Oleh: Moechtar Nasution
Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *
Pendahuluan
Ada bias kolektif yang agak aneh dalam obrolan publik kita setiap kali mendefinisikan entitas bernama “santri”. Sadar atau tidak, tipifikasinya sering kali diredusir secara sepihak pada simbol-simbol material yang seragam—deretan kain sarung yang memadati jemuran pondok, ruang domestik komunal yang berdesakan, hingga rutinitas hafalan teks klasik di sepertiga malam. Tentu saja, nostalgia visual ini punya jangkar sejarah dan nilai sentimental yang luar biasa kuat. Tetapi kalau kita mau jujur melihat dinamika hari ini? Simplifikasi semacam itu jelas sudah kedaluwarsa. Kaum sarungan di era disrupsi digital ini bukan lagi penonton pasif di pinggiran arus zaman. Mereka justru menjelma menjadi aktor strategis yang merespons gerak modernitas secara taktis, adaptif, dan mandiri, sebuah pemancar peradaban yang energinya terus menyala melintasi batas abad tanpa harus kehilangan jati diri sebagaimana yang dicontohkan oleh jejak kokoh Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru di belahan selatan Provinsi Sumatera Utara sejak didirikan oleh Syekh Musthafa Husein Al-Mandili pada tahun 1912.
Secara yuridis-konstitusional, posisi institusi ini sebenarnya sudah mendapatkan legitimasi penuh melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Regulasi ini, menurut saya, bukan sekadar payung hukum administrasi yang kaku. Ini adalah rekognisi resmi dari negara terhadap kesetaraan lulusan pesantren dan pengakuan atas fungsi mereka sebagai lembaga pendidikan, dakwah, sekaligus pemberdayaan masyarakat. UU Pesantren inilah yang menjadi jembatan struktural bagi modal budaya mereka untuk masuk ke dalam ruang publik formal secara sah.
Menariknya, di atas fondasi itulah santri kontemporer melakukan lompatan yang mengejutkan. Para santri yang fasih mengartikulasikan teks fikih klasik seperti Fathul Qorib kini juga terampil mengoperasikan lanskap digital. Mereka membuat konten dakwah yang inklusif di media sosial, mengeksplorasi logika pemrograman, hingga menggerakkan kemandirian ekonomi langsung dari balik bilik-bilik asrama mereka yang bersahaja.
Napas pembaruan ini bahkan terekam kuat dalam simbol visual logo resmi Hari Santri Nasional tahun ini. Perpaduan warna biru toska dan keemasan pada logo dua lingkaran yang saling menyimpul itu memancarkan pesan filosofis yang dalam. Biru toska merepresentasikan keterbukaan terhadap modernitas, sedangkan warna keemasan menegaskan kejayaan tradisi menuju Indonesia Emas. Pijakan harmonis inilah yang menangkap kedalaman tema besar “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Ini bukan sekadar jargon politik dalam struktur birokrasi, melainkan potret pergeseran nyata di akar rumput: transformasi pesantren menjadi inkubator peradaban yang strategis dalam mencetak pemegang estafet kepemimpinan nasional menyongsong target tahun 2045. Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026 menitikberatkan empat modal utama yang wajib didekap erat oleh santri masa kini: ilmu yang mendalam, karakter yang kuat, tradisi yang berakar, serta keberanian untuk terus berinovasi .
Metamorfosis Perjuangan: Dari Resolusi Jihad ke Jihad Intelektual
Etos ketangguhan kaum sarungan sebetulnya merupakan warisan genetika sejarah. Kita tentu ingat momentum historis 22 Oktober 1945, saat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mencetuskan fatwa Resolusi Jihad di Jawa. Kendatipun sebelum itu, denyut perlawanan yang sama telah lama ditiupkan oleh para ulama lokal melalui jalur pendidikan sejak era kolonial dengan melahirkan para pemikir, ulama, dan pejuang yang berani berdiri tegak melawan imperialisme. Komitmen mempertahankan kedaulatan tanah air (hubbul wathan) sudah lama menjadi substansi dari napas kehidupan bagi kaum santri.
Hari ini, romansa perjuangan fisik itu telah mengalami metamorfosis paradigma yang radikal. Musuh nyata yang dihadapi generasi kontemporer bukan lagi moncong meriam penjajah, melainkan kemiskinan struktural, ketertinggalan literasi, dan kesenjangan penguasaan teknologi digital. Tugas mereka bergeser secara total: dari jihad konvensional menjadi jihad intelektual; dari angkat senjata menjadi angkat laptop. Kaum santri turun tangan langsung mengintervensi realitas sosial dengan membuka lapangan pekerjaan serta melahirkan inovasi berbasis komunitas yang berdampak luas bagi masyarakat.
