Tanda Akan Berakhir Kehidupan: Isyarat An-Nadhir dalam Surah Fatir Ayat 37

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran

Kematian sering kali dipandang sebagai peristiwa berjarak, sesuatu yang seolah-olah hanya menanti orang lain di tempat lain.

Padahal, bagi setiap jiwa yang bernapas, batas antara kehidupan dan kepunahan raga sejatinya amat tipis. Islam tidak memandang kematian sebagai rentetan peristiwa acak tanpa penanda.

Sebaliknya, melalui Kitab Suci dan petunjuk kenabian, manusia dianugerahi serangkaian isyarat alami agar tidak terperanjat ketika masa pengabdian di bumi berakhir.

Landasan refleksi ini terekam amat dalam pada Surah Fatir ayat 37. Ayat ini menggambarkan kepanikan penghuni neraka yang memohon untuk dikembalikan ke dunia demi memperbaiki perbuatan mereka. Namun, penyesalan itu datang terlambat karena Allah Azza Wa Jalla telah menganugerahkan umur yang cukup beserta hadirnya an-nadhir atau pemberi peringatan.

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

Wa hum yashtharikhuuna fiihaa rabbanaa akhrijnaa na’mal shaalihan ghairalladzii kunnaa na’mal, a walam nu’ammirkum maa yatadzakkaru fiihi man tadzakkara wa jaa’-akumu an-nadhiir, fa dzuuquu fa maa lizh-zhaalimiina min nashiiir.

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan kebajikan yang berbeda dengan apa yang telah kami kerjakan dahulu.’ (Allah menjawab), ‘Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan sungguh telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan bagi orang-orang yang zalim tidak ada seorang penolong pun.'”

Secara kontekstual, kata an-nadhir dalam ayat tersebut ditafsirkan para mufasir ulung seperti Ibnu Abbas dan Imam Al-Qurtubi tidak hanya sebagai sesosok utusan, melainkan juga pertanda fisik, biologis, dan sosial yang secara perlahan menggerogoti usia manusia.

Peringatan Rentang Usia

Sinyal paling mendasar yang paling sering diabaikan adalah perjalanan waktu itu sendiri. Kalimat a-walam nu‘ammirkum mā yatadzakkaru fīhi man tadzakkar, bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir, merupakan bentuk teguran atas pemberian kesempatan hidup.

Ketika manusia melintasi dekade demi dekade, kesempatan untuk belajar, bertobat, dan menata arah hidup sebenarnya telah diberikan secara berlimpah.

Prinsip usia sebagai batas peringatan ini sejalan dengan penegasan dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15:

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ

Hatta idza balagha asyuddahu wa balagha arba’ina sanatan qala rabbi awzi’ni an asykura ni’matakal-lati an’amta ‘alayy…

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku…'”

Memasuki usia empat puluh hingga enam puluh tahun adalah masa di mana uzur manusia makin menipis.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggarisbawahi batas usia ini dalam hadis shahih riwayat Bukhari nomor 6419 dari Abu Hurairah:

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

A’dzarallahu ilamri-in akhkhara ajalahu hatta ballaghabu sittina sanah.

“Allah telah memberikan uzur bagi seseorang yang diakhirkan ajalnya hingga Dia memperpanjang umurnya sampai 60 tahun.”

Munculnya Rambut Uban

Ketika rambut hitam mulai diselingi helai-helai putih, manusia sering kali meresponsnya dengan kepanikan estetika. Padahal, dalam tafsir dan ilmu medis, uban adalah manifested an-nadhir paling personal yang menandai babak akhir kekuatan fisik.

Para ulama tafsir secara spesifik merumuskan kriteria kapan uban sah dikategorikan sebagai an-nadhir:

– Tafsir Ibnu Abbas dan Ikrimah

Menafsirkan frasa an-nadhir secara langsung sebagai tumbuhnya uban. Kriterianya terpenuhi saat perubahan warna rambut terjadi secara menetap di usia dewasa, menjadi utusan tak bersuara yang mengabarkan bahwa masa muda telah berakhir dan tidak akan kembali.

– Imam Al-Qurtubi (Al-Tadhkirah dan Tafsir Al-Jami’)

Baca juga:  Dada Terasa Sempit Ketika Bergantung Pada Manusia dan Dirinya sendiri: Ini Petunjuk Obatnya.

Menjelaskan bahwa uban memenuhi kriteria peringatan apabila kedatangannya mengubah penampilan dominan seseorang, menandakan hilangnya kebugaran muda dan terbukanya pintu menuju kemunduran raga.

