Sumutnews.co Riyadh — Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammed Al-Jaber, melontarkan kritik keras terhadap milisi Houthi. Ia menuding kelompok yang didukung Teheran itu secara sistematis mengeksploitasi krisis ekonomi dan kemanusiaan di Yaman untuk menimbun pundi-pundi perang serta menyabotase proses perdamaian.
Melalui akun resminya di platform media sosial X, Al-Jaber membeberkan bahwa Houthi sengaja mengalihkan berbagai pos pendapatan publik, mulai dari pajak, bea cukai pelabuhan, hingga industri telekomunikasi.
Dana tersebut digunakan untuk mendanai agresi bersenjata terhadap rakyat Yaman, menyerang wilayah kedaulatan Saudi, dan meneror kapal-kapal komersial di jalur pelayaran internasional.
“Yaman bukan milik Houthi, dan Taiz tidak akan terus disandera oleh agenda mereka,” kata Al-Jaber, Selasa, 20 Oktober.
Menurut Al-Jaber, praktik lancung itu dilakukan di tengah pembiaran nasib rakyat di wilayah kekuasaan Houthi yang tidak menerima gaji pegawai negeri serta ketiadaan pasokan layanan dasar publik. Ia mengutip laporan Panel Pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2024 yang mengungkap manipulasi jaringan telekomunikasi oleh Houthi lewat jutaan pesan singkat (SMS) kepada pelanggan untuk mengumpulkan donasi armada pesawat nirawak (drone) dan pertahanan maritim.
Laporan PBB tersebut mencatat Houthi meraup sedikitnya 994 miliar riyal Yaman (sekitar US$4,2 miliar) dari pungutan bea masuk bahan bakar yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan di bawah kendali mereka sepanjang April 2022 hingga Juni 2024. Jika dihitung beserta margin laba lainnya, sektor bahan bakar menyumbang pendapatan fantastis hingga 1,34 triliun riyal Yaman.
Tak hanya itu, Al-Jaber merujuk data Kementerian Keuangan Amerika Serikat yang mengungkap bahwa Houthi mengantongi sedikitnya US$2 miliar per tahun dari jalur perdagangan minyak selundupan.
“Praktik Houthi memperlihatkan pola berulang: memanfaatkan krisis sebagai instrumen tekanan politik, lalu memosisikan diri sebagai korban sambil lepas tangan dari keputusan yang mereka buat sendiri,” tulis Al-Jaber. Dampaknya, kata dia, adalah rakyat yang kelelahan dipaksa menanggung beban proyek petualangan militer ekstremis demi melayani agenda asing.
Situasi Mencekam di Taiz
Kecaman diplomat Riyadh tersebut mencuat berbarengan dengan memburuknya eskalasi militer di lapangan. Di Taiz, kota yang telah lama dikepung Houthi, serangan roket terbaru menghantam kawasan permukiman sipil hingga menewaskan dua remaja perempuan dan melukai enam warga lainnya.
Pengepungan berkepanjangan itu telah memutus urat nadi distribusi logistik, memicu lonjakan harga pangan dan bahan bakar, serta memaksa ribuan keluarga mengungsi. Kepala HAM PBB, Volker Türk, memperingatkan bahwa blokade tersebut menempatkan ribuan warga sipil dalam ancaman bahaya kemanusiaan akut dan mendesak dibukanya koridor bantuan tanpa syarat.
Al-Jaber turut menepis dalih Houthi yang kerap menuding koalisi melakukan blokade ekonomi. Ia menegaskan Pelabuhan Hodeidah tetap terbuka dan aktif menerima pasokan pangan, suplai medis, maupun bahan bakar komersial.
Ia menegaskan Arab Saudi akan terus mempertahankan wilayahnya dari eskalasi serangan, termasuk rentetan insiden penyerangan ke fasilitas sipil seperti di Bandara Internasional King Khalid beberapa waktu lalu. Riyadh, kata Al-Jaber, tetap berkomitmen mendukung pemerintahan Yaman yang diakui komunitas internasional hingga stabilitas dan pembangunan jangka panjang kembali terwujud. (SN17)