Menelusuri Jejak Sejarah dan Kekerabatan di Wilayah Luat Sihulambu, Aek Bilah di Tapanuli Selatan

Dari Masa Ke Masa Tugu Sihulambu direhabilitasi untuk tetap berdiri, Simbol terdiri dari 1 ekor Harimau, Patung Raja Sotaradu Dongoran dan Istrinya Boru Marpaung

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran,M.Si
Peminat Sejarah & Keturunan Mangaraja Bendel Dongoran

Pendahuluan
Bagi sebagian besar masyarakat luar, Tapanuli Selatan mungkin lebih dikenal melalui panorama alamnya yang hijau atau hamparan lembah perbukitan Bukit Barisan yang asri. Namun, jauh di balik bentang alam tersebut, tersimpan lembaran sejarah peradaban lokal yang sarat dengan nilai-nilai filosofis, struktur sosial yang tertib, serta jalinan aliansi adat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu wilayah kultural yang menyimpan memori kolektif tersebut adalah Luat Sihulambu, yang secara administratif kini berada di wilayah Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Bacaan Lainnya

Menelusuri sejarah, Kerajaan Wilayah Adat Luat Sihulambu bukan sekadar membaca peta wilayah administratif masa kini, melainkan menyelami bagaimana para leluhur merintis peradaban di tengah keterisolasian alam pedalaman, membangun perkampungan (huta), serta merajut harmoni sosial melalui sistem kekerabatan yang luhur.

Telisik Kronologi dan Estimasi Waktu Berdirinya Kerajaan Luat Sihulambu

Wilayah Aek Bilah di Kabupaten Tapanuli Selatan menyimpan jejak sejarah panjang marga dan keturunannya, khususnya dalam pembentukan perkampungan tradisional (huta) leluhur. Berdasarkan analisis tarombo (silsilah) dan rentang waktu generasi, titik tolak sejarah ini dimulai dari Toga Siregar yang diperkirakan hidup pada abad ke-15 (sekitar tahun 1400 Masehi).

– Posisi Silsilah: Ompu Raja Sotaradu Dongoran berada pada keturunan ke-13 dari Toga Siregar (atau keturunan ke-6 dalam catatan garis terdekatnya), yang berarti berjarak 12 tingkat generasi dari leluhur utama.

– Perkiraan Masa Hidup: Dengan menggunakan asumsi standar tarombo yaitu 25 hingga 30 tahun per generasi, Ompu Raja Sotaradu diperkirakan lahir pada akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18, tepatnya pada kisaran tahun 1700 hingga 1760 Masehi.

Dalam tradisi masyarakat adat Batak masa lampau, seorang tokoh terkemuka atau pamukka huta biasanya mulai membuka wilayah baru saat memasuki usia dewasa muda hingga matang. Kondisi geografis Aek Bilah yang berbukit dan dialiri sungai besar sangat ideal bagi strategi pertahanan dan pertanian tradisional, di mana Huta Sihulambu dirintis melalui penentuan permukiman hingga penanaman bambu sebagai benteng pertahanan alami (sihulambu). Jika Ompu Sotaradu Dongoran selaku pamukka huta memulai perintisan Huta Sihulambu pada usia 25 tahun, maka perkiraan tahun resmi berdirinya huta tersebut berada di kisaran tahun 1725 hingga 1785 Masehi.

Berdasarkan titik tengah dari rentang tersebut, tahun rata-rata berdirinya Huta Sihulambu jatuh pada sekitar tahun 1755 Masehi. Jika dihitung mundur dari tahun berjalan 2026, usia Huta Sihulambu dari awal perintisannya berkisar antara 241 hingga 301 tahun yang lalu, maka saat ini usia Luat Sihulambu rata-rata sekitar 271 tahun.

Ukuran lain juga dengan adanya catatan Berdiri Gereja HKBP sekitar tahun 1889 atau 137 tahun lalu sejak tahun 2026 ini. Dimana sekitar 100 tahun kemudian sejak dimulai membuka Hutan maka HKBP pun mulai berdiri di Sihulambu

Maka dapat masuk akal dalam perhitungan jika Wilayah Sihumlambu sudah berusia 271 tahun hinggi kini.

