SumutNews.co, Manama — Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan harapannya terhadap terobosan diplomatik dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat guna meredakan eskalasi perang di Timur Tengah. Kendati demikian, Abu Dhabi menegaskan kesiapannya menghadapi skenario terburuk apabila pertempuran kembali meluas.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Penasihat Diplomatik Presiden UEA, Anwar Gargash, saat menghadiri konferensi Manama Dialogue di Manama, Bahrain, pada Minggu, 1 November 2026 kemarin.
“Kami berharap ada terobosan diplomatik. Bukan kepentingan kawasan ini untuk melalui babak konflik berikutnya. Namun, seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya, kami juga bersiap untuk menghadapi skenario terburuk,” kata Gargash di hadapan para delegasi.
Harapan damai ini mengemuka di tengah berjalannya upaya mediasi di Doha, Qatar. Iran telah mengirimkan juru rundingnya ke negara Teluk tersebut untuk melanjutkan konsultasi tidak langsung dengan AS, setelah kunjungan pejabat Qatar ke Teheran beberapa waktu sebelumnya.
Meski jalur diplomasi bergulir, ketegangan militer belum sepenuhnya mereda. Pada Sabtu, 31 Oktober 2026, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman dengan menyebut Amerika Serikat masih harus “membereskan” satu atau dua target militer di Iran.
Menanggapi situasi tersebut, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Timur Dekat, Donald Blome, menegaskan posisi Washington di forum yang sama di Manama pada Minggu.
“Kami tidak bisa membiarkan Iran menyandera kawasan ini dan stabilitas ekonomi global,” ujar Blome. “Uluran tangan untuk negosiasi telah diberikan, dan saluran-saluran tersebut tetap terbuka serta aktif. Namun, pada saat yang sama, kami juga siap melangkah ke arah lain.”
Sikap Washington dinilai masih membuka ruang kompromi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Trump belum menetapkan keputusan akhir mengenai rencana serangan baru terhadap wilayah Iran, sembari menggarisbawahi bahwa AS tetap terbuka terhadap solusi diplomatik.
Konflik terbuka antara Washington dan Teheran pecah sejak 28 Februari lalu, ketika pasukan gabungan AS dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.
Teheran kemudian membalas dengan melancarkan gempuran roket dan pesawat nirawak ke berbagai sasaran strategis, termasuk fasilitas di negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Washington. (SN17)