Fenomena pesantrenpreneur kini bukan lagi sebatas wacana teoretis di ruang-ruang kuliah ekonomi. Banyak pesantren yang berhasil melepaskan diri dari ketergantungan bantuan eksternal dan memilih jalur kemandirian finansial. Geliat ekonomi di pondok-pondok pesantren adalah replika nyata bagaimana aktivitas domestik ribuan santri mampu menghidupkan ekosistem UMKM secara berkelanjutan di sepanjang wilayah sekitarnya. Di berbagai belahan Nusantara, kita bisa melihat pesantren mengelola pertanian hidroponik skala industri, membangun lini bisnis busana muslim bertaraf nasional, hingga mendirikan unit usaha kreatif digital. Mencari nafkah dan mencari berkah ternyata bisa berjalan beriringan dalam satu harmoni yang selaras.
Menghadapi Era Society 5.0 dengan Kematangan Karakter
Evolusi peradaban ini bergerak cepat dengan akselerasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang mengantarkan kita ke gerbang Society 5.0. Kita kini berada di sebuah periode krusial, di mana teknologi bukan lagi sekadar alat bantu mekanis, melainkan telah menyatu dengan eksistensi manusia. Di sinilah letak pentingnya refleksi bagi kita semua, tak terkecuali kaum santri. Ketika kecanggihan algoritma mengaburkan batasan fisik dan maya, tantangan terbesar kita dewasa ini bukan lagi soal kemahiran mengoperasikan alat, melainkan badai disrupsi moral dan krisis karakter. Informasi melimpah, namun ruang kebijaksanaan sering kali terasa gersang dan hampa.
Dalam konteks inilah peran santri menjadi sangat krusial sebagai penyeimbang zaman. Nilai-nilai kepesantrenan sejatinya adalah modal pembentukan karakter yang paling tangguh. Di pondok, santri ditempa untuk memegang teguh integritas moral, kejujuran epistemologis, kemandirian hidup, dan empati sosial yang mendalam. Karakter berbasis akhlak mulia ini menjadi benteng pertahanan utama yang membuat santri tidak akan mudah limbung atau tergerus oleh badai disrupsi digital. Ketika dunia luar kerap mendewakan kecepatan tanpa arah, santri menawarkan ketenangan berpikir. Kemampuan menyaring arus informasi, menimbang kemaslahatan, dan tetap membumi adalah buah dari kematangan karakter yang dibentuk melalui tirakat panjang di bawah bimbingan para guru.
Spiritualitas Kontemporer di Hadapan Disrupsi Kecerdasan Buatan
Lalu, bagaimana komunitas pesantren memandang gelombang Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang menjadi representasi utama disrupsi TIK saat ini dan belakangan memicu kecemasan eksistensial di kalangan pekerja profesional? Uniknya, pesantren merespons fenomena sains ini dengan ketenangan yang filosofis.
Cara pandang mereka sangat mendasar: teknologi komputer sedahsyat apa pun hanya memiliki kecerdasan logika dan kalkulasi data, tetapi minus aspek spiritualitas dan kesadaran moral. AI boleh saja memiliki kapasitas memori raksasa untuk merangkum ribuan halaman teks hukum dalam hitungan detik atau menyusun kode pemrograman yang rumit. Namun, ada satu wilayah fundamental yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh algoritma mesin: akhlak, empati kemanusiaan, serta transmisi sanad—silsilah keilmuan yang menghubungkan spiritualitas seorang murid dengan gurunya secara batiniah.
Bagi saya pribadi, kekuatan sanad inilah yang menjadi rahasia mengapa institusi pesantren tradisional mampu tetap berdiri kokoh menembus zaman. Santri tidak tertarik terjebak dalam kompetisi kecepatan mengolah data melawan mesin. Mereka memilih mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh modernitas yang mekanis: ketulusan kemanusiaan dan kedalaman spiritual.
Modal batin ini pula yang menjadi filter krusial saat mereka berselancar di dunia digital. Di tengah belantara media sosial yang bising, penuh polarisasi, dan rentan konflik, santri hadir sebagai agen perdamaian. Uniknya, instrumen yang mereka gunakan adalah pisau analisis klasik, yakni metodologi Musthalah Hadits. Ilmu kuno yang sejatinya dipakai untuk memverifikasi keaslian naskah dan melacak rekam jejak pembawa berita (rawi) ini, ternyata bertransformasi menjadi metodologi fact-checking yang sangat rigid untuk menangkal hoax dan disinformasi di internet. Di saat masyarakat digital mudah tersulut emosi oleh tajuk berita yang provokatif, santri menggunakan nalar kritis dan ketenangan akhlak pesantren untuk meredam suasana.
