Membaca Jejak Multatuli di Natal: Kisah tentang Sumur Tua dan Rumah yang Terlupakan

Oleh: Moechtar Nasution
Forum Lintas Studi Tulila *

Kalau kebetulan Anda sedang berjalan-jalan ke pesisir barat Sumatra dan mampir ke Kota Natal di Mandailing Natal, coba tanyakan ke warga setempat di mana gubuk bekas kediaman Multatuli. Hampir pasti, jemari mereka akan menunjuk ke arah gang kecil di Desa Pasar II. Sayangnya, kalau kita membuka buku-buku pelajaran sekolah, nama pria bernama asli Eduard Douwes Dekker ini sudah telanjur dikunci mati di atas singgasana sejarah yang antiprokritik. Lewat novelnya, Max Havelaar (1860), ia selalu dipuja bak malaikat tanpa noda yang menampar muka pemerintah kolonial Belanda. Sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer bahkan menasbihkan buku itu sebagai “buku yang membunuh kolonialisme”.

Tapi, mari kita lihat masa lalu ini dengan kepala dingin. Sebagai orang dewasa, kita tahu sejarah jarang sekali berjalan hitam-putih. Jiwa pemberontak Multatuli itu aslinya tidak lahir di tanah Jawa saat ia mengurus Lebak. Hulunya justru ada di pelabuhan tua Natal ini. Tepatnya saat ia bertugas sebagai Kontrolir muda pada tahun 1842 hingga 1844. Di sinilah idealisme masa mudanya pertama kali berbenturan dengan kenyataan hidup yang luar biasa pahit.

Ingatan saya seketika menerawang kembali ke tahun 2018 silam. Saat itu, saya berkesempatan menginjakkan kaki di Kota Bertuah, Natal ini selama dua hari penuh. Tugas saya waktu itu menjadi narasumber dalam pembentukan Forum Relawan Penanggulangan Bencana Kecamatan Natal. Di sela-sela waktu istirahat dari agenda yang padat, saya memilih ke Desa Pasar II. Saya penasaran  pada sebuah situs yang kerap luput dari perhatian nasional: Sumur Multatuli. Ketika menyentuh dinding sumurnya langsung, saya tersadar. Di sinilah segalanya bermula.

Sumur yang Jernih dan Kehangatan yang Tertinggal

Bayangkan posisi Dekker saat itu. Sebagai pejabat Eropa, ia seharusnya menjaga jarak, tampil necis, dan bersikap kaku demi wibawa Kerajaan Belanda. Tapi dasar wataknya memang eksentrik, ia malah memilih sebaliknya. Ia memilih berbaur. Ia kerap kedapatan duduk bersila di lantai beranda rumah penduduk, mengabaikan protokol seragamnya demi bisa mencicipi kopi atau sekadar mendengarkan cerita sehari-hari tanpa sekat kedinasan. Rumah dinasnya yang sederhana akhirnya berubah menjadi tempat mengadu yang paling aman bagi nelayan yang mengeluhkan pungutan liar, petani yang kecewa karena bagi hasil yang timpang, hingga pedagang kecil yang tertatih-tatih di pelabuhan. Ia menemui mereka bukan sebagai penguasa yang angkuh, melainkan sebagai sahabat yang tulus menaruh empati mendalam pada setiap helai penderitaan bumiputra.

Kehangatan yang begitu erat itu meninggalkan sebuah warisan fisik yang sangat ikonik di tanah pesisisr Mandailing, Sumatra, yakni Sumur Multatuli.

Sumur berdiameter raksasa ini ia gali sendiri dengan peluh keringatnya bersama beberapa warga lokal. Sebuah pemandangan yang tentu saja membuat alis para pembesar kolonial di Batavia berkerut kebingungan. Tujuan Dekker sangat sederhana namun mendalam; ia ingin warga sekitar punya akses air bersih melimpah tanpa perlu membayar, sekaligus memastikan setiap tamu dari kalangan rakyat jelata yang singgah bisa disuguhi minuman segar dengan layak sebagai bentuk penghormatan manusiawi.

Saat saya berkunjung langsung ke sana pada 2018 lalu, keadaannya memang masih terbilang bagus dan kokoh. Kondisi geografis pesisir pantai Natal yang didominasi tanah rawa dan rembesan air laut sebenarnya membuat mayoritas sumur di sekitar kawasan tersebut berasa asin. Namun, sumur raksasa yang digali oleh tangan Dekker ini justru mengeluarkan air tawar murni yang rasanya sangat segar, dingin, dan konon tidak pernah kering walau musim kemarau panjang.

