SUMUTNEWS.CO, Washington — Militer Amerika Serikat mengumumkan pengerahan sekitar 9.000 prajurit ke kawasan Timur Tengah pada Kamis (1/10/2026).
Penambahan kekuatan militer ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dan ancaman serangan balasan dari Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Seorang pejabat militer AS mengonfirmasi bahwa ribuan personel tersebut diberangkatkan menggunakan sekelompok kapal perang, terdiri atas 7.000 pelaut dan 2.000 anggota Marinir.
Armada yang dikirim mencakup kelompok tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt bersama kapal penjelajah USS Chosin, serta kelompok kesiapan amfibi USS Makin Island yang membawahi kapal pendarat USS John P. Murtha dan USS Anchorage.
“Langkah ini berpotensi menempatkan hingga tiga kelompok kapal induk di kawasan tersebut pada akhir Oktober,” ujar pejabat militer AS yang meminta anonimitas saat menyampaikan keterangan tersebut kepada Associated Press.
Penambahan ini membuat kehadiran militer AS di Timur Tengah melonjak hingga lebih dari 20.000 personel Angkatan Laut dan Marinir beserta ratusan pesawat tempur.
Pengerahan pasukan secara masif ini bertepatan dengan pernyataan tegas Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada hari yang sama.
Trump mengklaim terdapat indikasi awal yang menghubungkan pemerintah Iran dengan aksi seorang ko-pilot yang menikam kaptennya dan berusaha menjatuhkan pesawat menuju Israel pada Rabu, 30 September 2026.
“Saya akan katakan jawabannya, berdasarkan apa yang saya dengar, adalah ‘ya’, tetapi kami sedang mendalaminya saat ini,” kata Trump di Gedung Putih saat ditanya wartawan mengenai keterkaitan Tehran dalam insiden tersebut.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika keterlibatan Iran terbukti. “Mereka akan dihantam sangat keras, jangan khawatir. Mereka tahu apa yang terjadi,” ujar Trump.
Selain itu, dalam wawancara dengan majalah Time yang dipublikasikan, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan untuk meningkatkan serangan pengeboman terhadap Iran setelah Pemilihan Presiden AS pada 3 November mendatang.
Ia mengonfirmasi telah menolak usulan gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh Iran, termasuk tawaran untuk membuka jalur pelayaran energi di Selat Hormuz.
Menurut Trump, proposal dari Tehran tersebut “tidak cukup baik” bagi kepentingan Amerika Serikat. (SN17)