SUMUTNEWS.CO, Medan – Di perbukitan gersang tenggara Hebron, kehidupan berputar kembali ke masa lalu. Warga Khirbet al-Dab’a, kawasan Masafer Yatta, kini sibuk memahat batu dengan palu dan tatah, memperluas gua-gua kuno untuk dijadikan tempat tinggal, setelah rumah mereka dibongkar paksa.
Amer Dababsa adalah salah satunya. Selama enam bulan terakhir, ia menghabiskan hari-harinya mengerjakan dinding batu, berharap gua yang sedang digali itu dapat menampung dua istrinya dan keenam anaknya.
“Kami tidak punya pilihan lain,” ujarnya, melansir Reuters, Kamis (1/10/2026).
Pembongkaran yang dilakukan membuat sejumlah keluarga terpaksa kembali menempati gua yang pernah menjadi tempat tinggal leluhur mereka berpuluh tahun silam.
Tekanan datang dari dua arah, yaitu Administrasi Sipil Israel yang melakukan pembongkaran, serta kehadiran para pemukim yang semakin terasa. Kepada kantor berita Reuters,
Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT) menyatakan tindakan penghancuran bangunan pada awal September telah dilaksanakan sesuai prosedur dan dengan persetujuan tingkat politik.
Dijelaskan pula pemberitahuan telah diberikan agar warga dapat mengajukan banding melalui jalur hukum.
Kehidupan di Khirbet al-Dab’a, tempat tinggal sekitar 120 warga, berjalan dalam keterbatasan. Jalan tanah berbatu jadi satu-satunya akses.
Listrik mengandalkan panel surya, sementara air didatangkan dengan truk tangki karena wilayah ini tidak terhubung jaringan dasar.
Sumber penghidupan yang dulunya dari peternakan kini merosot tajam, dibatasi akses ke padang penggembalaan serta gangguan dari pemukim. Warga kini bertahan dari hasil kebun, pohon zaitun, dan almond.
Kehadiran pos permukiman baru yang didirikan Mei 2025, tak lama setelah pembongkaran besar-besaran, semakin menyempitkan ruang hidup mereka.
Mohammad Dababsa, ayah dari 11 anak, menghabiskan empat tahun mengerjakan dua gua secara bertahap, dimana satu untuk ruang berkumpul, satu lagi untuk kehidupan sehari-hari.
Sejak awal 1980-an, sebagian wilayah Masafer Yatta ditetapkan Israel sebagai zona latihan militer. Bagi warga dan berbagai kelompok hak asasi manusia, pembatasan pembangunan serta pembongkaran berulang bukan sekadar penegakan aturan, melainkan upaya sistematis yang mempersulit kehidupan, memaksa mereka pergi dari tanah sendiri.
Di tengah batu yang dingin dan gua yang belum selesai dipahat, satu hal tetap teguh: mereka bertahan, satu pukulan pahat demi satu pukulan pahat, demi tetap tinggal di tanah yang sama. (SN/Reuters)