Penulis : Rasyid Assaf Dongoran
Peminat Sejarah
Pendahuluan
Masa Revolusi Fisik (1946–1949) kerap dicatat dalam buku-buku sejarah sekolah melalui lensa yang serba makro: diplomasi meja bundar di Eropa, pertempuran besar pasukan berseragam di kota-kota utama Jawa, atau intrik politik tingkat tinggi di ibu kota negara. Namun, jika kita mau menengok lebih dalam ke celah-celah perbukitan Bukit Barisan, tepatnya di tanah Sipirok, Tapanuli Selatan, kita akan menemukan sebuah mozaik perjuangan rakyat yang begitu intim, sarat darah, dan penuh dengan kearifan lokal yang otentik.
Ini adalah kisah tentang Aliansi Pedang (Pasukan AGS , Letnan Sahala Muda Pakpahan) dan Tasbih (Pasukan Mujahidin, Syech Ahmad Daud Siregar) , sebuah perpaduan antara taktik militer kepemudaan dan doktrin spiritual keulamaan yang pernah membuat tentara kolonial Belanda (NICA) frustrasi di tanah Angkola.
Taktik ‘Harimau’ di Rimba Parau Sorat
Ketika agresi militer Belanda kembali mengancam kedaulatan Republik yang baru seumur jagung, masyarakat Sipirok tidak menunggu instruksi panjang dari pusat. Atas inisiatif Wedana Sipirok, dibentuklah Angkatan Gerilya Sipirok (AGS). Di puncaknya, komando pertahanan rakyat ini dipercayakan kepada Letnan Sahala Muda Pakpahan, seorang pemuda karismatik berdarah dingin yang saat itu baru berusia 22 tahun.
Sebagai seorang perwira muda dengan pangkat Letnan di dalam struktur ketentaraan resmi Republik, Sahala, yang kelak dijuluki masyarakat sebagai “Harimau dari Tanah Sipirok”, memahami betul bahwa menghadapi pasukan musuh yang unggul dalam persenjataan tidak bisa dilakukan dengan perang terbuka.
Berbekal penguasaan medan dari kawasan Parau Sorat hingga perbukitan Simago-Mago, Letnan Sahala merancang strategi gerilya hit and run yang sangat mematikan. Jalur-jalur logistik Belanda dilumpuhkan, dan patroli musuh kerap dibuat kalang kabut di dalam kelebatan hutan rimba.
Namun, sejarah Letnan Sahala bukan sekadar tentang peluru dan taktik perang. Di balik ketegasannya sebagai komandan, ia adalah pemuda awal 20-an yang memiliki nurani dan cinta. Romantisme masa revolusi menuntutnya mengorbankan kebahagiaan pribadi. Ia menjadikan hutan sebagai rumah demi memastikan orang-orang yang dicintainya tidak hidup sebagai budak di tanah sendiri. Kesetiaan itu dibayar tuntas ketika perwira muda tersebut gugur di medan pertempuran pada usia 23 tahun , meninggalkan warisan abadi tentang arti kepemudaan yang rela berkorban.
Tauhid dan Keteguhan di Bawah Komando Syech Ahmad Daud Siregar
Strategi militer di lapangan tentu membutuhkan bahan bakar moral yang tak kunjung padam. Di sinilah peran vital elemen religius masuk melalui Pasukan Mujahidin. Laskar rakyat ini didirikan dan dipimpin langsung oleh seorang ulama mursyid tarekat terkemuka: Syech Ahmad Daud Siregar , yang dalam memori kolektif masyarakat lokal sangat dihormati dengan julukan Tuan Nabundong.
Lahir dengan nama kecil Binu Siregar, Syech Ahmad Daud Siregar memandang kedatangan kembali penjajah bukan sekadar ancaman politik teritorial, melainkan ancaman eksistensial terhadap akidah dan kemerdekaan umat Islam.
Di bawah komando spiritual dan militernya, perlawanan diubah menjadi panggung jihad fi sabilillah. Sebelum melangkah ke garis depan, para pemuda, santri, dan jemaah tarekat dibekali dengan zikir, keteguhan tauhid, dan semangat pantang menyerah. Pekikan takbir yang membahana di sela-sela pertempuran hutan Sipirok menjadi dentum pembakar semangat yang menyatu dengan letupan senjata
Sinergi Nyata di Lapangan
Kerja Sama AGS dan Pasukan Mujahidin.
