SUMUTNEWS.CO, Brussels — Tiga tahun telah berlalu sejak pecahnya agresi militer Israel di Jalur Gaza, dan Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) mencatat periode ini sebagai babak paling mematikan dalam sejarah jurnalisme dunia.
Tanpa hukuman apa pun, ratusan jurnalis dan pekerja media telah tewas, puluhan lainnya terluka, dan beberapa hingga kini masih dinyatakan hilang.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (7/10/2026), IFJ menegaskan bahwa sejak 7 Oktober 2023, setidaknya 212 jurnalis dan tenaga media di Gaza kehilangan nyawa akibat serangan yang ditujukan secara langsung kepada mereka.
“Menargetkan dan membunuh warga sipil secara sengaja, termasuk para jurnalis, merupakan kejahatan perang,” tegas IFJ.
Bersama Serikat Jurnalis Palestina (PJS), IFJ telah mengumpulkan bukti-bukti kasus penyerangan terhadap wartawan untuk diajukan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC), guna memastikan pelaku tidak lepas dari pertanggungjawaban.
Di tengah krisis kemanusiaan yang melanda dengan lebih dari 74.000 warga Palestina tewas dan 2,1 juta lainnya mengungsi, para jurnalis yang selamat pun masih menghadapi ancaman nyata.
Salah satunya fotografer Mohammed Fayeq Abu Mustafa, yang telah lumpuh dari pinggang ke bawah lebih dari setahun pasca-serangan di dekat Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis.
Ia telah menjalani tujuh kali operasi dan sangat membutuhkan evakuasi untuk perawatan lanjutan di luar negeri.
Hingga kini, otoritas pendudukan Israel terus menolak memberikan akses jurnalis asing yang independen ke Gaza, sehingga hanya wartawan lokal yang melaporkan kenyataan di lapangan dengan risiko yang terus meningkat.
Sekretaris Jenderal IFJ Anthony Bellanger menyerukan kepada serikat pekerja jurnalis di seluruh dunia untuk menekan pemerintah masing-masing agar membuka akses perawatan medis bagi para jurnalis Gaza yang terluka.
“Kita harus bersatu. Solidaritas internasional sangat dibutuhkan saat ini,” ujar Bellanger.
IFJ juga mengingatkan risiko penutupan Pusat Solidaritas Media yang telah dibangun bersama PJS di Kota Gaza, Khan Yunis, dan Deir al-Balah, ruang aman bagi para wartawan yang kini terancam berhenti beroperasi akibat penurunan bantuan donasi. (SN/WF)