SYEKH AHMAD DAUD, SIPIROK (1891-1981): TUAN NABUNDONG DAN KOMANDAN PERTEMPURAN PALSABOLAS

Penulis: Dr. Zainal. E. Hasibuan
Ketua Bidang Penelitian MUI Tapanuli Selatan

Di jantung Tapanuli Selatan, ada sebuah kota yang sejak dulu menjadi simpul sejarah. Namanya Sipirok. Hari ini ia adalah ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, 356 kilometer dari Medan, 8-9 jam perjalanan darat ke selatan. Tapi jauh sebelum status itu, Sipirok adalah tanah persemaian marga, tanah kopi, dan tanah perlawanan.

Bacaan Lainnya

Pada sekitar tahun 1839, ketika Kerajaan Siregar Akkola Dolok masih berkuasa, benih kopi Arabika pertama ditanam dan mulai diperdagangkan dengan Belanda. Dari situlah lahir Kopi Arabika Sipirok yang terkenal itu. Di kota yang sama, pada 7 Oktober 1861, empat misionaris Eropa menggelar rapat yang kemudian melahirkan HKBP Sipirok pada Mei 1864, gereja HKBP pertama di dunia. Sipirok memang selalu menjadi titik temu: Islam dan Kristen, adat dan kolonial, dagang dan dakwah.

Di tengah simpul itulah, pada tahun 1891 Masehi, di sebuah perkampungan bernama Sipirok, lahir seorang bayi laki-laki. Nama kecilnya Binu Siregar. Ia adalah anak pertama dari enam bersaudara — dua laki-laki, empat perempuan. Ayahnya adalah seorang alim bernama Syekh Daud. Ibunya, perempuan beruntung yang melahirkan ulama besar, bernama Hajjah Tirani Sitompul. Kelak, anak sulung inilah yang akan dikenal seantero Padang Bolak hingga Angkola Timur dengan sebutan Syekh Ahmad Daud, atau lebih akrab dipanggil Tuan Nabundong.

Dari Bangku Vervolokh ke Tanah Suci

Jejak pendidikannya menunjukkan betapa terbukanya dunia ulama Angkola saat itu. Pertama kali ia duduk di bangku Vervolokh School, sekolah setingkat SD di Sipirok, dan tamat tahun 1913.

Ayahnya yang alim tidak membiarkannya berhenti. Ia dimasukkan ke sekolah mengaji di Basilam Langkat selama dua tahun. Di sana ia belajar kitab-kitab Melayu beraksara Jawi. Guru-gurunya mencatat: Binu adalah murid yang rajin dan bersungguh-sungguh, terpuji di depan kawan-kawannya.

Dahaga ilmu membawanya menyeberang selat. Tahun 1915 ia berangkat ke Kedah, Malaya, belajar di Pesantren Air Hitam selama tiga tahun. Di sinilah ia mulai bersentuhan dengan kitab kuning berbahasa Arab. Setelah itu ia pulang sebentar ke Sipirok, mempersiapkan bekal untuk cita-cita yang lebih besar: Makkah. Ia kembali lagi ke Kedah selama setahun untuk memantapkan diri.

Baru pada tahun 1916 ia benar-benar berangkat ke Makkah Al-Mukarramah. Tujuh tahun lamanya ia bermukim di Tanah Suci. Ia tenggelam dalam kitab-kitab besar: Tafsir, Tauhid, Hadits, Fiqih, Bahasa Arab, Ilmu Falak, dan cabang-cabang lainnya. Namun takdir berkata lain. Di Hijaz berkecamuk huru-hara perang Wahabi. Dengan perasaan menyesal, ia terpaksa pulang. Tanah air memang sedang menunggu putra-putra terbaiknya yang menimba ilmu di luar negeri untuk berbakti.

Mencari Tapak untuk Darul Ulum

Sekitar tahun 1923, setelah pamit kepada orang tuanya, ia memulai khidmatnya. Desa pertama yang ia pilih adalah Gunungtua Julu, Sosopan. Di sana ia mendirikan pondok pesantren sederhana. Santri berdatangan, mendengar kabar ada tuan guru baru pulang dari Makkah.

Tapi Tuan Guru ini gelisah. Status tanah pesantren itu pinjam pakai. Ia berpikir jauh ke depan, sulit mengembangkan pendidikan di atas tanah pinjaman. Maka pada tahun 1925 ia memindahkan pesantren itu ke Aek Nabundong, sekitar 3 kilometer dari Gunungtua Julu.

Ternyata di tempat baru pun belum serasi. Terlalu jauh dari pekan Pasar Matanggor. Santri kesulitan membeli kebutuhan harian. Saat libur puasa, ketika santri pulang kampung, lokasi itu menjadi sangat sunyi. Maka pada tahun yang sama, 1925, ia memindahkan lagi ke lokasi yang bertahan hingga sekarang: Nabundong.

Pesantren itu ia beri nama Darul Ulum Nabundong. Kenapa Darul Ulum?

