SumutNews.co, Kuala Lumpur – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memperingatkan publik agar tidak meremehkan potensi ancaman keamanan global yang dinilai kian mendekat ke negaranya. Anwar secara terbuka menyoroti operasi intelijen Israel di negara tetangga serta keberadaan permukiman warga Israel di Phuket dan wilayah Thailand selatan sebagai potensi ancaman nyata bagi kedaulatan Malaysia.
Pernyataan resmi tersebut disampaikan Anwar dalam sidang parlemen Dewan Rakyat pada Selasa, 3 November 2026. Pidato itu disampaikan dalam agenda penyampaian keterangan pemerintah mengenai kesiapsiagaan keamanan nasional dalam menghadapi perkembangan konflik geopolitik serta eskalasi ketegangan keamanan regional dan internasional.
“Kami menyampaikan informasi ini secara terbuka kepada publik, dan Majelis Keselamatan Negara (MKN) kemarin menyarankan saya untuk membacakan pernyataan ini hari ini,” ujar Anwar di hadapan para anggota Dewan Rakyat, Selasa. 3/11/2026
Anwar menegaskan agar para legislator dan masyarakat tidak berasumsi bahwa ancaman keamanan global berada jauh dari wilayah Malaysia. Menurut dia, eskalasi konflik di Asia Barat, ketegangan di Yaman dan Laut Merah, hingga ancaman keamanan di Eropa telah membuktikan bahwa krisis mancanegara dapat berdampak langsung terhadap keselamatan warga, stabilitas ekonomi, dan kepentingan nasional.
Meski tidak semua detail intelijen dapat diungkapkan kepada publik, Anwar menyebutkan ada dua alasan utama mengapa Malaysia kini masuk dalam radar target potensial.
“Pertama, kapasitas kita di bidang teknologi digital dan pusat data (data center) merupakan salah satu yang terkuat, dengan kemampuan yang setara dengan negara-negara di Eropa,” tutur Anwar.
“Kedua, sikap tegas dan konsisten kita terhadap sejumlah isu yang dinilai kontroversial oleh negara-negara tertentu, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat, terutama terkait pembelaan terhadap Palestina dan Gaza”
Dalam pemaparannya, Anwar juga menyinggung langkah sejumlah negara maju, seperti negara-negara anggota Uni Eropa, Kanada, dan Jepang, yang telah menerbitkan peringatan resmi agar warganya menyimpan cadangan pasokan pangan untuk tiga hingga sepuluh hari. Kebijakan darurat itu dipicu oleh maraknya serangan siber berskala masif yang menargetkan infrastruktur vital dan sistem administrasi pemerintahan di Barat.
Lebih lanjut, Anwar membeberkan bahwa rapat khusus MKN sehari sebelumnya turut menganalisis ancaman perang hibrida dan serangan siber, serta mengkaji dampak eskalasi serangan militer terhadap negara-negara Teluk, khususnya Iran, yang dikhawatirkan dapat memicu penggunaan senjata nuklir.
Sebagai langkah antisipasi terpadu, pemerintah Malaysia langsung menggelar rapat koordinasi lintas sektor pada Selasa sore, dipimpin oleh Kepala Sekretaris Pemerintah bersama kementerian teknis terkait. Di saat yang sama, Gubernur Bank Negara Malaysia (BNM) menggelar pertemuan khusus bersama jajaran lembaga keuangan domestik untuk memperkuat ketahanan sistem perbankan.
“Kami mengadopsi strategi kesiapsiagaan terpadu serupa EU Preparedness Union Strategy yang melibatkan seluruh aparatur negara, sektor swasta, dan masyarakat luas,” kata Anwar.
Ia menambahkan bahwa Panglima Angkatan Tentara Malaysia dan Kepala Kepolisian Kerajaan Malaysia (IGP) telah memberikan jaminan penuh mengenai kesiapsiagaan aparat keamanan dalam mengantisipasi segala bentuk potensi ancaman. (SN17)