Menanam Tonggak Peradaban oleh Ompu Raja Sotaradu Dongoran

Sejarah pendirian Kerajaan wilayah adat Luat Sihulambu tidak dapat dilepaskan dari figur sentral yang meletakkan batu pertama pembangunan komunitas. Dalam tradisi lisan (turiturian) dan silsilah masyarakat setempat, Ompu Raja Sotaradu Siregar Dongoran dikenal sebagai pamukka huta, yaitu tokoh utama yang membuka kawasan hutan belantara menjadi perkampungan yang tertata, tempat bermukim, sekaligus pusat kehidupan sosial masyarakat adat. Dalam kehidupan rumah tangganya, Raja Sotaradu Siregar Dongoran meminang seorang wanita yang berasal dari Desa Padang Bulan, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara, yang sekaligus memperkuat jalinan aliansi adat dengan marga Marpaung.

Estafet Kepemimpinan dan Silsilah Keturunan Raja Sotaradu Dongoran

Kehadiran sang perintis (pamukka huta) kemudian dilanjutkan dan diperkuat oleh kepemimpinan keturunannya secara turun-temurun. Setelah Raja Sotaradu wafat, kepemimpinan dan jabatan raja diteruskan oleh Mangaraja Dihutana Dongoran, yang merupakan anak pertama dan berdomisili di Sihulambu.

Berdasarkan catatan silsilah, keturunan Raja Sotaradu yang berdomisili di Sihulambu terdiri dari tiga orang bersaudara:

– Mangaraja Dihutana: Anak pertama, penerus takhta atau jabatan raja di Sihulambu.

– Mangaraja Manguhup

– Mangaraja Bendel.

Peran dan Kiprah Mangaraja Bendel

Mangaraja Bendel Siregar Dongoran ( Mangaraja Bendel Dongoran) termasuk tokoh tersohor dan disegani pada masa kepemimpinan abangnya sebagai raja. Walaupun bukan berada di garis estafet kepemimpinan raja, Mangaraja Bendel memegang peranan vital sebagai seorang Panglima Perang dan/atau Pimpinan Urusan Luar Daerah dalam menjalankan tugas untuk menjaga keamanan serta kedaulatan wilayah.

Mangaraja Bendel memiliki pasukan khusus dengan seragam serba merah dan pedang panjang yang bertugas untuk melakukan penaklukan terhadap kelompok perlawanan, memenggal kepala para pemberontak atau kriminal, dan membawa kepala tersebut ke ibu kota luat di Huta Sihulambu sebagai simbol penegakan hukum dan kedaulatan adat (uhum).

Dalam kehidupan pribadinya, Mangaraja Bendel tercatat memiliki dua orang istri, yaitu Boru Sagala dan Boru Pasaribu. Dari keturunan Raja Sotaradu juga tercatat pula seorang anak perempuan (boru) yang menikah dengan marga Dalimunthe dan menetap di Desa Sihulambu.

Harmoni Internal: Menempatkan Sejarah dan Persaudaraan Marga Siregar Dongoran

Dalam dinamika silsilah di Luat Sihulambu, penting untuk dipahami bahwa terdapat dua kelompok Marga Siregar Dongoran:

– Siregar Dongoran yang merupakan keturunan langsung dari pamukka huta (perintis awal).

– Siregar Dongoran yang datang kemudian sebagai pendatang, lalu menetap serta beranak-pinak di wilayah ini.

Fakta historis mengenai siapa yang pertama kali membuka kampung dan siapa yang datang kemudian harus diakui serta dicatat sebagaimana mestinya demi menjaga keakuratan silsilah (tarombo) serta kejelasan teritorial.

Namun, di balik perbedaan riwayat kedatangan tersebut, esensi hakikat persaudaraan sejati tidak boleh kabur. Sesama Marga Siregar Dongoran adalah satu darah dan satu keturunan dari leluhur yang sama. Status sebagai “pendatang” pada masa lalu telah melebur seiring berjalannya waktu, menjadikan mereka bagian yang utuh, setara, dan sah sebagai warga bona pasogit di Luat Sihulambu.

Merajut Aliansi Melalui Perkawinan: Menghormati Posisi “Tulang”

Salah satu aspek paling menarik dari dinamika silsilah di kerajaan Luat Sihulambu adalah bagaimana para leluhurnya membangun jembatan kebudayaan melalui ikatan perkawinan. Berdasarkan catatan silsilah tradisional:

– Raja Sotaradu Siregar Dongoran meminang wanita dari marga Marpaung.

– Mangaraja Bendel memperistri wanita dari marga Sagala dan Pasaribu.

Pernikahan-pernikahan historis ini bukan sekadar peristiwa keluarga, melainkan deklarasi sosiologis yang melahirkan tatanan adat yang mengikat hingga hari ini. Konsekuensinya, seluruh keturunan marga Dongoran secara konsisten bertutur Tulang kepada marga-marga tersebut sesuai garis leluhur. Di tengah masyarakat Batak, posisi Tulang (pihak pemberi anak dara atau hula-hula) memegang peranan sakral sebagai sumber restu (pasu-pasu), penasihat moral, dan pilar keharmonisan dalam setiap hajatan maupun penyelesaian masalah adat.