Nama itu mengisyaratkan keluasan ilmu seperti Darul Ulum di Makkah tempatnya belajar — bukan hanya tarekat, tapi pusat ilmu. Sistemnya ia padukan: pesantren dan madrasah, mulai kelas satu sampai kelas tujuh, setara Tsanawiyah 4 tahun dan Aliyah 3 tahun.

Di sinilah ia mentransfer ilmu kepada santri dari berbagai penjuru Sumatera, bahkan luar Sumatera. Ia terkenal mahir dalam Nahwu-Sharaf (Tata Bahasa Arab), Fiqih, Tasawuf, dan Ilmu Falakiyah. Murid-muridnya mewarisi kemahiran itu. Banyak yang kemudian mendirikan pesantren sendiri: H. Ahmad Ismail di Padang Garugur, H. Imam Gazali Daulay di Siunggam Padang Bolak, H. Ja’far Hasibuan di Lubuk Soripada Barumun, dan lain-lain. Sebagian lagi terjun ke pemerintahan dan wirausaha.

Tahun 1952, di samping madrasah, ia membuka Persulukan (Khalwat) Thariqat Naqsyabandiyah. Tarekat ini ia terima dari ayahnya sendiri, dan ayahnya menerimanya dari Tuan Guru Basilam Syekh Abdul Wahab Rokan. Sejak itu jamaah suluk membludak, datang dari berbagai daerah. Rumahnya hampir setiap hari dikunjungi orang meminta fatwa dan doa: ada yang kehilangan barang, ada yang minta usahanya berhasil, ada yang ingin jabatannya naik. Di kalangan Nahdlatul Ulama, ia aktif sebagai anggota Syuriah, tempat NU meminta buah pikiran untuk masalah politik dan keagamaan.

Malam di Palsabolas: Ketika Tuan Guru Menjadi Komandan

Inilah bagian yang membuat Sipirok tidak bisa dilupakan dalam sejarah revolusi. Tahun 1948-1949, Agresi Militer Belanda II berkobar. Operasi Kraai dilancarkan Belanda. Kota-kota besar di Tapanuli — Tarutung, Sibolga, Padangsidimpuan — jatuh. Belanda ingin menyatukan kembali Sumatera Timur dan Sumatera Barat melalui Tapanuli Selatan. Untuk menahannya, Mayor Bejo, komandan sektor 1, menjadikan Desa Huraba sebagai benteng. Di Sipirok sendiri, Angkatan Gerilya Sipirok (AGS) dibentuk 3 Januari 1949 di bawah komando Sahala Muda Pakpahan dan Mayor Bejo, melakukan tiga kali serangan umum.

Di tengah situasi itu, Tuan Nabundong tidak tinggal diam di dalam kelambu suluknya. Ia membentuk pasukan sendiri: Pasukan Mujahidin. Anggotanya sekitar 300 orang, yang terdiri santri seniornya dan masyarakat sekitar. Ia sendiri bertindak sebagai komandan. Tidak hanya imam di masjid, ia menjadi komandan di medan juang. Semangat jihad fi sabilillah membakar jiwa santri. Cinta tanah air memang terpatri dari iman.

Senjata ia beli dari uangnya sendiri dan ditambah dengan partisipasi pasukannya. Tidak banyak: dua pucuk karaben, 30 pucuk senapang locot, ratusan pisau dan tombak besi, serta lima buah granat tangan.

Suatu malam, ia memimpin langsung pasukannya ke Palsabolas. Palsabolas hari ini adalah sebuah desa kecil di Kecamatan Angkola Timur, Desa Palsabolas. Tapi pada 1949, Palsabolas adalah urat nadi: jalan poros Padangsidimpuan – Sipirok–Gunungtua. Di sinilah konvoi Belanda harus lewat.

Terjadilah pertempuran sengit. Dari kegelapan, Pasukan Mujahidin menghadang tentara Belanda yang hendak menuju Sipirok. Baku tembak pecah. Dalam pertempuran itu, dua orang pasukannya gugur sebagai kusuma bangsa, syahid di medan laga.

Namun takdir perang rakyat memang pahit. Tidak lama setelah itu, pasukan Simarmata — sebutan masa itu untuk pasukan bersenjata liar di zaman revolusi — berhasil merampas semua persenjataan Mujahidin. Akibatnya, ketika tentara Belanda kemudian menyerang Pasar Matanggor, Pasukan Mujahidin tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Senjata tidak ada.

Kisah Palsabolas ini adalah cerminan nasib laskar-laskar desa di seluruh Indonesia: berani menghadang dengan senapan locot, tapi rapuh dalam logistik.

Karomah yang Hidup di Ingatan Orang
Masyarakat Nabundong tidak hanya mengenang beliau sebagai pejuang, tapi juga sebagai wali.

