SUMUTNEWS.CO, Medan – Dampak lingkungan akibat konflik yang berlangsung hampir tiga tahun kini mulai berbalik menimpa Israel sendiri. Ledakan pertumbuhan alga di Laut Tengah telah mengganggu sebagian besar fasilitas desalinasi air Israel, memicu ancaman krisis air bersih bagi warga negaranya.
Para ilmuwan menunjuk aliran limbah tak terolah dari Jalur Gaza sebagai salah satu pemicu utamanya.
Asosiasi Lingkungan Israel, Zalul, menegaskan pencemaran tidak mengenal batas wilayah politik. “Pembuangan limbah tanpa pengolahan dari Jalur Gaza ke laut berkontribusi terhadap memburuknya krisis yang kini menyumbat sistem penyaring fasilitas desalinasi Israel,” ungkap pernyataan mereka, dikutip dari The Guardian.
Pertumbuhan mikroalga yang membentang hingga 100 kilometer di pesisir selatan Mediterania menyumbat penyaring di lima dari enam fasilitas desalinasi utama Israel. Kelima fasilitas itu sempat berhenti beroperasi dan hingga kini belum berjalan pada kapasitas penuh.
Otoritas Israel kini mendesak warga menghemat air, membatasi pasokan di wilayah selatan, dan meminta petani menunda irigasi. Langkah yang diperkirakan akan mendorong kenaikan harga pangan.
Krisis ini bermula dari hancurnya infrastruktur air dan sanitasi di Gaza. Data dari Médecins Sans Frontières (MSF) mencatat sekitar 90% infrastruktur air dan sanitasi di Gaza telah hancur sejak 7 Oktober 2023.
Seluruh lima fasilitas pengolahan air limbah tak lagi berfungsi, sehingga rata-rata 45.000 meter kubik limbah mentah mengalir ke laut setiap hari, ditambah 15.000 meter kubik lainnya meresap mencemari air tanah.
“Air limbah mengandung nitrogen dan fosfor yang menjadi makanan alga. Ini yang memicu ledakan pertumbuhannya hingga menyebar ke pesisir Israel,” jelas Jack Gilron, pakar desalinasi dari Universitas Ben-Gurion dilansir dari CNBC, Sabtu (26/9/2026).
Sementara di dalam Gaza sendiri, krisis jauh lebih parah. Sekitar 90% sumber air tidak lagi layak konsumsi. Warga bergantung pada truk tangki air, sementara penyakit akibat air kotor merebak.
Diperparah ledakan populasi tikus yang berkembang pesat di tumpukan sampah dan limbah di kawasan pengungsian, masalah yang kini juga mulai dirasakan warga Israel di kawasan perbatasan.
Pat Griffiths, juru bicara ICRC di Gaza, memperingatkan: “Warga hidup dikelilingi air limbah. Situasi ini bisa makin buruk saat musim dingin tiba.”
Zalul menutup dengan peringatan keras, “Ketika lingkungan laut tercemar, manusia dan alam sama-sama menderita, tanpa pandang batas perbatasan.” (SN/CNBC)