SumutNews.co, Jakarta — Tren mengubah foto diri menjadi potret retro bergaya era 1980-an menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) tengah digandrungi pengguna media sosial. Namun, di balik estetik busana vintage, gaya rambut mengembang, dan pencahayaan studio klasik tersebut, terdapat dampak lingkungan signifikan yang jarang disadari pengguna.
Ancaman Krisis Energi dan Rebound Effect. Pusat data di seluruh dunia saat ini tercatat mengonsumsi sekitar 448 terawatt-jam (TWh) listrik, dengan AI menyumbang sekitar seperlima dari total tersebut. Pada 2030, konsumsi daya tahunan pusat data diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat menjadi 945 TWh, dengan porsi AI mencapai 40 persen.
Kemudahan menghasilkan avatar AI hanya dalam hitungan detik membuat pengguna kerap mencoba puluhan kali untuk mendapatkan hasil terbaik. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai rebound effect, kondisi ketika teknologi yang kian efisien dan murah justru mendorong peningkatan penggunaan secara masif, sehingga total konsumsi sumber daya tetap membengkak.
Hitungan Jejak Air dan Listrik per Foto AI. Laporan terbaru menunjukkan bahwa proses pembuatan gambar berbasis AI membutuhkan daya komputasi tinggi. Riset dari Carnegie Mellon University dan Hugging Face memperkirakan pembuatan satu gambar AI membutuhkan listrik antara 0,01 hingga 0,29 kilowatt-jam (kWh), bergantung pada sistem, serta kompleksitas proses yang digunakan.
Studi lain dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health mengestimasi bahwa pembuatan satu gambar AI beresolusi standar mengonsumsi daya sekitar 2,9 watt-jam (Wh). Kebutuhan energi tersebut setara dengan menyalakan lampu LED 10 watt selama 17 menit.
Selain listrik, pembuatan satu gambar AI menyumbang jejak air sekitar 29 mililiter atau setara dua sendok makan untuk pendinginan evaporatif di pusat data dan proses pembangkitan listrik. Jika publik secara global menghasilkan 300 juta gambar AI per hari, jejak air tahunan yang dihasilkan dapat mencapai lebih dari tiga miliar liter.
Konsumsi ini membengkak lebih besar pada konten video berbasis AI, di mana satu video pendek dapat menghabiskan sekitar 4,1 liter air dan energi yang cukup untuk menyalakan lampu LED selama 42 jam.
Seiring meningkatnya tren AI generatif, konsumsi air global untuk infrastruktur AI diperkirakan dapat mencapai 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027. Hal ini makin mengkhawatirkan mengingat dua pertiga pusat data yang dibangun setelah 2022 berlokasi di wilayah yang tengah mengalami krisis air ( SN08)
