SUMUTNEWS.CO, Medan – Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih pada pertengahan September 2026. Dalam kurun waktu 24 jam, dua gejolak keamanan berdarah meletus secara berdekatan di Yaman dan Suriah.
Pada Minggu, 20 September 2026, pertempuran sengit membakar kawasan selatan Kota Marib, Yaman, dan menewaskan sedikitnya 80 pejuang Houthi.
Hanya berselang beberapa jam, pada Senin dini hari, 21 September 2026, rentetan ledakan dahsyat merobek fasilitas gudang amunisi militer di dekat Al-Eis, Aleppo, Suriah utara.
Dua insiden ini menjadi potret buram betapa rentannya stabilitas keamanan di wilayah yang masih dicengkeram konflik dan proses transisi kekuasaan tersebut.
Hujan Peluru di Ladang Minyak Marib
Pertempuran sengit di Yaman meletus sejak Sabtu hingga Minggu, 19–20 September 2026, ketika kelompok milisi Houthi yang disokong Iran melancarkan serangan bergelombang di sektor selatan Kota Marib, meliputi kawasan Hareb, Mala’a, dan Um Raish. Marib merupakan benteng strategis yang menampung ladang minyak, gas, pembangkit listrik utama, serta lebih dari dua juta pengungsi internal.
Sebagaimana dilaporkan Arab News, pasukan pemerintah Yaman yang dibantu serangan udara jet tempur dan drone berhasil memukul mundur gempuran tersebut.
Direktur Departemen Media Militer Tentara Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Al-Hatemi, mengonfirmasi kepada Arab News bahwa lebih dari 80 pejuang Houthi tewas dan sembilan kendaraan tempur hancur.
Al-Hatemi juga mengklaim bahwa pimpinan Houthi sengaja menutup-nutupi jumlah korban tewas sebenarnya demi menjaga moral pasukan di garis depan.

Berebut Titik Pantau Bab Al-Mandab
Bara konflik Yaman tidak berhenti di Marib. Kontak senjata meluas hingga ke Provinsi Taiz dan kawasan pesisir Laut Merah.
Di wilayah pegunungan Kahboub, Distrik Al-Madaribah Wa Al-Aarah, Provinsi Lahj, milisi Houthi berulang kali menyerang posisi Pasukan Perisai Bangsa (Nation’s Shield Forces) dan Brigade Raksasa (Giants Brigades).
Berdasarkan laporan media yang sama, penguasaan atas Gunung Kahboub sangat krusial karena lokasinya menghadap langsung ke Selat Bab Al-Mandab, salah satu jalur pelayaran logistik dan energi terpenting di dunia, sekaligus membuka jalan menuju kota pelabuhan Aden.
Sementara itu, Juru Bicara Tentara Yaman, Kolonel Majed Al-Nuzaili, menyebutkan bahwa Angkatan Udara Yaman juga melancarkan serangan balasan yang merusak peralatan militer Houthi di Provinsi Al-Bayda.
Guncangan Subuh di Gudang Senjata Aleppo
Ketika Yaman membara, kepulan asap pekat dan kobaran api membumbung di Suriah utara pada Senin dini hari (21/9/2026).
Gudang amunisi di instalasi militer dekat Al-Eis, Aleppo, mendadak meledak hebat. Laporan kantor berita AFP dan kantor berita negara Suriah, SANA, menyebutkan sedikitnya empat orang mengalami luka-luka.
Kementerian Manajemen Darurat dan Bencana Suriah mengonfirmasi korban terdiri dari satu warga sipil yang terkena serpihan ledakan, dua orang mengalami sesak napas akibat asap pekat, dan satu warga terluka akibat kecelakaan lalu lintas saat panik melarikan diri.
Kepala Operasi Pertahanan Sipil Aleppo, Faisal Mohammad Ali, sebagaimana dikutip stasiun TV Al-Ikhbariya, menjelaskan bahwa rentetan ledakan susulan sempat menyulitkan personel pemadam mendekati lokasi.
Gubernur Aleppo, Azzam al-Gharib, langsung mengimbau warga agar tidak keluar rumah serta menyiagakan seluruh rumah sakit dan tim medis dalam kondisi siaga penuh.
Dua krisis yang meletus dalam waktu berdekatan ini memancarkan sinyal bahaya bagi masa depan keamanan Timur Tengah.
Di Yaman, gempuran Houthi di Marib dan titik strategis Selat Bab Al-Mandab berisiko merusak kesepakatan gencatan senjata PBB yang bertahan sejak April 2022, sekaligus mengancam keselamatan Jalur Laut Internasional.
Sementara itu di Suriah, insiden depot amunisi di Aleppo, yang menambah deretan ledakan serupa di Idlib dan Deir Ezzor, menunjukkan bahaya laten dari ribuan ton sisa pasokan amunisi militer yang belum terkelola dengan aman pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024. Tanpa penanganan politik dan keamanan yang konkret, bara di kedua kawasan ini diperkirakan akan terus menyulut ketegangan baru. (SN08)