– Ibnu Rajab Al-Hanbali dan Al-Mawardi

Mengaitkan uban dengan ayat washta’alar-ra’su syaiba. Penggunaan kata isyti’al (merebak atau menyala) menunjukkan kriteria bahwa uban bukan lagi sekadar satu atau dua helai akibat faktor kebetulan, melainkan telah menyebar sebagai penanda bahwa uzur atau alasan manusia di hadapan Allah SWT sudah makin habis.

Dari sudut pandang medis, baik kedokteran klasik Ibnu Sina maupun sains modern, uban (canities) memiliki indikator biologis yang sejajar dengan pandangan ulama:

– Penurunan Fungsi Melanosit dan Stres Oksidatif

Secara medis, uban menandai matinya sel-sel pembentuk pigmen (melanosit) di folikel rambut akibat akumulasi stres oksidatif dan penurunan produksi enzim katalase.

– Penanda Senesensi Seluler (Penuaan Biologis)

Uban memenuhi kriteria sebagai penanda penuaan sistemik jika kemunculannya di usia 30–40 tahun ke atas beriringan dengan penurunan taraf regenerasi sel tubuh, penyusutan massa otot, serta melambatnya metabolisme.

Dalam perspektif medis, fenomena ini adalah sinyal bahwa tubuh sedang memasuki fase degradasi biologis yang tak dapat diputar balik.

Penggambaran uban sebagai simbol kelemahan raga diabadikan dalam kisah Nabi Zakaria pada Surah Maryam ayat 4:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

Qala rabbi inni wahanal-‘adzmu minni wasyta’alar-ra’su syaiba…

“Dia (Zakaria) berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepala telah ditumbuhi uban…'”

Uban bukanlah cela, melainkan penanda suci agar manusia sadar akan pengikisan stamina.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang umatnya mencabut uban, sebagaimana tertera dalam riwayat Tirmidzi nomor 1634 dari Amr bin Syu’aib:

لاَ تَنْتِفُوا الشَّيْبَ فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ

La tantifusy-syaiba fa-innahu nurul-muslim.

“Janganlah kalian mencabut uban, karena sesungguhnya uban itu adalah cahaya bagi seorang muslim pada hari kiamat.”

Penurunan Fungsi Tubuh

Selain uban, melemahnya pendengaran, meredupnya pandangan, hingga hilangnya daya tahan fisik adalah bentuk penegasan dari frasa wa ja’akumu an-nadhir.

Tubuh manusia dirancang untuk mengalami degradasi alami. Kelemahan fisik ini bekerja sebagai rem biologis agar manusia mengurangi ambisi keduniaan yang tak ada habisnya.

Dalam wacana kedokteran Islam klasik, Ibnu Sina (Avicenna) dalam karyanya Al-Qanun fi at-Tibb dan Ibnu Al-Qayyim Al-Jawziyya secara rinci mengulas gangguan pada organ-organ krusial (al-a’dha’ al-ra’isiyyah) sebagai tanda penuaan medis dan kemunduran fisik:

– Jantung (Al-Qalb)

Melemahnya daya pendorong dan kekuatan denyut jantung sebagai pusat distribusi daya hidup (al-quwwah al-hayawiyyah), ditandai dengan ketidakstabilan denyut nadi serta mendinginnya suhu di area ekstremitas tubuh (tangan dan kaki).

– Hati (Al-Kabad)

Merosotnya fungsi metabolisme dan filtrasi racun tubuh, yang mengakibatkan perubahan warna kulit, wajah memucat, serta penumpukan cairan dalam jaringan tubuh.

– Otak (Ad-Dimagh)

Menurunnya kesadaran, pelemahan fungsi daya nalar, daya ingat, serta daya tangkap indrawi yang menandakan penurunan fungsi kontrol saraf pusat.

– Paru-Paru (Ar-Ri’ah)

Tidak optimalnya proses pertukaran udara dan pernapasan yang menjadi makin dangkal dan berat, sehingga pasokan udara segar bagi organ-organ dalam makin berkurang.

– Ginjal (Al-Kulyatain)

Penurunan fungsi pembuangan limbah cair tubuh yang berdampak pada ketidakseimbangan cairan tubuh serta merosotnya kebugaran fisik secara drastis.

– Sistem Pencernaan (Al-Ma’idah)

Kegagalan organ lambung dan usus dalam mengolah serta menyerap nutrisi makanan secara efektif, ditandai dengan hilangnya nafsu makan dan kemerosotan massa tubuh.

