Oleh: Moechtar Nasution
Forum Lingkar Studi Tulila *
Sejarah sering kali ditulis dengan tinta emas kemenangannya atau coretan hitam tragedi politiknya. Narasi besar di buku-buku sekolah sibuk merekam peta kekuatan, strategi pertempuran, dan pergantian rezim kekuasaan. Namun, di balik kemegahan panggung politik dan benturan ideologi, ada jeritan kemanusiaan yang kerap kali tenggelam dalam keheningan yang sunyi. Kita lupa bahwa di bawah kaki para penguasa yang kerap bertikai, ada jiwa-jiwa tak berdosa yang terinjak tanpa sempat membela diri. Salah satu jeritan paling menyayat hati dalam lembaran sejarah Indonesia terjadi pada malam kelam 1 Oktober 1965 dini hari. Saat itu, rentetan timah panas menembus tubuh mungil Ade Irma Suryani Nasution, seorang bocah perempuan polos yang baru saja mencicipi dunia selama lima tahun.
Ketika Ideologi Menutup Mata Hati
Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) hingga hari ini kerap diperdebatkan tanpa akhir dari sudut pandang politik, konspirasi intelijen, maupun manuver militer dan keterlibatan asing. Namun, kisah Ade Irma Suryani memaksa kita semua untuk menanggalkan sejenak semua atribut politis yang rumit itu. Kisah ini mengajak kita melihat tragedi melalui kacamata kemanusian yang paling murni, tanpa sekat golongan.
Malam itu, kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat, mendadak dikepung dan diserbu oleh puluhan pasang kaki bersenjata dari Batalyon Kawal Kehormatan I Resimen Tjakrabirawa di bawah pimpinan Pelda Djahurup. Tembakan beruntun yang dilepaskan oleh salah satu prajurit, Kopral Dua Hargijono, saat mendobrak paksa pintu kamar bukan sekadar letusan senjata api biasa.
Bayangkan sebuah kamar tidur anak yang hangat dan damai. Sebuah ruang yang seharusnya hanya dipenuhi aroma lembut bedak bayi, tumpukan boneka, dan mimpi-mimpi lucu khas anak-anak, seketika berubah menjadi ruang jagal yang mencekam. Kamar itu dipenuhi kepulan asap mesiu yang menyesakkan dada, pecahan kaca yang berserakan, dan selongsong peluru tajam yang panas. Kejadian ini menjadi bukti nyata dan telanjang tentang bagaimana sebuah ideologi yang ekstrem sanggup mencabut rasa empati dari hati manusia. Ketika seseorang sudah terlalu dalam terdoktrin oleh fanatisme politik, orang lain tidak lagi dilihat sebagai sesama manusia, melainkan sekadar angka atau rintangan yang harus disingkirkan. Doktrin politik membuat moncong senjata laras panjang tega diarahkan ke dalam ruang paling sakral dan paling aman bagi sebuah keluarga. Konflik politik membuktikan kekejamannya yang paling paripurna ketika garis pembatas antara “musuh politik” dan “anak-anak tak berdosa” sengaja dikaburkan begitu saja demi pemenuhan ambisi orang-orang dewasa yang haus kekuasaan. Kegelapan malam itu seolah mengunci rapat nurani para pelaku, membiarkan kebencian mengambil alih nalar sehat yang tersisa.
Bisikan Lembut di Tengah Rasa Sakit
Namun, kemanusiaan terdalam dari kisah tragis ini justru lahir dan terpancar dari kepolosan dan ketabahan luar biasa sang malaikat kecil di ujung usianya. Saat dilarikan dalam kondisi kritis ke RSPAD Gatot Soebroto, dengan kondisi tiga peluru berkaliber besar bersarang di punggungnya, Ade sama sekali tidak menangis atau mengeluh. Di bawah penanganan darurat tim dokter yang dipimpin oleh dr. Arie Sadewo, bocah periang itu harus melewati tiga kali operasi besar yang menyiksa tubuh mungilnya demi membersihkan serpihan proyektil tajam.