Anaknya menuturkan, ketika belajar di Kedah, beliau pernah sakit parah selama enam hari, tidak sadarkan diri. Gurunya bahkan sudah mentalqin Laa Ilaaha Illallah di telinganya, mengira sudah gorgoroh. Tiba-tiba ia siuman dan bercerita: ia telah pergi ke Makkah belajar kepada seorang bernama Syekh Abdul Jalil Al-Mandily, mengkaji kitab Ibnu Aqil, Syarqawy Tahrir, Shoiban Mallawy, dan Tafsir Ibnu Katsir, serta kepada Tuan Guru Mukhtar. Anehnya, ketika ia benar-benar sampai di Makkah bertahun-tahun kemudian, guru-guru yang ia sebut dalam sakitnya itu memang menjadi gurunya.

Di Nabundong, pernah musim kemarau panjang. Sungai Aek Nabundong kering. Masyarakat memohon doa. Setelah beliau berdoa, air sungai itu tiba-tiba membesar, padahal hujan tidak turun.

Dalam kegiatan suluk, ia pernah mengalami fana — tidak bergerak, tidak makan dan tidak minum — selama 14 hari, tetap duduk tafakkur di dalam kelambunya.

Dan ada kisah pilu: istri pertamanya hanyut ketika menyeberangi Sungai Aek Silapas pulang dari pekan. Orang-orang ramai mencari ke hilir, termasuk para pedagang yang meninggalkan barang dagangannya tanpa dijaga. Setelah kembali dari pencarian, ajaibnya, tidak seorang pun kehilangan barangnya. Namun sayang, sang ibu yang telah setia menemani hidup ulama besar itu tidak tertolong, ia menemui ajalnya.

Wasiat Terakhir

Pada hari Rabu, 19 Maret 1981, dalam perjalanan pulang berobat dari Medan menuju Nabundong, setelah menderita lumpuh kurang lebih tiga minggu, Al-Mukarram Syekh Ahmad Daud wafat.

Sebelum wafat, ia meninggalkan lima pesan untuk anak-anaknya, agar Darul Ulum tetap hidup: 1) Jangan berkelahi dan jangan bermusuhan, amalkan isi kitab-kitab yang kamu pelajari, 2) Tetap menjaga shalat berjamaah pada awal waktunya , 3) Tetap mengembangkan Fiqh dan Tasawuf, 4) Tetap melanjutkan Madrasah dan Suluk, 5) Tetap diamalkan tawajjuh dan berkhatam seperti biasa .

Kini khidmat itu dilanjutkan putra tertuanya H. Daud Ahmad, jebolan Candung Sumatera Barat. Putranya yang lain, H. Usman, jebolan Pesantren Cirebon, membuka pesantren di Aek Linta. Pesantren warisan itu kemudian terbelah menjadi Pondok Lama Darul Ulum dan Pondok Baru Syekh Ahmad Daud An Naqsabandi, tapi ruhnya tetap sama.

Begitulah Sipirok. Ia bukan sekadar ibu kota kabupaten. Dari Bagas Godang lahir Binu Siregar, dari Gunungtua Julu ia mencari tapak, dari Nabundong ia mendidik Ummat dan santri. Dan dari Palsabolas ia membuktikan bahwa seorang Tuan Guru juga bisa memanggul senapan demi kemerdekaan.

Wallohhu A’lam Bishshowab.

Referensi:

Abdul Wahab Rokan. (n.d.). Wikipedia bahasa Indonesia. Diakses 14 Agustus 2026.

Anwar Saleh. Sejarah Ulama. [Dikutip dalam Erawadi, Pusat-pusat Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Tapanuli Bagian Selatan].

Erawadi. (n.d.). Pusat-pusat Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah Di Tapanuli Bagian Selatan.

Harahap, Rinto. (2022). Zaman Keemasan Pendidikan Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Nabundong Kecamatan Batang Onang Kabupaten Padang Lawas Utara 1933–1981.

Harahap, Gunung. (2022). Zaman Keemasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren Darul Ulum Nabundong Kecamatan Batang Onang Kabupaten Padang Lawas Utara pada tahun 1925-2007.

Hasyim Siregar, H. (2024). Dinamika Pondok Pesantren Darul Ulum Nabundong di Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas Utara, 2006-2022.

HKBP Sipirok. (n.d.). Wikipedia bahasa Indonesia. Diakses 14 Agustus 2026. Sejarah rapat 7 Oktober 1861 dan berdirinya Mei 1864 sebagai gereja HKBP pertama

Kopi Arabika Sipirok. (n.d.). Wikipedia bahasa Indonesia. Sejarah kopi sejak sekitar tahun 1839 pada masa Kerajaan Siregar.

Siregar, Bahyuni Simbolon, et al. Sejarah Ulama dan Peran Pondok Persulukan. Inti: Pondok Persulukan (1925).

Van Bruinessen, Martin. (1992). Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung: Mizan.

Zulkifli, A. (n.d.). Pusat-pusat Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah Di Tapanuli Bagian Selatan.

Komentar

Pos terkait