Al-Qur’an menggambarkan fase pembalikan kondisi fisik ini dalam Surah Yasin ayat 68:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

Wa man nu’ammirhu nunakkishu fil-khalqi afala ya’qilun.

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya) (kembali lemah). Maka apakah mereka tidak memikirkan?”

Pembalikan kondisi ini menuntut kesadaran untuk memperhitungkan waktu. Dalam hadis shahih riwayat Al-Hakim nomor 7846, Rasulullah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan pentingnya memanfaatkan momentum sebelum daya fisik merosot:

Baca juga:  ENAM DEKADE PT.ALS DAN MERAWAT MEMORI PAHLAWAN ASPAL

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Ightanim khamsan qabla khams: syababaka qabla haramika, wa sihhataka qabla saqamika, wa ghinaka qabla faqrika, wa faraghaka qabla syughlika, wa hayataka qabla mawtika.

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

Wafatnya Orang Terdekat

Peringatan kematian tidak hanya bertengger pada raga sendiri, melainkan juga terpancar dari realitas di sekeliling kita. Berita duka tentang berpulangnya teman sebaya, kerabat, atau tokoh sejaman adalah alarm keras bahwa daftar antrean kepulangan makin pendek.

Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa wafatnya orang-orang terdekat adalah pertanda nyata bahwa giliran kita tinggal menunggu waktu.

Kenyataan bahwa kematian tidak dapat dihindari ditegaskan dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 8:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Qul innal-mawtalladzi tafirruna minhu fa-innahu mulaqikum thumma turadduna ila ‘alimil-ghaibi wasy-syahadah…

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata…'”

Melihat kawan se-angkatan mendahului kita seharusnya melahirkan kecerdasan spiritual. Ketika ditanya mengenai sosok mukmin yang paling cerdas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan jawaban tajam sebagaimana tertuang dalam HR Ibnu Majah nomor 4259:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Aktsaruhum lil-mawti dzikran wa ahsanuhum lima ba’dahu sti’dadan ula’ikal-akyas.

“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi apa yang setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

Al-Qur’an dan Risalah Nabi

Penafsiran paling mendasar dan utama dari frasa wa ja’akumu an-nadhir menurut Ibnu Katsir dan At-Thabari adalah diutusnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta diturunkannya Al-Qur’an. Kehadiran risalah Islam adalah peringatan terbesar bagi peradaban manusia bahwa akhir zaman telah didepan mata dan kiamat kecil berupa kematian raga dapat datang sewaktu-waktu.

Kedudukan Al-Qur’an sebagai pemberi peringatan dinyatakan secara eksplisit dalam Surah Al-Furqan ayat 1:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Tabarakalladzi nazzalal-furqana ‘ala ‘abdihi liyakuna lil-‘alamina nadzira.

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

Sejak Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus, jarak antara kehidupan manusia dan kepunahan zaman sesungguhnya amat dekat. Beliau mengisyaratkannya dalam hadis shahih riwayat Bukhari nomor 6503 dan Muslim nomor 2950:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ

Bu’ith-tu ana was-sa’atu kahatain.

“Jarak antara pengutusanku dan kedatangan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (seraya mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah).”

Persiapan di Tengah Kesibukan Dunia

Menangkap sinyal an-nadhir di tengah gemuruh kesibukan zaman modern kerap menjadi tantangan tersendiri.

Dunia hari ini bergerak serbacepat, menuntut manusia terus berlari mengejar pencapaian, menimbun materi, dan memelihara gengsi sosial. Dalam riuh rendah kesibukan dan godaan dunia, kesadaran akan batas usia sering kali tergeser menjadi prioritas sekunder, dianggap sebagai gangguan atas produktivitas atau direspons sekadar dengan upaya estetis melawan penuaan.

Padahal, ketika uban mulai tumbuh dan fisik perlahan surut, persiapan kepulangan tidak lagi bisa ditunda. Langkah pertama yang sangat penting adalah meluruskan orientasi hidup, mengubah persepsi raga dari seorang yang hendak menetap selamanya menjadi seorang pengembara yang sadar akan keterbatasan masa persinggahan.

Kehidupan dunia perlu didudukkan kembali pada porsinya yang wajar, bukan sebagai sarana pemuasan ambisi tanpa batas, melainkan sebagai ladang untuk menanam kebaikan sebelum waktu habis.