Baca juga:  Spa Alami di Kaki Gunung Sorik Marapi: Huta Raja Menjaga Harmoni

Air jernih yang terus memancar itu seolah menjadi saksi hidup bahwa kepedulian Multatuli bukan sekadar bualan fiksi di dalam lembaran buku sastra Eropa, melainkan sebuah kenyataan yang pernah menyembur di tanah Mandailing. Namun, saya juga membatin saat itu, jika situs ini dirawat dengan perhatian yang lebih serius dan profesional oleh pemangku kebijakan, keadaannya pasti akan jauh lebih baik lagi daripada sekadar dibiarkan berdiri sunyi di samping gubuk bekas rumah dinasnya yang tampak begitu merana, lapuk dimakan usia, dan nyaris rubuh akibat sapuan angin laut.

Desakan dari Pesisir Menjelang Hari Kemerdekaan

Melihat kondisi fisik bangunan yang semakin hari semakin memprihatinkan, suasana kehangatan sejarah di Natal akhirnya perlahan-lahan berubah menjadi keresahan yang mendalam di kalangan masyarakat. Seperti yang dilaporkan oleh jurnalis koresponden daerah dalam pemberitaan koran harian Waspada, menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, warga Kota Natal merasa tidak bisa lagi tinggal diam melihat situs berharga itu hancur perlahan di depan mata mereka sendiri. Tokoh pemuda setempat, Husni Iskandar Dinata, bersama segenap elemen masyarakat secara terbuka mengetuk pintu hati pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan nyata dengan menyisihkan anggaran pemugaran dalam APBD.

Gerakan moral dari pesisir barat ini bukan sekadar urusan teknis untuk memperbaiki beberapa lembar papan kayu yang keropos atau memaku kembali atap seng yang bocor. Ini adalah sebuah ikhtiar batin yang sangat emosional agar jejak sejarah besar yang tertanam di tanah Natal tidak menguap begitu saja dan hilang ditelan kabut waktu yang acuh tak acuh.

Ada pemandangan swadaya yang begitu mengharukan sekaligus memberikan kesegaran baru di lokasi situs. Para pemuda lokal justru memilih langsung turun ke lapangan secara mandiri. Mereka menggalang gerakan dengan mengajak para pelajar sekolah dari berbagai tingkatan untuk datang berkunjung, menyapu dedaunan kering, mencabuti rumput liar, dan merawat sumur serta gubuk tua itu secara gotong royong dengan penuh suka cita.

Lewat jemari kecil para siswa yang memegang sapu lidi itulah ingatan sejarah bangsa ini sedang diikat kuat agar tidak lepas. Di sela-sela kegiatan membersihkan lumut tua, para pelajar tersebut diingatkan kembali melalui cerita lisan yang intim; bahwa di bawah atap rumah reyot itulah pernah tinggal seorang manusia keras kepala yang tulisan-tulisannya kelak berhasil mengguncang parlemen di Belanda, memaksa lahirnya Politik Etis, menginisiasi berdirinya sekolah-sekolah modern bagi kaum bumiputra di seluruh Nusantara, hingga menjadi bahan bakar intelektual utama yang menginspirasi generasi Sumpah Pemuda untuk melangkah gagah menuju gerbang kemerdekaan kita.

Kisah tentang Visi Kopi dan Laporan Kas yang Tekor

Namun, penulisan sejarah yang jujur tentu tidak boleh hanya menceritakan bagian yang manis-manis atau sekadar memoles citra sang tokoh agar terlihat tanpa cela. Sejarawan kolonial terkemuka, Rob Nieuwenhuys, dalam studi historiografinya yang tajam berjudul Mitos dari Lebak (1987), mengingatkan kita bahwa periode hidup Multatuli selama bertugas di Hindia Belanda juga memperlihatkan sisi kemanusiaannya yang rapuh. Jika kita mau membaca kenyataan dokumen apa adanya, dalam urusan pekerjaan kantor rutin dan disiplin korps amtenar, Eduard Douwes Dekker adalah seorang abdi negara yang sangat payah. Ia menganggap laporan inventaris barang sebagai dokumen yang menjemukan dan sangat membenci hitung-hitungan angka akuntansi yang rumit. Meja kerjanya lebih sering dipenuhi oleh draf puisi ketimbang tumpukan berkas perkara resmi.

