Ratusan Pemukim Masuki Al-Aqsa, Palestina Peringatkan Risiko Perang Agama

SUMUTNEWS.CO, Yerusalem — Kepresidenan Palestina mengecam keras meningkatnya aktivitas pemukim Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, yang bertepatan dengan perayaan hari raya Yahudi Sukkot, Minggu (27/9/2026).

Juru bicara Kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, menegaskan tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap status historis dan hukum kawasan suci tersebut.

“Upaya berkelanjutan untuk melakukan pembagian waktu dan ruang di Al-Aqsa berpotensi mengubah konflik politik menjadi perang agama yang membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Palestina, WAFA.

1.143 Pemukim Masuki Kompleks Al-Aqsa

Kegubernuran Yerusalem Palestina melaporkan sebanyak 1.143 pemukim Israel memasuki kompleks Al-Aqsa melalui Gerbang Mughrabi pada Minggu pagi.

Baca juga:  Zelenskyy: Ukraina Resmi Raih Lisensi Rudal Patriot dari AS, Ini Dampak Geopolitiknya

Mereka masuk secara berkelompok dengan pengawalan ketat polisi Israel di hari kedua perayaan Sukkot. Sejumlah pengunjung diketahui melakukan ritual dan doa Yahudi di bagian kompleks, termasuk di sekitar Gerbang Qattanin.

Pembatasan pergerakan terhadap warga Palestina juga dilaporkan diberlakukan di kawasan Kota Tua Yerusalem.

Angka tersebut juga dikonfirmasi kelompok Israel Beyadenu, yang menyebut lebih dari 1.100 warga Yahudi berkunjung ke lokasi yang mereka sebut Temple Mount, termasuk anggota Knesset Amit Halevi dan Yitzhak Kreuzer.

Baca juga:  45 Kota di Maroko Serentak Turun ke Jalan, Bela Palestina dan Tolak Normalisasi

Pernyataan Smotrich Picu Kecaman Luas

Ketegangan semakin memuncak usai Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyerukan operasi militer seluas-luasnya di Tepi Barat, bahkan menyerukan pembubaran Otoritas Palestina.

Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam pernyataan itu sebagai seruan untuk meningkatkan agresi, sekaligus langkah yang menghambat pembentukan negara Palestina dan mempercepat upaya aneksasi wilayah.

Tepi Barat Semakin Rawan Sejak 2023

Situasi keamanan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur terus memburuk sejak 7 Oktober 2023. Data PBB-OCHA mencatat lebih dari 1.100 warga Palestina tewas di wilayah tersebut hingga awal Juni 2026.

Baca juga:  Iran Tawarkan Pembukaan Selat Hormuz dalam 7 Hari, Syaratkan AS Cabut Blokade

PBB juga terus menyoroti meningkatnya kekerasan pemukim, penghancuran bangunan, pembatasan pergerakan, serta perluasan permukiman Israel yang dianggap bertentangan dengan hukum internasional.

Kepresidenan Palestina pun menyerukan kepada komunitas internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB, untuk segera mengambil langkah guna melindungi warga Palestina dan tempat-tempat suci. (SN/WF)

Berita Terbaru

Pasca Bencana, Polres Tapsel: Hadir di Tengah Warga, Jaga Stabilitas & Semangat Bangkit

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan - Pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika...

Masuk Siang Bolong, Rumah Warga Digasak, Pelaku Berhasil Ditangkap

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan - Tim Opsnal Resmob Satuan Reserse Kriminal Polres...

Arabsaudi di Washington: Pangeran Faisal di Jadwalkan Sore ini Temui Marco Rubio Urai Gejolak Timur Tengah

SUMUTNEWS.CO, Washington — Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud...

Langgar Kode Etik Berat, Ketua Bawaslu Labuhanbatu Resmi Diberhentikan

SUMUTNEWS.CO, Labuhanbatu — Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Republik...

Cara Cek Bansos PKH dan BPNT September 2026 Lewat HP, Gunakan NIK KTP

Medan, SUMUTNEWS CO – Masyarakat yang terdaftar sebagai Keluarga...

Berita Terkait