Sumutnews.co, Medan — Di balik 24 gelar juara karya ilmiah nasional dan internasional yang diraih Ronny, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU), tersimpan proses panjang yang tidak selalu mulus. Mahasiswa angkatan 2022 ini tidak langsung menemukan minatnya pada dunia riset. Ia bahkan sempat menganggap menulis karya ilmiah sebagai kegiatan yang melelahkan karena menuntut banyak referensi dan revisi.
Perjalanan itu berubah ketika Ronny mencoba mengikuti kompetisi karya ilmiah pada 2024. Dalam kompetisi perdananya, ia bersama tim meraih juara dua pada Kompetisi Inovasi Sains Nasional yang diselenggarakan Universitas Nusa Cendana. Hasil tersebut menjadi titik awal bagi Ronny untuk lebih serius menekuni riset dan kompetisi ilmiah.
Namun, kemenangan pertama tidak membuat jalan Ronny menjadi mudah. Ia sempat berhenti pada tahap seleksi full paper dan mengalami sejumlah kegagalan dalam kompetisi lain. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia bersama tim mengikuti kompetisi di Universitas Gadjah Mada tanpa terlalu menargetkan kemenangan.
“Yang paling berkesan itu lomba saya di UGM. Pada saat itu, tim dan saya tidak ada kepikiran untuk juara. Saya juga belum pernah ikut lomba di universitas besar, dan UGM merupakan pertama kali saya berlomba di universitas besar lalu menang,” ungkap Ronny.
Dari pengalaman tersebut, Ronny belajar bahwa keberanian mencoba sering kali menjadi awal dari sebuah capaian. Ia tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi pada kompetisi berikutnya.
Dalam mengikuti kompetisi, Ronny menerapkan pola kerja yang teratur. Ia biasanya mulai menyiapkan karya ilmiah satu hingga dua minggu sebelum tenggat agar dapat membagi waktu antara perkuliahan dan persiapan lomba. Ia juga menyelesaikan pekerjaan secara bertahap, mulai dari menentukan fokus persoalan, menelusuri referensi, menyusun argumen, hingga melakukan revisi.
“Saya pakai sistem cicil, jadi tidak langsung sekali kebut. Rasa malas pasti ada, tetapi kalau kita mulai sedikit demi sedikit, hasil di akhir akan terlihat,” ujar Ronny.
Strategi tersebut membantu Ronny tetap konsisten mengikuti kompetisi tanpa mengabaikan tanggung jawab akademik. Dalam beberapa periode, ia bahkan mengikuti hingga delapan sampai sembilan kompetisi dalam satu bulan. Kini, ia lebih selektif dengan mengikuti sekitar lima hingga enam kompetisi karya ilmiah setiap bulan.
Ronny juga tidak membatasi diri pada bidang kesehatan. Setelah awalnya berfokus pada teknologi kesehatan, ia mulai mengeksplorasi bidang kimia, biologi, teknik, kesehatan hewan, hingga psikologi. Baginya, perbedaan bidang justru memperluas cara pandangnya dalam memahami sebuah persoalan dan mencari solusi.
Konsistensi itu membawa Ronny meraih 24 gelar juara dari berbagai perguruan tinggi dan institusi, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Diponegoro, IPB University, serta Politeknik Statistika STIS. Salah satu capaian internasionalnya adalah posisi 1st Runner-Up dalam International Paper Innovation Contest pada The 14th Civil Engineering Innovation Contest Universitas Diponegoro 2026 melalui karya SMART-TILT.
Selain berkompetisi, Ronny juga berbagi pengalaman melalui kegiatan mentoring. Ia pernah menjadi mentor Proyek MKWK USU 2024, pemateri Smart Class Forum Prestasi Mahasiswa FEB USU 2025, serta mentor Klinik Karya Tulis Ilmiah FPM GEM FEB USU 2025. Melalui peran tersebut, ia membantu mahasiswa lain mengembangkan ide, menyusun karya, dan mempersiapkan diri mengikuti kompetisi.
Bagi Ronny, 24 gelar juara bukan merupakan hasil dari perjalanan yang selalu lancar. Capaian itu tumbuh dari keberanian memulai, kesediaan belajar dari kegagalan, serta kemauan untuk terus memperbaiki cara kerja. Ia berharap pengalaman tersebut dapat memberi gambaran bahwa mahasiswa dapat mengembangkan potensinya melalui proses yang konsisten, bukan hanya mengandalkan bakat. (Rel)