Di tengah bau antiseptik rumah sakit yang pekat, mesin medis yang monoton, dan deru napasnya yang kian hari kian memberat, sebuah kalimat lirih keluar dari bibir kecilnya. Kepada sang kakak yang menangis histeris di samping tempat tidurnya, Yanti, Ade berbisik dengan suara yang nyaris habis: “Kakak jangan menangis, Ade sehat…” Kalimat itu menjadi ironi kemanusiaan yang luar biasa hebat sekaligus menampar kedewasaan kita.
Di saat tubuhnya sendiri sedang digerogoti rasa sakit yang tak terperikan oleh logam panas yang merobek dagingnya, ia justru memilih menggunakan sisa energi terakhirnya untuk menenangkan dan menguatkan orang-orang tercinta di sekitarnya. Keberanian semacam ini tidak diajarkan dimanapun; itu adalah ketulusan murni yang hanya dimiliki oleh jiwa yang belum terkontaminasi oleh kebusukan dunia orang dewasa.
Pilihan Mustahil Seorang Ibu
Di sisi tempat tidur rumah sakit yang dingin itu, nilai kemanusiaan juga diuji lewat ketabahan luar biasa dari sang ibu, Johanna Sunarti. Malam itu, ia dihadapkan pada persimpangan logis dan emosional yang paling mustahil dan kejam bagi seorang perempuan. Dengan tangan yang gemetar hebat dan baju yang basah oleh darah hangat, ia harus mendekap erat tubuh putrinya yang terkulai lemah. Namun di saat yang bersamaan, ia harus menekan seluruh naluri protektifnya sebagai istri dan mendesak suaminya untuk melompati tembok belakang rumah, membiarkan sang suami lari ke kegelapan malam demi menyelamatkan diri karena tugas negara yang menanti. Pikirannya pasti terbelah antara meratapi takdir anaknya yang sekarat atau memastikan suaminya tidak tertangkap atau tertembak moncong laras panjang.
Dilema itu tidak berhenti di malam penembakan saja. Saat di ruang ICU yang sunyi dan mencekam, Ibu Johanna harus menjatuhkan egonya sedalam-dalamnya sebagai seorang ibu. Selama berhari-hari ia menyaksikan perjuangan putrinya melawan maut, memandangi wajah mungil yang kian pucat di bawah sorot lampu kamar rumah sakit. Pada akhirnya, ia harus membisikkan kata ikhlas dan merelakan kepergian buah hatinya tepat di telinga Ade yang sedang sekarat. Keputusan itu diambil karena ia tak tega lagi melihat putri kecilnya terus-menerus disiksa oleh rasa nyeri pasca-operasi yang gagal menyelamatkan nyawanya. Sebuah keikhlasan yang mengalir bersama air mata, menandai batas akhir perjuangan seorang ibu yang harus melepas pelukan paling berharganya.
Sebuah Tanya yang Mengguncang Nurani
Pertanyaan polos Ade kepada ibunya beberapa saat menjelang ajal menjemput, “Kenapa Papa mau dibunuh, Ma?”, adalah sebuah gugatan abadi yang ditujukan kepada nurani kemanusiaan kita semua. Pertanyaan lugu itu tidak membutuhkan jawaban rumit geopolitik, analisis intelijen tingkat tinggi, ataupun perdebatan sengit mengenai peta koalisi kekuasaan di masa itu. Pertanyaan itu mengalir begitu saja dari kejujuran seorang anak yang bingung mengapa dunia tempatnya bermain tiba-tiba meletus dalam kekerasan.