Al-Qur’an secara tegas memberikan peringatan keras agar kesibukan mengumpulkan harta benda serta urusan keluarga tidak sampai membius kesadaran spiritual manusia. Teguran ini terekam dengan amat lugas dalam Surah Al-Munafiqun ayat 9:

Baca juga:  Hujan dalam Timbangan Sains dan Wahyu: Antara Rahmat, Peringatan, dan Doa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Ya ayyuhalladzina amanu la tulhikum amwalukum wa la awladukum ‘an dzikrillah, wa man yaf’al dzalika fa ula’ika humul-khasirun.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa melakukan demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Peringatan ayat ini menuntut pergeseran sikap yang konkret. Di tengah kesibukan profesional dan godaan materi, persiapan terbaik bukanlah dengan mengisolasi diri dari realitas kehidupan, melainkan dengan mengubah watak kepemilikan. Harta dan kesempatan yang ada di tangan bertransformasi dari sekadar aset duniawi menjadi investasi akhirat melalui zakat, sedekah, dan penyelesaian kewajiban sesama manusia.

Bersiap-siap untuk kepulangan pada Ilahi berarti segera menuntaskan
– Perubahan Mental tanggungan moral dan ibadah

– Segera melunasi utang piutang yang berlum dibayarkan ataupun lupa dibayar.

– Memohon maaf atas kezaliman masa lalu

– Memperbanyak bertobat tanpa menunggu waktu luang.

Kesadaran akan status diri sebagai persinggahan sementara ini pernah diwasiatkan secara ringkas namun mendalam oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana diriwayatkan dalam HR Bukhari nomor 6416:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Kun fid-dunya ka’annaka gharibun aw ‘abiru sabil.

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau seorang pengembara.”

Sikap sebagai pengembara melatih jiwa untuk tidak tertambat terlalu erat pada kemewahan yang fana. Setiap kali sinyal kelemahan fisik dirasakan di tengah kesibukan harian, ia menjadi pengingat untuk segera mengemas bekal.

Mempersiapkan kepulangan pada-Nya berarti menjaga keistiqamahan ibadah rutin, memperbanyak zikir di sela padatnya aktivitas, serta memastikan bahwa setiap rupiah dan setiap detik waktu yang dihabiskan berada dalam kerangka keridaan Illahi.

Refleksi Kematian

Membaca sinyal an-nadhir dalam Surah Fatir ayat 37 pada akhirnya mengajarkan kita untuk tidak dibutakan oleh rutinitas duniawi. Bertambahnya usia, tumbuhnya uban, memudarnya kekuatan fisik, berpulangnya teman sebaya, serta dentang peringatan yang digaungkan Al-Qur’an bukanlah instrumen untuk menakut-nakuti.

Semua itu adalah bentuk kasih sayang Sang Pencipta agar hamba-Nya tidak mengakhiri perjalanan dalam keadaan bangkrut spiritual.

Meskipun isyarat penuaan dapat dirasakan oleh fisik manusia, ketetapan pasti mengenai waktu (ajal) dan tempat berpulangnya anak Adam merupakan rahasia gaib yang hanya diketahui oleh Allah Azza Wa Jalla

Manusia hanya dianugerahi sinyal peringatan, tetapi kapan persisnya detik kepulangan tiba dan di tanah mana jasad akan dibaringkan tetap menjadi rahasia mutlak Sang Pencipta. Kepastian rahasia ini ditegaskan dalam Surah Luqman ayat 34:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wa maa tadrii nafsun maatsa taksibu ghadan wa maa tadrii nafsun bi-ayyi ardhin tamuut, innallaaha ‘aliimun khabiir.

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”

Misteri tempat dan waktu kematian ini menuntut kesiapsiagaan jiwa tanpa henti. Kematian adalah kepastian yang tak terelakkan, dan kesiapan menyambutnya kapan pun serta di mana pun berada adalah keputusan penting yang harus diambil sebelum senja benar-benar tenggelam.

Wallahu a’lam bishawab

Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya

Berita Terbaru

Jembatan Merah Putih Presisi, Polres Tapsel dan Warga Situmbaga Bangun Konektivitas & Kebersamaan

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan - Jembatan gantung yang menjadi urat...

Hasil Panen Melimpah Tapi Jalan Terbatas — Tantangan Besar Pertanian Madina di 2026

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal - Sektor pertanian tetap menjadi penopang utama...

Dari Energi Air ke Pasar Dunia, INALUM Perkenalkan Low Carbon Aluminium Indonesia

JAKARTA, SUMUTNEWS.CO - PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau...

Kemarin Malam, Serangan Udara Israel Hantam Bus Penumpang di Gaza, 5 Warga Sipil Tewas

SUMUTNEWS.CO, Gaza City — Serangan udara militer Israel menghantam...

Berita Terkait