Ada pula kesadaran lain yang kini membumi pada lingkungan yang mereka pijak, yaitu teologi lingkungan (eco-theology). Santri tidak melihat alam semesta sebagai objek yang bebas dieksploitasi demi pertumbuhan materi, melainkan sebagai ayat—tanda kebesaran Tuhan yang memiliki hak eksistensial untuk dijaga keharmonisannya. Di wilayah-wilayah penyangga alam yang kaya akan sumber daya namun rentan terhadap degradasi ekologis, nalar lingkungan ini menemukan wujud praktisnya.
Di berbagai pesantren, santri mulai memelopori gerakan memotong rantai sampah plastik sekali pakai, mengolah sisa makanan dapur komunal menjadi pupuk organik, hingga merekayasa sistem filtrasi mandiri untuk mendaur ulang air bekas wudhu demi mengairi pertanian warga. Merawat alam kini melekat sebagai ibadah harian. Melalui tindakan-tindakan sunyi inilah, mereka sedang menerjemahkan doktrin agung Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—sebuah rahmat yang mendinginkan dan melindungi seluruh isi alam semesta.
Menyaksikan ritme keseharian mereka bagaikan menikmati simfoni hidup yang sangat pas. Pada siang hari yang terik, seorang santri mungkin saja sedang sibuk memelototi data analitik di depan komputer, mendiskusikan instruksi teknologi, atau berkutat mengawasi jalannya usaha mandiri milik pondok. Namun, begitu azan magrib berkumandang dan suaranya bersahut-sahutan membelah bumi, seluruh hiruk-pikuk aktivitas duniawi tersebut seketika dikesampingkan. Mereka melipat laptop, merapikan gulungan kain sarung, lalu berjalan bersama-sama menuju masjid. Di bawah temaram lampu, mereka duduk bersila secara takzim, menyimak para guru yang mengupas tuntas lembar demi lembar kebaikan dari kitab fikih klasik.
Penutup
Sebagai penutup, ruang refleksi ini menjadi panggung untuk menyuarakan rasa hormat sedalam-dalamnya. Selamat Hari Santri Nasional 2026 saya ucapkan dengan penuh takzim kepada puluhan juta santri yang saat ini sedang gigih menimba ilmu di seluruh penjuru Nusantara.
Salam takzim ini merengkuh kalian semua tanpa sekat: baik yang sedang menempa diri di keheningan pondok pesantren tradisional dengan gubuk-gubuk kayunya yang sarat berkah, maupun mereka yang sedang berakselerasi di dalam ekosistem pesantren modern dengan fasilitas digitalnya. Ucapan selamat ini juga mengalir tulus untuk seluruh generasi muda yang tengah berjuang di berbagai lembaga pendidikan Islam, mulai dari madrasah swasta yang mandiri hingga madrasah negeri yang dikelola negara, serta institusi keagamaan lainnya di pelosok tanah air. Kalian semua, dengan segala keragaman model pendidikannya, adalah pemilik sah dari masa depan peradaban ini.
Kehidupan modern sering kali memaksa manusia memilih secara dikotomis: menjadi modern tetapi kehilangan kompas hidup, atau menjadi religius tetapi terasing dari kemajuan zaman. Santri berhasil mematahkan jebakan berpikir tersebut. Seluruh jejaring lembaga pendidikan Islam di Indonesia telah membuktikan bahwa menjadi agamis tidak berarti harus gagap teknologi, dan menjadi modern tidak harus membuat kita kehilangan jati diri. Kalian semua sedang mengalir mengikuti perkembangan zaman, namun memiliki akar tunggang yang cukup dalam sehingga tidak mudah hanyut. Dari bilik-bilik sunyi yang sederhana hingga ruang kelas modern, melangkahlah pasti ke panggung dunia—menjadi pilar kokoh yang siap menjaga dan menguatkan negeri ini.
Momentum reflektif ini sekaligus menjadi ruang yang paling tepat bagi saya untuk merekatkan kedekatan emosional serta mengirimkan penghormatan spiritual. Rasa bangga yang tak terhingga ini saya titipkan untuk boru tercinta, Malika Arrasyidah Nasution yang sedang “mondok” menempuh studi di MAN Insan Cendekia Siak, Pakanbaru dan pagi ini sedang mengikuti upacara Hari Santri dihalaman Kantor Camat Tualang.
Berada jauh dari kehangatan rumah demi mengejar integrasi sains dan spiritualitas di tanah bertuah dan beradat Melayu adalah sebuah jihad intelektual. Insya Allah, setiap bait hafalanmu dan setiap lelahmu akan berguna untuk merespon kerasnya tantangan moral di era society 5.0. Tetaplah melangkah dengan kerendahan hati. Semoga setiap peluh dan air mata rindumu berbuah mahkota kemuliaan di akhirat kelak.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.