Perang Yaman Hancurkan Ratusan Situs Bersejarah, Ribuan Artefak Kuno Dijual Gelap

SumutNews.co, Sanaa — Konflik bersenjata yang terus berkecamuk di Yaman mengancam keberadaan ratusan situs bersejarah dan memicu maraknya perdagangan gelap artefak kuno. Para ahli memperingatkan bahwa gempuran militer milisi Houthi berisiko mempercepat pemusnahan warisan budaya peradaban Arab kuno.

Berdasarkan data Kementerian Kebudayaan Yaman di Sanaa, sebanyak 477 dari 2.318 situs arkeologi yang terdaftar telah mengalami kerusakan parah hingga hancur total sejak perang pecah pada 2014. Laporan tersebut mencatat setidaknya ada 775 insiden pengerusakan pada situs-situs bersejarah selama kurun waktu tersebut.

Baca juga:  Desak Israel Hentikan Permukiman di Tepi Barat, Tiongkok: Masalah Palestina Ketidakadilan Sejarah Terbesar

Tak hanya situs purbakala, museum-museum di Yaman turut menjadi sasaran empuk. Dari 22 museum yang ada di Yaman, 12 di antaranya hancur atau dijarah. Salah satunya adalah Museum Regional Dhamar yang kehilangan sekitar 12.500 artefak akibat hancur diterjang konflik.

“Perang telah melemahkan lembaga-lembaga negara, memecah otoritas, dan merusak perlindungan situs arkeologi serta museum,” ujar Saleh Al-Baydani, Presiden Pusat Riset Anaween di Aden.

Kondisi ini, kata Al-Baydani, menciptakan celah bagi jaringan kejahatan lintas negara untuk menyelundupkan artefak Yaman ke rumah-rumah lelang dan kolektor pribadi di luar negeri.

Baca juga:  Menlu Arab Saudi dan Iran Bahas Eskalasi Pasca Serangan Mematikan di Bandara Internasional King Khalid serta Bandara King Fahd

Otoritas purbakala Yaman mengestimasi sedikitnya 8.000 hingga 14.000 artefak telah diselundupkan secara ilegal keluar dari negara itu. PBB dalam laporan panel ahlinya pada 2024 juga menginvestigasi indikasi keterlibatan kelompok Houthi dalam memfasilitasi jaringan penyelundupan demi mendanai aktivitas perang mereka.Selain ancaman perang fisik, pakar menilai ada sentimen ideologis yang mengancam peninggalan peradaban Yaman.

Doktrin pendiri milisi Houthi cenderung menolak narasi sejarah pra-Islam, seperti peninggalan Kerajaan Saba dan Himyar, yang dinilai tidak sejalan dengan garis pandangan mereka.

Baca juga:  Laporan PBB: Lebih dari 1.000 Warga Gaza Tewas dalam Setahun Gencatan Senjata, "Garis Kuning" Dianggap Zona Pembunuhan

Perwakilan Tetap Yaman untuk UNESCO, Mohammed Jumeh, mendesak komunitas internasional untuk memperketat uji tuntas (due diligence) pada dokumen asal-usul artefak yang diperjualbelikan di pasar lelang internasional. Ia menegaskan bahwa setiap barang antik yang terbukti diselundupkan secara ilegal harus segera ditarik dari pasaran dan dikembalikan ke Yaman. (SN17)

Berita Terbaru

Wabup Madina Apresiasi Polisi dan BNNK Gagalkan Peredaran Narkoba, Minta Operasi Vape

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal - Wakil Bupati (Wabup) Mandailing Natal (Madina)...

Sekjen PBB Kunjungi Indonesia, Beri Penghormatan Khusus untuk Prajurit TNI yang Gugur Sepanjang Sejarah

SUMUTNEWS.CO,  Jakarta — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António...

Trump Bebaskan Sanksi dan Tarif Rusia Jelang Pemberlakuan Undang-Undang Baru

Sumutnews.co, Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak...

Sekjen PBB Antonio Guterres Mulai Kunjungan Resmi ke Indonesia, Bahas Kerja Sama Multilateral dan Misi Perdamaian

SUMUTNEWS.CO, Jakarta — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres,...

Bersejarah, Raja-Raja Luat Hadiri Paripurna HUT ke-25 Padangsidimpuan, Minta Perda Adat Segera Disahkan

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Momen bersejarah tercipta dalam Sidang Paripurna DPRD...

Berita Terkait