Kolaborasi antara Angkatan Gerilya Sipirok (AGS) dan Pasukan Mujahidin bukanlah aliansi di atas kertas semata, melainkan sebuah bentuk integrasi total pertahanan rakyat di medan laga:
– Integrasi Taktik dan Spiritualitas: Letnan Sahala Muda Pakpahan memimpin pergerakan taktis militer , mengatur titik-titik penyergapan, jalur evakuasi, dan pembagian tugas pengintaian. Di saat yang sama, Syech Ahmad Daud Siregar (Tuan Nabundong) memastikan bahwa moral pasukan tidak pernah surut. Sebelum pasukan bergerak melakukan penyerangan malam ke pos-pos musuh, Pasukan Mujahidin memimpin ritual doa bersama, zikir, dan baiat juang, menanamkan keyakinan bahwa setiap peluru yang dimuntahkan bernilai ibadah.
– Logistik dan Jaringan Persembunyian Bersama: Hidup di dalam hutan rimba Bukit Barisan menuntut ketahanan logistik yang tinggi. AGS dan Pasukan Mujahidin saling bahu-membahu mengamankan jalur logistik darurat dari desa-desa simpatisan. Gua-gua tersembunyi di sekitar perbukitan Sipirok digunakan bersama sebagai tempat persembunyian logistik sekaligus pusat perawatan darurat bagi pejuang yang terluka
– Intelijen Berbasis Jaringan Umat: Syech Ahmad Daud Siregar yang memiliki jaringan luas melalui para pengikut tarekat dan santri di berbagai penjuru kampung menjadi simpul intelijen yang sangat berharga bagi AGS. Informasi mengenai pergerakan patroli KNIL/NICA, mata-mata musuh, hingga posisi logistik kolonial kerap disalurkan melalui jaringan keagamaan ini, yang kemudian dieksekusi secara taktis oleh unit komando gerilya Letnan Sahala.
Menghidupkan Kembali Memori Kolektif
Sinergi antara Angkatan Gerilya Sipirok (AGS) dan Pasukan Mujahidin adalah wujud nyata dari sistem Pertahanan Rakyat Semesta yang paling otentik. AGS membawa ketangkasan taktis dan kepemimpinan pemuda yang dinamis di bawah komando seorang perwira berpangkat Letnan, sementara Pasukan Mujahidin menyuplai doktrin moral, jaringan umat, dan mentalitas baja yang tak sanggup digoyahkan oleh propaganda kolonial.
Sayangnya, narasi-narasi kepahlawanan lokal dari Tapanuli Selatan seperti ini kerap terpinggirkan dari panggung sejarah nasional. Padahal, dari keberanian seorang Letnan berusia 23 tahun dan keteguhan seorang Syech di pedalaman Sipirok inilah, pilar-pilar Republik Indonesia berdiri kokoh hingga hari ini.
Mengingat kembali perjuangan Letnan Sahala Muda Pakpahan dan Syech Ahmad Daud Siregar bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini adalah pengingat bagi generasi hari ini bahwa Republik ini tidak didirikan oleh satu kelompok saja, melainkan hasil dari aliansi kebangsaan yang utuh ,tempat di mana pemuda yang memegang senjata di garis depan dan ulama yang menengadahkan tangan memohon pertolongan Tuhan, berdiri sejajar membela tanah air yang sama.
Daftar Pustaka
Nasution, A. Hamid. (1983). Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Tapanuli Selatan. Medan: Pustaka Sidang Bulanan.
Dahlan, Moh. (1991). Perang Gerilya di Tanah Angkola: Catatan dan Kenangan Pelaku Sejarah. Jakarta: Bulan Bintang.
Lubis, Maraimbang. (2004). Lintasan Sejarah Pergerakan Nasional dan Revolusi Fisik di Tapanuli Bagian Selatan. Padangsidimpuan: Pustaka Madina.
Simanjuntak, B. (2008). Laskar Rakyat dan Ulama dalam Arus Revolusi Kemerdekaan di Sumatra Utara. Medan: USU Press.
Tim Peneliti Sejarah Daerah Tapanuli Selatan. (2012). Ensiklopedi Tokoh Pejuang Kemerdekaan di Tapanuli Selatan dan Mandailing. Sipirok: Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Hasibuan, ZE ( 2025): Syekh Ahmad Daud, Sipirok ( 1891-1981): Tuan Nabundong Dan Komandan Pertempuran Palsabolas.






Komentar