Baca juga:  Memaknai Amanah Kepemimpinan: Antara Keikhlasan Niat, Akuntabilitas Publik, dan Kehendak Allah

Puncaknya terjadi ketika Gubernur Pantai Barat Sumatra yang terkenal memiliki karakter dingin dan bertangan besi, Jenderal A.V. Michiels, melakukan inspeksi mendadak ke wilayah Natal. Jenderal Michiels menemukan adanya defisit anggaran yang besar alias skandal kas tekor dalam keuangan pemerintah di bawah tanggung jawab Dekker.

Benturan watak yang sangat tajam antara Dekker yang terlalu sentimental dengan Jenderal Michiels yang sangat disiplin-militeristis membuat situasi memanas dengan cepat. Dekker  dituduh secara sepihak telah menggelapkan uang kas negara, dicopot seketika itu juga dari jabatannya sebagai Kontrolir, dan diseret ke Padang untuk menjalani masa skorsing panjang yang menyiksa tanpa menerima gaji sepeser pun. Meskipun proses pemeriksaan hukum di Batavia kelak membutikan bahwa ia sama sekali tidak berniat korupsi untuk memperkaya diri sendiri melainkan murni karena ketidakbecusannya dalam mengurus administrasi keuangan, kejadian traumatis ini sempat menghancurkan nama baik dan masa depan kariernya di Hindia Belanda.

Uniknya, di balik kekacauan laporan buku kas yang tekor dan berantakan tersebut, pikiran Dekker sebenarnya sedang melompat jauh ke depan melampaui tugas administratifnya. Saat bertugas di Natal, ia justru lebih sibuk memikirkan bagaimana caranya membuka jalur-jalur infrastruktur jalan baru yang membelah hutan menuju daerah pedalaman Mandailing. Visi ekonominya saat itu sangat mulia; ia ingin mempermudah distribusi komoditas kopi Mandailing yang kualitasnya terkenal sangat premium di pasar dunia, agar para petani lokal bisa langsung menjual hasil buminya ke bandar pelabuhan tanpa harus diperas oleh lingkaran tengkulak yang serakah. Lebih dari itu, di tengah kesunyian masa pengasingannya selama diskors di Padang, rasa frustrasinya yang menumpuk justru melahirkan naskah-naskah drama satir pertamanya, seperti lakon De Oneerbare (Lelaki yang Tak Terhormat)—sebuah batu asahan berharga yang tanpa sengaja melatih ketajaman penanya sebelum ia melahirkan karakter legendaris Max Havelaar belasan tahun kemudian.

Mengetuk Pintu Akademik demi Legalitas Hukum

Kenyataan bahwa situs penting di Natal ini belum mendapatkan ketetapan resmi dari pemerintah sebagai Cagar Budaya Daerah maupun Nasional membuat gerakan swadaya warga Natal kini berada di titik persimpangan yang sangat krusial. Tinta emas sejarah daerah tidak boleh dibiarkan luntur dan hilang begitu saja hanya karena proses penetapam yang membutuhkan waktu.

Tentu sangat tidak adil jika beban sejarah bangsa yang sedemikian besar ini hanya diletakkan dengan pasrah di atas pundak para pemuda dan pelajar lokal yang sukarela menyapu lantainya setiap akhir pekan. Padahal, jejak sejarah di tanah ini begitu kuat melekat pada kesadaran warga; bahkan sebagai bentuk penghormatan mendalam dan pengingat abadi atas sumbangsih kemanusiaannya, nama Multatuli kini telah diabadikan menjadi salah satu nama jalan resmi di Kota Natal. Penghormatan ruang publik ini menjadi penanda kuat bahwa ingatan komunal warga pesisir tidak pernah memudar, meskipun gubuk bersejarah di dekat jalan tersebut kini telanjur merana tanpa sentuhan regulasi.

Baca juga:  7 Ayat dari Beragam Surah Al-Qur'an Menegaskan, Apapun Jenis Rencana & Perbuatan Berdampak Pada Pelakunya

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk kesadaran kolektif para akademisi, sejarawan, perguruan tinggi, serta para pemangku kebijakan untuk menelohkan perhatian serius kesitus bersejarah ini. Sudah saatnya kita memulai sebuah langkah akademik yang terencana, sistematis, gradual, dan terarah untuk mengawal legalitas situs ini agar resmi diakui dan dilindungi oleh hukum negara.

