SumutNews.co, Roma- Langit Roma berbalut mendung tipis pada Minggu siang, 18 Oktober 2026. Namun, di Lapangan Santo Petrus, ribuan pasang mata tertuju ke satu titik: jendela Istana Apostolik Vatikan. Di sana, dengan langkah mandiri tanpa bantuan alat medis, sosok Paus Leo muncul. Suaranya terdengar mantap, meski linimasa hidupnya baru saja melewati tikungan tajam di ruang operasi Rumah Sakit Gemelli, Roma.
“Setelah melewati fase pelik ini… saya kini akan kembali menjalankan aktivitas secara bertahap, tentu dengan bantuan Tuhan dan doa kalian,” ujar Paus berusia 71 tahun itu di hadapan jemaat, disambut kelegaan umat Katolik.
Kemunculan perdana ini menjadi jawaban atas spekulasi yang berembus kencang sepekan terakhir. Selasa sebelumnya, Paus asal Amerika Serikat, pemimpin pertama dari Negeri Paman Sam dalam sejarah kepausan, harus menjalani prosedur bedah pengangkatan lobus bawah paru-paru kanannya. Operasi besar ini sontak memicu tanda tanya di kalangan pengamat ihwal kelangsungan masa kepausannya yang baru berjalan 17 bulan.
Namun, di bawah langit kelabu Vatikan, Paus Leo seolah ingin meredam segala kecemasan. Senyum terukir jelas di wajahnya. Ia tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan doa global, tetapi juga menyisipkan pesan moral agar umat meninggalkan ambisi egois dan melayani sesama tanpa kompromi.
Hanya sehari sebelumnya, Sabtu (17/10), Vatikan mengumumkan bahwa sang pontifik telah diizinkan meninggalkan Rumah Sakit Gemelli. Pemulihan yang relatif cepat ini menunjukkan ketahanan fisik pemimpin tertinggi bagi 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia tersebut, sekaligus menandai babak baru transisi kepemimpinannya di tengah ujian kesehatan yang tidak ringan. (SN17)