Itu adalah jeritan suara universal yang mewakili ribuan anak di berbagai belahan dunia hari ini. Suara Ade adalah suara yang sama dengan anak-anak di Gaza yang menatap langit malam yang dipenuhi kembang api kematian, anak-anak di Suriah yang merangkak di antara puing-puing beton rumah mereka, atau anak-anak di wilayah konflik global lainnya yang hingga detik ini masih terus dipaksa menjadi korban collateral damage (dampak ikutan) akibat perang yang dipicu oleh ego sektarian orang-orang dewasa. Mereka adalah jiwa-jiwa yang kehilangan haknya untuk tumbuh besar, belajar membaca, bermain petak umpet, dan memeluk orang tuanya hanya karena dunia tempat mereka lahir gagal berdamai dengan ambisinya sendiri. Pertanyaan Ade tetap menggantung di udara sejarah, menuntut jawaban dari setiap generasi yang masih percaya bahwa kekerasan adalah jalan keluar.
Getir di Balik Kata “Perisai”
Perjuangan hidup Ade Irma Suryani akhirnya harus berakhir pada 6 Oktober 1965 dini hari ketika ia menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan keheningan yang teramat berat di ruang perawatan. Di pusaranya yang kini berdiri tenang dan bersanding dengan kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, sang ayah menorehkan sebongkah kalimat pilu pada batu nisannya: “Anakku yang tercinta, Ade Irma Suryani, engkau telah mendahului kami. Tetapi engkau telah gugur sebagai perisai ayahmu.” Penggunaan kata “perisai” di sini terasa begitu getir, dingin, dan meremukkan hati siapa saja yang merenungkannya.
Seorang anak kecil dilahirkan ke dunia ini untuk dijaga tumbuh kembangnya, disayangi dengan penuh kehangatan, dan dilindungi dengan seluruh jiwa raga oleh orang tuanya. Anak-anak bukanlah tameng, mereka bukan benteng pertahanan terakhir orang dewasa dari konflik angkat senjata yang mereka sendiri tidak pernah tahu apa penyebabnya. Sungguh sebuah tragedi kemanusiaan yang sulit dinalar ketika seorang Jenderal besar, yang sehari-harinya mengomandoi strategi pertahanan seluruh negara dan memimpin ribuan pasukan, harus hidup di sisa usianya dengan memikul beban rasa bersalah yang teramat sunyi. Ia harus bangun setiap pagi menghirup udara kehidupan, sembari mengetahui dengan perih yang menusuk jantung bahwa putri bungsu yang paling disayanginya telah tewas oleh peluru yang sebenarnya ditargetkan untuk menembus dadanya sendiri. Seragam militernya yang gagah penuh bintang penghargaan seketika terasa hambar di hadapan batu nisan putih sang anak.
Menolak Lupa, Merawat Bahagia
Pada akhirnya, sejarah boleh saja terus berdebat tentang siapa yang merancang skenario atau siapa yang memegang kendali pada malam jahanam itu. Namun bagi nurani kita, perdebatan itu melebur menjadi abu di hadapan pusara Ade Irma Suryani. Ade tidak mati sebagai pahlawan militer yang angkat senjata; ia pulang sebagai pengingat abadi bahwa kemanusiaan kita terlalu mahal jika harus ditukar dengan fanatisme ideologi. Tragedi ini bukan sekadar bab kelam yang dijilid rapi dalam buku masa lalu, melainkan alarm yang terus berdering di kepala. Setiap kali kita membiarkan kebencian politik dan ego golongan mengambil alih nalar, kita sedang membuka celah bagi timbulnya “Ade Irma” yang baru di masa depan.
Tugas kita sekarang adalah pulang ke rumah masing-masing, memeluk anak-anak dengan lebih erat, dan memastikan ruang bermain mereka dipenuhi gelak tawa, bukan asap mesiu. Kita berutang sebuah janji pada masa depan: merawat kedamaian ini dengan akal sehat dan hati yang bersih. Karena seindah dan semegah apa pun mimpi tentang kekuasaan, ia tidak akan pernah sebanding dengan senyuman tulus seorang anak kecil yang berhak tumbuh besar tanpa rasa takut. Dari keheningan makam Ade Irma, kita belajar bahwa menjaga kehidupan adalah satu-satunya cara kita menghargai kemanusiaan.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.