SumutNews.co— Respons keras Arab Saudi tak butuh waktu lama. Sehari pascainsiden maut di Bandara Riyadh, Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman langsung meluncurkan operasi udara berskala masif pada Jumat, 9 Oktober 2026, untuk melumpuhkan kapasitas militer milisi Houthi sekaligus menegaskan kedaulatan regional di panggung internasional.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, melaporkan bahwa sebanyak 136 target militer di wilayah yang dikuasai Houthi berhasil dihancurkan dalam operasi udara tersebut. Dalam pernyataannya, Al-Maliki menegaskan komitmen koalisi:
” Kami sedang bekerja untuk membongkar dan menghancurkan jaringan rudal balistik milisi teroris Houthi.”
Ia menambahkan bahwa pasukan koalisi juga sukses melumpuhkan aset strategis musuh di lapangan:
” Kami telah menghancurkan 3 platform peluncur roket yang digunakan oleh milisi Houthi untuk mengancam keamanan regional, dan serangan terhadap warga sipil serta fasilitas sipil akan ditanggapi dengan ketegasan.”
Operasi militer berskala besar ini berjalan linear dengan pertempuran sengit di pesisir barat Laut Merah. Pasukan pemerintah Yaman dilaporkan berhasil merebut kendali penuh atas wilayah strategis Bab Al-Mandab dan Pulau Mayun setelah mendesak mundur milisi Houthi dari basis-basis pertahanan mereka.
Kekuatan Koalisi Lintas Negara
Berdasarkan laporan resmi yang disampaikan oleh Juru Bicara Koalisi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, pada Jumat, 9 Oktober 2026, operasi militer lintas batas ini digerakkan oleh aliansi multinasional di bawah kepemimpinan Arab Saudi untuk melumpuhkan target militer strategis.
Berdasarkan catatan pertahanan kawasan, berikut rincian kekuatan utama dari negara-negara anggota koalisi:
Arab Saudi (Pemimpin Koalisi)
Kekuatan Udara: Tulang punggung operasi dengan mengerahkan lebih dari 100+ pesawat tempur aktif, termasuk armada modern seperti F-15SA, Eurofighter Typhoon, dan Tornado.
Kekuatan Darat & Pertahanan: Melibatkan puluhan ribu personel pasukan darat, artileri berat, serta sistem pertahanan udara strategis (baterai Patriot) untuk melindungi wilayah kedaulatan.
Uni Emirat Arab (UEA)
Kekuatan Udara: Mengerahkan puluhan jet tempur taktis, termasuk F-16 Block 60 dan Mirage 2000 untuk misi pengeboman presisi dan penguasaan udara.
Kekuatan Darat: Mengerahkan ribuan personel pasukan khusus dan infanteri mekanis yang pernah memimpin operasi darat strategis di wilayah selatan dan pesisir Yaman, serta kini berfokus pada dukungan taktis
Sudan
Kekuatan Darat: Merupakan salah satu penyedia kontingen pasukan darat terbesar dalam aliansi koalisi, dengan ribuan personel infanteri yang ditempatkan di zona penyangga dan garis depan perbatasan.
Yordania & Bahrain
Kekuatan Udara: Berkontribusi lewat pengerahan skuadron jet tempur taktis (F-16) guna memperkuat superioritas udara dan misi pengintaian taktis.
Mesir & Kuwait
Mesir: Fokus pada pengamanan maritim strategis melalui pengerahan armada angkatan laut untuk mengamankan jalur pelayaran vital di Laut Merah, Terusan Suez, dan Selat Bab Al-Mandab.
Kuwait: Menyediakan dukungan logistik intensif, fasilitas medis darurat, serta pusat komando dan intelijen.
Garis Merah di Dewan Keamanan PBB
Geliat konflik militer ini dengan cepat merembet ke panggung diplomasi internasional pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB, Wakil Tetap Arab Saudi untuk PBB, Abdulaziz Alwasil, menarik garis merah yang tegas atas kedaulatan negaranya menyusul rentetan teror ke wilayah Kerajaan.
Di hadapan dewan, Alwasil melontarkan peringatan keras:
” Kerajaan menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Yaman dijadikan sebagai batu loncatan bagi ancaman terhadap keamanannya atau terhadap kebebasan navigasi di Laut Merah dan Selat Bab Al-Mandab.”
Alwasil menegaskan hak mutlak Kerajaan untuk membela wilayah teritorial dan keselamatan warganya, seraya menuding milisi Houthi terus menutup pintu dialog demi melanggengkan aksi militer yang mengancam rantai pasok energi global dan jalur pelayaran internasional. (SN17)