Penulis: Rasyid Assaf Dongoran
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan analisis data, klaim mengenai kemampuan memprediksi masa depan kian marak. Mulai dari peramalan ekonomi, arah politik, hingga nasib pribadi seseorang sering kali disampaikan dengan nada yang begitu meyakinkan. Namun, sikap mendahului takdir dan meyakini secara mutlak apa yang bakal terjadi esok hari sejatinya menabrak batas kodrat manusia.
Dalam pandangan Islam, kepastian mengenai masa depan merupakan rahasia Ilahi yang tidak tersentuh oleh akal manusia. Ketegasan ini termaktub secara gamblang dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 34. Ayat tersebut menegaskan lima perkara gaib yang menjadi hak prerogatif Allah SWT, salah satunya pengetahuan tentang apa yang akan dialami atau diusahakan seseorang pada hari esok.
QS. Luqman Ayat 34
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Innallāha ‘indahū ‘ilmus-sā’ati wa yunazzilul-ghaitsa wa ya’lamu mā fil-arḥāmi, wa mā tadrī nafsum māżā taksibu ghadā(n), wa mā tadrī nafsum bi’ayyi arḍin tamūtu , innallāha ‘alīmun khabīr.
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Bahasa dalam QS. Luqman Ayat 34
Kekuatan pesan dalam Surat Luqman ayat 34 tidak hanya terletak pada substansi maknanya, tetapi juga pada struktur tata bahasa (nahwu), pilihan kata (pragmatik-semantik), dan gaya retorika (balagah) yang begitu presisi mengunci keterbatasan manusia.
Penggunaan Partikel Penegas Inna (إِنَّ): Ayat ini dibuka dengan huruf Inna (harf taukīd), yang berfungsi memberikan penekanan mutlak.
Penempatan Inna di awal ayat menegaskan bahwa pengetahuan tentang lima perkara gaib, termasuk rahasia hari esok, adalah domain eksklusif Allah yang tidak dapat diganggu gugat oleh klaim makhluk mana pun
Pilihan Kata Mā Tadrī (وَمَا تَدْرِي) vs Mā Ta’lamu: Al-Quran tidak menggunakan kata ta’lamu (dari akar kata ‘ilm), melainkan tadrī (dari akar kata dirāyah). Dalam tradisi linguistik Arab, dirāyah adalah jenis pengetahuan yang diperoleh melalui proses analisis, observasi, kalkulasi empiris, riset, atau pemikiran mendalam.
Penggunaan negasi mā tadrī memberikan penegasan ilmiah: setinggi apa pun instrumen riset, analisis data, dan metode prediksi yang dikembangkan manusia, ia tetap tidak akan pernah bisa menembus batas kepastian (certainty) hari esok.
Kaidah Nafsun (نَفْسٌ) sebagai Isim Nakirah dalam Struktur Negasi: Kata nafsun ditulis dalam bentuk indefinit (nakirah). Dalam kaidah usul fikih dan balagah, apabila kata nakirah berada dalam konteks kalimat negatif (siyāq an-nafy seperti kata mā), maka ia memberikan faedah al-‘umūm (generalisasi mutlak). Artinya, kata “jiwa/manusia” di sini mencakup siapa saja tanpa terkecuali, baik pakar ekonomi, peramal, ilmuwan, pejabat, maupun algoritma kecerdasan buatan terkini. Tidak ada satu pun jiwa yang memiliki pengecualian.
Makna Tersembunyi di Balik Taksibu (تَكْسِبُ) dan Ghadan (غَدًا): Kata taksibu berasal dari akar kasaba, yang berarti ikhtiar, perolehan, atau hasil dari usaha. Al-Quran tidak sekadar menyebut “apa yang terjadi esok hari”, melainkan “apa yang akan diusahakan/dihasilkannya”. Ini menunjukkan bahwa bahkan terhadap tindakan dan hasil ikhtiarnya sendiri yang direncanakan esok hari (ghadan), manusia tidak punya kontrol penuh untuk memastikannya
Sifat ‘Alīmun Khabīr (عَلِيمٌ خَبِيرٌ): Ayat diakhiri dengan dua nama agung Allah tanpa menggunakan huruf sandang al- (nakirah untuk penagungan). ‘Alīm mengindikasikan pengetahuan Allah yang melingkupi segala hal secara makro dan zahir, sementara Khabīr menegaskan pengetahuan-Nya yang menjangkau hal-hal mikro, batin, dan detail tersembunyi.
Pasangan sifat ini menjadi penutup yang kontras dengan ketidaktahuan manusia.
Tentang Akal dan Data: Rencana Hari Ini Bukan Kepastian Terlaksana Hari Esok
Perkembangan peradaban manusia saat ini berada pada puncak kebanggaan atas kalkulasi rasional. Melalui algoritma kecerdasan buatan, pemodelan prediktif, hingga analisis big data, manusia modern merasa mampu mengunci masa depan dalam genggaman.
Rencana demi rencana disusun dengan tingkat presisi tinggi, seolah-olah waktu esok hanyalah panggung yang tinggal mengeksekusi skenario yang telah ditulis hari ini.
Namun, di situlah letak kekeliruan mendasar dalam memahami fungsi akal dan data. Akal manusia beserta seluruh perangkat teknologi canggihnya hanyalah instrumen untuk membaca kecenderungan (probability), bukan penentu kepastian (certainty). Sebuah rencana hebat yang dirancang hari ini tetaplah sebuah variabel mentah yang bergantung pada ribuan faktor tak terduga pada hari esok, mulai dari gangguan kesehatan yang mendadak, dinamika alam, hingga perubahan skenario kehidupan yang berada di luar kendali logika manusia.