Transformasi Teritorial: Dari Wilayah Adat Menjadi Desa-Desa Masa Kini

Dalam perkembangan sejarahnya, cakupan wilayah teritorial yang dahulu dikelola di bawah kesatuan adat Luat Sihulambu kini telah mengalami penyesuaian administratif seiring dengan pemekaran wilayah pemerintahan. Saat ini, kawasan ulayat dan pusat permukiman historis Kerajaan Luat Sihulambu meliputi beberapa wilayah administratif desa di Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan:

– Desa Sihulambu: Sebagai pusat atau inti historis tempat berdirinya perkampungan awal yang dirintis oleh para leluhur marga Dongoran.

– Desa Gorahut: Sebagai salah satu wilayah penyangga penting yang juga menjadi bagian dari rumpun sebaran keturunan dan teritorial adat Sihulambu.

– Desa-desa Lainnya di Sekitarnya: Wilayah-wilayah tetangga di dalam teritorial Aek Bilah yang dulunya terikat dalam satu kesatuan sosio-kultural Luat Sihulambu.

Mobilitas Keturunan dan Perluasan Wilayah Perantauan

Sejak pascakemerdekaan, dinamika sosial dan ekonomi di pedalaman mulai mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Hal ini mendorong sebagian keturunan dari Kerajaan Luat Sihulambu untuk mulai melakukan pergerakan mobilitas keluar dari wilayah asal demi menjemput masa depan yang lebih baik.

Perpindahan dan perantauan tersebut utamanya didorong oleh dua motif utama, yaitu dalam rangka melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi serta mencari peluang perekonomian dan penghidupan yang lebih luas di luar daerah ulayat.

Dalam catatan sejarah kekerabatan dan persebaran marga, tercatat berbagai target wilayah perantauan yang menjadi tujuan utama para keturunan dari generasi ke generasi, baik di dalam maupun di luar Pulau Sumatra.

Beberapa wilayah tujuan perantauan tersebut meliputi Labuhanbatu, Kota Padang Sidempuan, Padang Lawas, Medan, Riau, Jakarta, Jawa Barat, Langkat, Jawa Tengah, serta berbagai daerah lainnya yang terus berkembang seiring berjalan waktu.

Menjaga Warisan di Tengah Arus Modernisasi

Kini, lanskap Luat Sihulambu telah bertransformasi. Tantangan geografis dan infrastruktur pedalaman tetap ada, namun identitas kultural masyarakatnya tidak luntur begitu saja. Tulisan ini menjadi sebuah refleksi penting bahwa modernisasi tidak seharusnya mengikis akar sejarah. Mengetahui siapa pamukka huta (Ompu Raja Sotaradu Siregar Dongoran), memahami garis keturunan (termasuk peran kepemimpinan Mangaraja Dihutana serta ketegasan militer Mangaraja Bendel), menghormati pertuturan adat kepada pihak Tulang, merawat keharmonisan antar-sesama marga Siregar Dongoran, serta mengenali batas-batas teritorial leluhur adalah cara kita merawat ingatan kolektif.

Sebuah wilayah tidak hanya dibangun dari beton, melainkan dari cerita perjuangan para leluhurnya, dari air mata dan keringat yang tumpah saat membuka tanah, serta dari keharmonisan ikatan kekeluargaan yang terus dijaga lintas generasi.

Sudah selayaknya sejarah kerajaan Luat Sihulambu ini terus dijaga, diceritakan, sebagai wawasan & ilmu pengetahuan sebagai bagian dari kekayaan peradaban Nusantara di Tapanuli Selatan.

Daftar Pustaka

(Sumber Internal & Catatan Adat)

1. Keturunan Ompu Raja Sotaradu Dongoran. (Dokumen Manuskrip/Tarombo Keluarga). Catatan Silsilah Tarombo Siregar Dongoran di Sihulambu, Aek Bilah. (Dokumen silsilah keluarga besar yang merekam garis keturunan Ompu Raja Sotaradu, Mangaraja Dihutana, hingga Mangaraja Bendel).

2. Praktisi Adat dan Kerapatan Adat Luat Sihulambu. Turiturian dan Sejarah Lisan Pendirian Huta Sihulambu di Aek Bilah. (Rekaman sejarah lokal mengenai pembukaan huta, benteng bambu sihulambu, serta aliansi perkawinan dengan marga Marpaung, Sagala, dan Pasaribu di Tapanuli Selatan).

Komentar

Pos terkait