SUMUTNEWS.CO, Washington – Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah mengunggah serangkaian pernyataan dalam bahasa Inggris bernada diskriminatif terhadap komunitas imigran Somalia dan warga Muslim di Amerika Serikat melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.
Dalam unggahan berbahasa Inggris pada Kamis (8/10/2026) tersebut, Trump mengklaim bahwa Negara Bagian Minnesota telah diambil alih oleh imigran asal Somalia.
Ia menuding terjadi peningkatan kekerasan dan kejahatan di wilayah tersebut, serta menyerukan warga setempat untuk melawan dan mendesak adanya intervensi dari pemerintah federal.
Selain menyasar komunitas Somalia, Trump menyerang kandidat Senat AS dari Partai Demokrat di Michigan yang beragama Islam, Abdul El-Sayed.
Dalam unggahannya di media sosial tersebut, Trump melabeli El-Sayed sebagai ekstremis radikal dan simpatisan teroris, seraya mengajak pemilih untuk mendukung pesaingnya dari Partai Republik, Mike Rogers.
Memanfaatkan Skandal Penipuan
Dalam narasi politiknya, Trump kembali mengungkit kasus penipuan dana bantuan nutrisi anak senilai jutaan dolar di Minnesota pada 2020.
Meski dalang utama skandal tersebut adalah Aimee Bock, warga non-Somalia yang telah divonis 41 tahun penjara, Trump menggunakan keterlibatan beberapa terdakwa keturunan Somalia untuk menyerang komunitas tersebut secara keseluruhan.
Kelompok hak asasi manusia menilai Trump memanfaatkan kasus terisolasi ini sebagai pembenaran untuk memperketat kebijakan deportasi imigran serta memangkas anggaran program bantuan sosial, termasuk Medicare dan layanan perawatan anak di Minnesota.
Gelombang Kecaman
Pernyataan Trump di platform Truth Social tersebut memicu tanggapan keras dari sejumlah pejabat dan tokoh politik.
Jaksa Agung Minnesota Keith Ellison menegaskan bahwa warga Somalia-Amerika adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat setempat.
Ia menilai tuduhan Trump didasari oleh prasangka yang tidak mencerminkan nilai-nilai warga Minnesota.
Abdul El-Sayed juga menanggapi serangan tersebut sebagai taktik pengalihan isu menjelang Pemilu Sela pada November mendatang.
Menurut El-Sayed, Trump sengaja memanfaatkan identitas agama untuk mengalihkan perhatian publik dari dampak kebijakan ekonomi yang memberatkan warga, seperti kenaikan harga bahan bakar, bahan pokok, dan biaya kesehatan.
Pemimpin Senator Demokrat Chuck Schumer bersama pengurus Partai Demokrat di Michigan turut mengecam retorika tersebut dan menyebut langkah Trump sebagai tindakan rasis serta wujud keputusasaan politik. (SN17)