Penulis: Rasyid Assaf Dongoran
Kesempitan rezeki bukan sekadar masalah keuangan, melainkan krisis spiritual akibat kelalaian ibadah dan salahnya tujuan niat. Dalam perspektif Islam, kesusahan rezeki terbagi menjadi dua wujud utama:
Berpenghasilan Banyak Tapi Selalu Kurang
Kondisi ketika seseorang memiliki kekayaan melimpah, tetapi kehidupannya dipenuhi kecemasan, ketidakpuasan, dan kehampaan.
Siksaan Berbalut Kenikmatan: Harta tanpa keberkahan menjadi penjara batin. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tawbah ayat 55:
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…
“Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (harta dan anak-anak) itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia…”
Jebakan Niat Duniawi: Ketika kerja keras dan ibadah hanya bertujuan pada materi, rezeki kehilangan nilai utamanya, yaitu keberkahan, di dalam QS. Asy-Syura ayat 20 :
…وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“…dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya dan di akhirat dia tidak akan memperoleh bagian apa pun.”
Hakikat Kekayaan Sejati: Rasulullah SAW menegaskan bahwa kecukupan tidak diukur dari banyaknya materi, dinyatakan dalam
HR. Bukhari no. 6446 & Muslim no. 1051 :
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta benda, melainkan kekayaan (sejati) adalah kekayaan jiwa.”
Penghasilan Sedikit dan Hidup Kekurangan
Bentuk kerugian ganda ketika seseorang terhimpit secara ekonomi sekaligus terputus dari Allah SWT akibat meninggalkan shalat.
Meninggalkan Shalat & Sumber Rezeki: Menangguhkan shalat demi pekerjaan adalah kekeliruan fatal. Shalat adalah perintah sekaligus jaminan rezeki
Meninggalkan ibadah shalat justru memicu kesempitan hidup (ma’isyatan dhangka), dalam Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa shalat bukanlah beban yang mengurangi produktivitas, melainkan sumber utama pintu rezeki.
Pada Surah Ta-Ha ayat 132, Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Wa’mur ahlaka bis-ṣalāti waṣṭabir ‘alaihā, lā nas’aluka rizqā, naḥnu narzuquk, wal-‘āqibatu lit-taqwā.
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik di akhirat adalah bagi orang yang bertakwa.”
Dan
QS. Ta-Ha ayat 124 :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا…
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit…”
Kebangkrutan Dunia & Akhirat: Kemiskinan materi yang disertai keengganan beribadah berujung pada kerugian mutlak di dunia dan akhirat dinyatakan dalam QS. Al-Hajj ayat 11
…خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“…Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.”
Resiko Meninggalkan Shalat Ibadah: Pada HR. Tirmidzi no. 2466, Rasulullah SAW menyampaikan peringatan Allah Ta’ala dalam Hadits Qudsi:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku tutup kefakiranmu.'”
Berubahlah Niat dan Ketakwaan
Solusi atas kedua jenis kesusahan ini bukan sekadar menambah jam kerja, melainkan meluruskan niat dan membaguskan shalat. Keberkahan sejati hanya terbuka melalui iman dan ketakwaan, pada QS. Al-A’raf ayat 96
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, tentulah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Tujuan kehidupan yang menempatkan akhirat di atas segalanya dijanjikan kecukupan utuh,terdapat pada HR. Tirmidzi no. 2465, sebagaimana sabda Rasulullah SAW
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan menjadikan kecukupan dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk…”
Ketika akhirat dijadikan pusat tujuan hidup, dunia akan hadir mengiringi dalam keadaan tunduk dan penuh keberkahan.