Smith dan Rizieq Shihab bersama muhibbin-muhibbinnya yang sedang diterpa isu palsu nasab nabi.
Bahan-bahan rawan bakar itu semua terbentuk karena fanatisme totok pada tokoh-tokoh panutannya yang tidak lagi ‘resmi berkuasa’ serta tak terelakkan masih berada pula dalam lingkungan kering-panas isu-isu sensitif yang memproduksi kejengkelan, rasa muak, marah, dan murka yang mudah berubah menjadi amuk massa. Pihak otoritas keamanan (termasuk pertahanan) harus mewaspadai agar demonstrasi tidak menjadi momen signifikan yang potensial menyebabkan gesekan atau bentrok massa sebagai sumber titik api.
Kewaspadaan ekstra memang harus ditingkatkan karena lingkungan kering-panas itu hampir tersebar luas merata di seluruh Indonesia sehingga bentrokan kecil sekali pun akan menjadi api pemantik yang menyulut kemarahan rakyat yang juga tercipta di mana-mana. Kemarahan ini meningkat menjadi kemurkaan yang terus membesar karena media-media memberitakan tanpa henti realitas isu-isu korupsi pejabat dan laku flexing keluarganya, pembakaran hutan dan lahan, siswa-siswa keracunan MBG, konversi hutan luas menjadi lahan sawit, derita penyintas bencana, bertambahnya beban pajak yang memelaratkan, berikut harga-harga kebutuhan hidup yang tidak terjangkau rakyat.
Sementara isu-isu itu masih berlangsung tanpa henti, berita-berita media masih pula berulang diimbuhi dengan joget gemoy dan omon-omon Presiden Prabowo yang berlumuran hawa pongah, narsis, dan naif. Jika Prabowo dan kelompoknya sebagai penguasa tidak punya kepekatanggapan untuk segera meredam potensi amuk massa sekecil apa pun, maka kejatuhannya sebelum 2029 bukanlah sekadar insting patahan sejarah, tetapi boleh jadi memang bagian dari rekayasa skenario sistematis yang mangkus.
Dengan tamsil politik pembakaran hutan dan lahan, maka dapat dipahami pula bahwa kerusuhan bermuatan amuk massa adalah peristiwa sengaja yang melibatkan kepentingan sosok atau pihak yang berhasrat mempertahankan atau sebaliknya merebut dan menjatuhkan kekuasaan. Sosok dan pihak ini boleh jadi merupakan salah satu dari pihak guguran kekuasaan dulu dan kini, atau pihak yang marah karena bagian dari peristiwa-peristiwa yang diberitakan media, atau pihak yang sengaja mendorong bentrok saat terjadi demonstrasi. Sosok atau pihak itu bisa saja merupakan kelompok oposisi atau boleh jadi berasal dari lingkar dalam atau hopeng Prabowo sendiri.