SUMUTNEWS.CO, Medan — Situasi di Tepi Barat yang diduduki semakin mengkhawatirkan. Data resmi Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok Palestina mencatat 30 warga Palestina telah tewas akibat serangan pasukan maupun pemukim Israel sejak awal 2026 hingga 2 Oktober.
Angka ini telah melampaui jumlah korban dalam setiap tahun sejak 2022 dan lebih dari dua kali lipat dibandingkan total sepanjang 2025. Komisi menyebut ini sebagai “eskalasi berbahaya.”
Korban tewas terbanyak tercatat di Ramallah dan Al-Bireh (15 orang), diikuti Nablus (7 orang), menyumbang sekitar 73 persen dari total korban. Sisanya tersebar di Hebron, Yerusalem, Salfit, dan Qalqilya.

Dikutip dari WAFA, sepanjang September 2026 saja tercatat 2.051 serangan di Tepi Barat. Dari jumlah itu, 647 serangan dilakukan pemukim dan menewaskan tiga warga.
Sejak awal tahun, pemukim telah melakukan 5.561 serangan terhadap warga, tanah, dan properti Palestina.
Kerusakan lingkungan dan pertanian juga sangat besar, yakni 14.600 pohon rusak sepanjang September, termasuk 9.334 pohon zaitun
Kemudian, 254 bangunan dirubuhkan, termasuk 89 rumah yang dihuni, berdampak pada 320 warga (164 anak-anak dan 64 perempuan)
Selanjutnya, 21 pos pemukiman baru berusaha didirikan, di antaranya 16 rencana pembangunan disetujui mencakup 3.821 unit permukiman dan sekitar 6.635 dunam lahan telah disita sejak awal 2026.
Kekerasan semakin meningkat bertepatan dengan musim panen zaitun. Pemukim berulang kali menghalangi petani menuju ladang mereka, seperti yang terjadi di Wadi Abu Tbeikh, selatan Desa Baqa al-Hatab, di mana petani dipaksa meninggalkan lahannya.

Nah, pada Juni 2026, 14 Pelapor Khusus PBB memperingatkan lonjakan tajam kekerasan pemukim yang mengancam keberlangsungan komunitas Palestina di wilayah tersebut.
Dengan sekitar 750.000 pemukim Israel yang kini tinggal di ratusan permukiman ilegal di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut terus meningkat. (SN/WF)