Langkah nyata ini harus disusun secara bertahap namun pasti, dimulai dengan menyusun naskah rekomendasi ilmiah dari para ahli sejarah yang perlu duduk bersama melakukan studi dokumen guna mengikat kembali arsip kolonial tahun 1842 dengan bukti fisik sumur dan tapak rumah yang tersisa, kemudian dilanjutkan dengan riset lapangan berupa verifikasi material arkeologis serta penyelesaian urusan pembebasan status kepemilikan tanah warga yang selama ini kerap menjadi batu sandungan utama yang menjegal langkah birokrasi daerah, hingga akhirnya bermuara pada pengawalan jalur hukum dengan mendaftarkan objek ini ke registrasi cagar budaya kabupaten agar kelak mendapatkan alokasi anggaran perawatan yang sah dari APBD secara permanen. Menata jalur akademik yang mengalir lancar tanpa sekat-sekat pembatas ini bukan demi mengejar formalitas stempel di atas kertas, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab moral kita sebagai manusia dewasa untuk menyelamatkan warisan masa lalu dari sifat acuh tak acuh masyarakat modern.

Menutup Jembatan Zaman

Sejarah selalu punya cara tersendiri untuk mengalirkan takdir hidup manusia ke muara yang tak terduga. Eduard Douwes Dekker mungkin mengawali langkahnya di pesisir barat Sumatra hanya sebagai seorang pegawai kolonial yang canggung, eksentrik, dan kerap membuat pusing atasannya karena urusan pembukuan keuangan yang kacau. Namun, benturan nyata antara kehangatan nurani kemanusiaan dan kekakuan sistem kolonial di Natal inilah yang membentuk fondasi batinnya, yang belasan tahun kemudian melahirkan daya ledak sastra yang meruntuhkan legitimasi moral penjajahan bangsanya sendiri.

Menatap jejak Multatuli di Natal mengajarkan kita semua untuk melihat masa lalu dengan bijak dan dewasa. Tugas kita hari ini adalah menyambut baik kepedulian tulus warga Natal, merawat sumur sejarah itu, dan mendorong pemugaran total rumah petilasannya. Ini adalah langkah terbaik untuk memastikan agar air tawar jernih idealisme yang pernah digali di tanah Natal tidak tersumbat oleh ketidakpedulian kita, sekaligus menjadi cermin kritis yang senantiasa menantang kita semua dalam memandang situs-situs bersejarah dengan kearifan supaya dilestarikan bersama.

Wallohu Aqlam Bisshawab…

  • Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Multatuli. (1860). Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij. Amsterdam: Johannes de Ruyter.
  • Nieuwenhuys, Rob. (1987). Mitos dari Lebak: Telaah Kritis Peran Revolusioner Multatuli. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  • Toer, Pramoedya Ananta. (1999). The Book That Killed Colonialism. New York Times Magazine.
  • Waspada.id. (2026). Menjelang HUT ke-81 RI, Tokoh Pemuda dan Warga Kota Natal Desak Pemugaran Rumah Multatuli. Panyabungan: Portal Berita Harian Waspada.

Berita Terbaru

Limbah Gaza Cemari Laut Tengah, Fasilitas Air Israel Terancam Lumpuh

SUMUTNEWS.CO, Medan - Dampak lingkungan akibat konflik yang berlangsung hampir...

RAP Marlojong Fun Run Bhayangkara 2026, Ribuan Peserta Padati Kota Padangsidimpuan

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan - Ribuan peserta dari berbagai pelosok Sumatera...

10 Kg Ganja Disamarkan Bersama Batang Pisang, Satu Tersangka Diamankan, Satu Lagi Buron

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Padangsidimpuan...

Darah Demokrat untuk Ibu Pertiwi

Medan, SUMUTNEWS.CO- DPD Partai Demokrat Sumatera Utara menggelar kegiatan...

45 Kota di Maroko Serentak Turun ke Jalan, Bela Palestina dan Tolak Normalisasi

SUMUTNEWS.CO, Maroko - Gelombang solidaritas untuk Palestina memadati jalan-jalan di puluhan...

Berita Terkait