SUMUTNEWS.CO, Moskow – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina tenggara kembali menjadi sasaran penyerangan pada Senin dini hari (5/10/2026).
Pihak Rusia mengklaim dua fasilitas di dalam kompleks PLTN yang berada di bawah pendudukan pasukannya tersebut dihantam serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina hingga menyebabkan satu orang tewas.
Direktur Jenderal Rosatom, Alexei Likhachev, menyatakan bahwa sasaran serangan meliputi bangunan laboratorium serta fasilitas pemrosesan limbah radioaktif.
Korban tewas diidentifikasi sebagai seorang pengemudi yang sedang mengantarkan pasokan makanan untuk para pekerja di kompleks PLTN.
Kendati demikian, Likhachev memastikan insiden ini tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap keselamatan radiasi nuklir.
Hingga saat ini, pemerintah Ukraina belum memberikan tanggapan atau konfirmasi resmi mengenai tuduhan penyerangan tersebut.
Kondisi Pasokan Listrik Kritis
Insiden ini memperburuk kerentanan sistem kelistrikan di PLTN terbesar di Eropa tersebut. Beberapa hari sebelum serangan terjadi, manajemen fasilitas melaporkan bahwa jaringan pasokan listrik eksternal mengalami kerusakan akibat rentetan penembakan.
Akibatnya, proses pendinginan bahan bakar di enam reaktor terpaksa bergantung sepenuhnya pada generator diesel darurat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuding negara-negara Barat turut memberi ruang bagi Ukraina untuk mengeskalasi serangan.
Ia menilai ketiadaan kecaman terbuka dari komunitas internasional di forum global sama saja dengan memfasilitasi tindakan militer yang membahayakan obyek vital tersebut.
Pengawasan Internasional
Kompleks PLTN Zaporizhzhia berada di bawah kendali militer Rusia sejak pekan-pekan awal invasi pada Februari 2022.
Sepanjang konflik berlangsung, Moskow dan Kyiv berulang kali saling tuduh melakukan aksi militer yang mengancam keselamatan nuklir.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) secara konsisten menempatkan tim pemantau permanen di lokasi untuk mengawasi keselamatan radiasi, memantau kondisi fisik reaktor, serta memfasilitasi negosiasi gencatan senjata lokal setiap kali perbaikan jaringan listrik utama perlu dilakukan. (SN17)