SumutNews.co, — Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terbatas yang menyasar fasilitas pertahanan udara Iran pada Sabtu, 7 November 2026 dini hari. Aksi militer ini terjadi di tengah dinamika politik domestik AS, pasca-kekalahan Partai Republik serta upaya diplomatik maraton yang dimediasi oleh Qatar untuk meredakan konflik yang telah memasuki bulan kedelapan.
Ledakan di Selat Hormuz dan Reaksi Washington
Ledakan dilaporkan terdengar di kawasan Suza, Pulau Qeshm, yang terletak di jalur strategis Selat Hormuz. Lembaga penyiaran negara Iran, IRNA, melaporkan dua proyektil menghantam wilayah tersebut setelah suara pesawat terbang terdengar di langit pulau. Sehari sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (drone) MQ-1 Predator milik AS di kawasan yang sama.
Presiden AS Donald Trump, dalam keterangannya kepada para wartawan, mengecilkan skala operasi militer tersebut.
“Mereka membangun sedikit perangkat anti-pesawat dan kami melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, atau mungkin lima menit,” ujar Trump setibanya di West Palm Beach, Florida.
Bayang-bayang Kekalahan Pemilu Paruh Waktu
Serangan terbaru ini merupakan langkah militer pertama yang diambil Washington sejak Partai Republik mengalami kekalahan telak dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada Selasa sebelumnya.
Kekalahan yang menyebabkan partai penguasa kehilangan kendali atas kedua kamar Kongres itu disebut-sebut dipicu oleh kejenuhan publik terhadap eskalasi konflik luar negeri dan lonjakan harga bahan bakar global yang membebani ekonomi.
Sejak hantaman politik domestik tersebut, Trump menunjukkan sikap yang berfluktuasi, antara melontarkan ancaman keras untuk menghancurkan Iran hingga mengisyaratkan bahwa jalan menuju penyelesaian damai sudah dekat.
Formula “Bridge Deal” Qatar dan Syarat Ketat Teheran
Di meja diplomasi, Qatar mengintensifkan perannya sebagai mediator utama. Dua pejabat tinggi Timur Tengah mengungkapkan bahwa Teheran saat ini tengah mengkaji proposal “bridge deal” (kesepakatan jembatan) yang dirancang untuk merintis jalan menuju perundingan nuklir komprehensif.
Proposal tersebut mencakup langkah-langkah pembangunan kepercayaan (trust-building measures) selama dua hari:
Hari Pertama: AS diusulkan mencabut blokade pelabuhan dan mencairkan sebagian dana Iran yang dibekukan. Sebagai imbal balik, Teheran harus mengizinkan inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kembali mengakses fasilitas nuklir yang sempat menjadi sasaran serangan.
Hari Kedua: Iran dijadwalkan membuka kembali Selat Hormuz melalui mekanisme sementara yang disepakati bersama Oman. Setelah tahap ini tercapai, kedua negara akan melangkah ke perundingan ekstensif mengenai cadangan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat 60 persen.
Kendati demikian, seorang pejabat menegaskan bahwa Teheran masih bersikeras menolak perundingan langsung dengan pemerintahan Trump sebelum Washington memenuhi sejumlah tuntutan utama. Syarat tersebut meliputi pencabutan sanksi ekonomi, penghentian blokade, pembayaran ganti rugi kerusakan perang, serta penghentian permusuhan di kawasan, termasuk operasi militer Israel di Lebanon.
Sayembara US$ 20 Juta dan Konsolidasi Regional
Di saat proses negosiasi berjalan di atas ketidakpastian, Komando Pusat AS (CENTCOM) meningkatkan tekanan melalui pengumuman sayembara berhadiah hingga US$ 20 juta bagi pihak yang memberikan informasi akurat terkait program nuklir Iran, termasuk fasilitas, peralatan, hingga personel ilmiah.
Gelombang diplomatik juga terus digalang oleh negara-negara kawasan. Menteri Pertahanan Qatar tercatat melakukan komunikasi intensif dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir, Irak, dan Uni Emirat Arab secara terpisah menyerukan fleksibilitas politik dari Washington dan Teheran guna menghindari eskalasi militer yang berpotensi melumpuhkan stabilitas ekonomi global. (SN17)