Sri Radjasa Mantan BIN Bongkar Cerita: Peran Bahlil dan Listyo Sigit di Balik Lengsernya Airlangga: Buntut Kasus Penyadapan Eks Kapolri

SumutNews.co- JAKARTA — Dinamika politik internal Partai Golkar kembali menjadi sorotan tajam menyusul pengakuan terbuka mengenai intervensi kekuasaan dalam proses suksesi kepemimpinan partai. Berdasarkan rekaman video dari kanal YouTube Obor Rakyat Reborn yang diunggah pada 4 November 2026 serta dibagikan melalui akun Instagram @kucingmujair100 yang disukai oleh 20 ribu lebih warganet dan mendapatkan ribuan komentar, terungkap dugaan praktik intimidasi politik yang melibatkan lingkaran kekuasaan tingkat tinggi.

Narasi tersebut disampaikan oleh Sri Radjasa, seorang kolonel purnawirawan yang juga mantan pejabat Badan Intelijen Negara (BIN). Dalam diskusi yang merekam kesaksian para petinggi daerah tersebut, diungkapkan bahwa para Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat I Partai Golkar mengalami tekanan masif agar melengserkan Airlangga Hartarto dari kursi ketua umum.

Baca juga:  Prabowo Luncurkan DNKK dan 400 Trilyun di 2027, Simak Penjelasannya!

Skenario pergantian kepemimpinan tersebut disebut-sebut berjalan dengan cara-cara yang mencederai etika bernegara. Narasumber dalam rekaman tersebut membeberkan bagaimana proses pemanggilan pengurus daerah dilakukan satu per satu untuk diarahkan memberikan dukungan:

” Setelah Prabowo Gibran menang, dipanggil sama Bahlil Lahadalia. Dipanggil satu-satu, kemudian Bahlil telepon melalui Sigit, video call… ‘Halo Pak Kapolri, oh iya. Nah ini yang ini oke, dukung kita untuk jatuhkan Airlangga. Terus dukung saya nanti jadi Ketua Golkar.’ Jadi setiap satu orang semua ditunjukin gitu loh, pakai video call.”

Baca juga:  Pemerintah Buka Seleksi CPNS November 2026 Ini, Simak Syarat dan Dokumen yang Perlu Disiapkan!

Melalui sarana komunikasi tersebut, para kader diinstruksikan untuk menyetujui pelengseran Airlangga sekaligus memuluskan jalan Bahlil Lahadalia menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Ketika ditanya mengenai sifat dari operasi tersebut, narasumber menegaskan bahwa tindakan tersebut sudah keluar dari koridor politik yang sehat:

” Itu bukan operasi politik, itu premanisme dalam kehidupan bernegara.”

Klaim tersebut disebut bersumber langsung dari pengakuan tiga mantan ketua DPD tingkat I yang saat ini tengah menjalani masa penahanan di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin. Selain menyoroti suksesi Golkar, narasi tersebut juga menyinggung tekanan politik terdahulu menjelang Pemilihan Presiden, di mana para pimpinan daerah sempat dikumpulkan di Hotel Fairmont sebelum akhirnya diarahkan untuk mendukung pasangan Prabowo-Gibran.

Baca juga:  Kapolri dan PP Polri Tegaskan: Kasus Penyadapan Bukan Persaingan, Murni Penegakan Hukum

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepolisian Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, maupun DPP Partai Golkar belum memberikan konfirmasi atau tanggapan resmi terkait kebenaran klaim dan tudingan serius yang disampaikan dalam rekaman tersebut. (SN08)

Berita Terkait

Gus Ipul Sentil Cak Imin Soal PBNU Terpuruk: Jangan Reduksi Urusan NU Jadi PMII dan HMI

Sumutnews.co —Jakarta, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)...

Ketua DPD RI Optimis Sirkuit Mandalika Bisa Ubah Wajah NTB dan Indonesia

SUMUTNEWS.CO - Mataram | Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD)...

Kurangi Emisi Karbon, PT Pupuk Indonesia Kembangkan Pupuk Ramah Lingkungan

Sumutnews.co- PT Pupuk Indonesia (Persero) bakal mengembangkan industri pupuk...

Aksi Teror di Sigi Dari Kelompok MIT

SUMUTNEWS.CO - Jakarta | Satu keluarga yang terdiri dari...

Irjen Slamet Uliandi Jadi Tersangka Keempat, Kompolnas Sorot Kemungkinan Kepentingan Pihak Tertentu

SUMUTNEWS.CO, Jakarta — Bareskrim Polri resmi menetapkan mantan Kepala...

Berita Terbaru