SUMUTNEWS.CO, Jakarta – Langkahnya mantap menuruni pilar-pilar Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Di tangannya kini tergenggam tongkat komando tertinggi Kepolisian Republik Indonesia.
Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, yang baru saja resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, langsung dihadapkan pada tumpukan pekerjaan rumah institusi yang tak sedikit.
Bukan waktu untuk berbulan-bulan meraba arah. Suyudi langsung meletakkan kartu asnya di atas meja, yakni konsolidasi internal, membenahi kualitas pelayanan publik, hingga memastikan penegakan hukum tak lagi tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
“Mana yang masih baik kita lanjutkan, yang perlu diperbaiki kita perbaiki,” ujar Suyudi lewat keterangan pers usai pelantikan, memancarkan nada pragmatis seorang perwira yang paham betul bahwa Korps Bhayangkara tak boleh lagi berjalan dengan cara-cara lama.
Di bawah payung program kerja “Polisi Bersama Masyarakat”, Suyudi ingin meruntuhkan sekat antara seragam cokelat dan rakyat.
Bagi dia, jargon kedekatan bukan sekadar pemanis bibir. Polisi, kata dia, harus berani pasang badan, hadir di tengah-tengah warga, dan merespons setiap gejolak keamanan secara kilat.
Namun, jalan menuju reformasi kultural itu dipastikan tak melingkar di jalan tol. Di hadapannya, lampu kuning sudah menyala terang dari Istana.
Presiden Prabowo, sebut Suyudi, tak henti-hentinya mengingatkan momok-momok yang menggerus kepercayaan publik, yaitu sindikat narkotika, jaring laba-laba penyelundupan, hingga pusaran judi daring yang kian meresahkan dapur-dapur warga.
Kini, ujian pertama sang Jenderal baru dimulai. Apakah “Polisi Bersama Masyarakat” bakal menjelma menjadi kenyataan di jalanan, atau sekadar gerimis di musim kemarau birokrasi? Waktu yang akan menjawabnya. (SN08)