Menganggap data dan perencanaan hari ini sebagai jaminan mutlak untuk hari esok adalah bentuk ilusi kognitif. Akal sehat sejatinya menuntun manusia pada kesadaran akan batas kemampuannya sendiri: bahwa sebaik-baiknya kalkulasi hari ini, hari esok tetaplah sebuah misteri yang belum terjadi.
Kehilangan Keimanan: Larangan Memastikan Hari Esok Tanpa “In Sya Allah”
Di tengah sikap jemawa atas perencanaan pribadi, ada pergeseran halus namun mendasar dalam aspek keimanan. Banyak orang tanpa sadar terjebak dalam gaya bahasa penuh kesombongan saat membicarakan masa depan.
Ucapan seperti “Saya pasti menyelesaikan proyek ini besok” atau “Pasti acara esok berjalan sesuai rencana” kerap meluncur tanpa disertai pengakuan atas kehendak Sang Pencipta. Padahal, Islam secara tegas melarang manusia memastikan apa yang akan dilakukannya esok hari tanpa menyandarkannya pada kehendak Allah (In Sya Allah).
Ketiadaan ungkapan ini bukan sekadar persoalan tata bahasa atau formalitas lisan, melainkan cerminan dari tererosinya ketawakalan dalam hati. Ketika seorang hamba merasa memiliki kendali penuh atas hari esok, ia telah mengabaikan fakta bahwa napas, detak jantung, dan keberlangsungan usahanya sepenuhnya berada di bawah otoritas Ilahi.
Peringatan keras mengenai etika berbicara tentang masa depan ini terekam jelas dalam Al-Quran:
> وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ إلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
:Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Jika Allah menghendaki’.QS. Al-Kahf: 23–24)
Ayat ini hadir sebagai petunjuk etis sekaligus teologis. Mengucapkan In Sya Allah bukan tanda keraguan atau kelemahan perencanaan, melainkan pengakuan jujur seorang hamba yang rendah hati bahwa seluruh ikhtiar manusia pada akhirnya tunduk pada kehendak Allah SWT.
Menganggap Enteng Peringatan Al-Quran
Antara Percaya dan Tidak Peduli.
Sikap paling berbahaya dalam kehidupan beragama bukanlah ketidaktahuan, melainkan sikap acuh tak acuh (apatisme) terhadap peringatan yang sudah diketahui.
Banyak orang membaca Al-Quran, mengetahui ayat-ayat tentang batas kemampuan manusia dan kepastian rahasia gaib, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari tetap bersikap seolah-olah peringatan tersebut tidak berlaku bagi mereka. Fenomena ini menciptakan celah antara “percaya secara lisan” dan “tidak peduli dalam tindakan”.
Peringatan Al-Quran tentang keterbatasan manusia dan misteri hari esok sering kali dianggap angin lalu, tergerus oleh rutinitas kehidupan duniawi yang melalaikan. Manusia cenderung menunda kesadaran hingga datangnya kejutan takdir, baik berupa musibah, kegagalan fatal, maupun kematian, yang merobohkan seluruh kepastian semu yang mereka bangun.
Al-Quran menggambarkan mentalitas orang-orang yang berpaling dan menganggap enteng peringatan Tuhan ini secara tajam:
> وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS. Al-Kahf: 57)
Sikap menganggap enteng peringatan Al-Quran menjadi akar dari keberanian manusia mendahului takdir dan mengklaim kepastian esok hari.
Kesimpulan
Sikap Manusia Modern dan Kebijaksanaan Menghadapi Esok Hari
Manusia modern hidup dalam peradaban yang didewakan oleh data, algoritma, dan teknologi.
Kemajuan ini kerap melahirkan ilusi kontrol, sebuah kondisi psikologis ketika manusia merasa sanggup menguasai dan mengunci masa depan. Akibatnya, muncul pergeseran sikap mental yang mengkhawatirkan: kecongkakan intelektual, erosi rasa tawakal, serta pengabaian terhadap batas-batas kodrat kemanusiaan.
Dari perspektif Al-Quran, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Luqman: 34 serta QS. Al-Kahf, tulisan ini menggarisbawahi beberapa poin krusial terkait realitas sikap manusia zaman kini:
Mencampuradukkan Prediksi dan Kepastian: Manusia modern sering kali gagal membedakan antara kalkulasi probabilitas berbasis data dengan kepastian takdir. Data hanyalah alat pembaca kecenderungan, bukan penentu hasil akhir.
Tercabutnya Etika dan Kenyakinan Tentang Ucapan “In Sya Allah” : Kebiasaan memastikan rencana esok hari tanpa menyandarkannya pada kehendak Ilahi mengindikasikan runtuhnya ketawakalan hati. In Sya Allah kerap dianggap sebatas formalitas lisan, padahal ia merupakan pengakuan jujur atas keterbatasan diri
Apatisme Terhadap Peringatan Spiritual: Tingginya tingkat literasi dan akses informasi tidak otomatis membuat manusia peka. Banyak orang mengetahui ayat-ayat Ilahi, namun memilih tidak peduli dalam tindakan nyata hingga akhirnya kejutan takdir memaksa mereka tunduk.
Sikap ideal manusia modern dalam menatap hari esok bukanlah membuang perencanaan, melainkan memadukan ikhtiar rasional secara maksimal dengan kerendahan hati yang utuh. Sehebat apa pun rencana yang disusun hari ini, keputusan akhir tetap berada di tangan Sang Pemilik Esok Hari.
Allāhu a’lam bi ash-shawāb
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang benar